22 May 2007

TERKEJUT DAN FUNGSINYA PADA MASYARAKAT KARO

Oleh : Yulianus Liem Beng


Seseorang yang mempunyai penyakit hipertensi dan jantung biasanya menghindari keadaan terkejut, baik terkejut datangnya dari suara yang keras secara tiba-tiba maupun berita-berita yang dapat menimbulkan detak jantungnya berpacu tak menentu, karena hal itu bisa membawa dampak yang kurang menguntungkan bagi keberadaan jiwanya. Tetapi bagi satu kelompok masyarakat di Sumatera Utara, yaitu suku bangsa Karo keadaan 'terkejut' malah mempunyai fungsi yang besar sekali hubungannya dengan prokreasi (melanjutkan keuturunan). Keadaan terkejut sengaja diciptakan untuk menghasilkan sebuah proses yang dipercayai dapat membawa dampak yang baik bagi pasangan suami istri (pasutri) yang belum memperoleh keturunan (baca : belum punya anak), maupun bagi sebuah keluarga yang belum mempunyai anak yang berjenis kelamin laki-laki.

Mendapatkan anak bagi masyarakat Batak pada umumnya adalah suatu hal yang amat penting. Walaupun dengan perkembangan pemikiran yang semakin 'maju' masyarakat Batak lebih gembira lagi apabila mempunyai anak laki-laki, karena hal ini berhubungan dengan penerus keturunan dari klannya, dimana masyarakat Batak menganut garis keturunan berdasarkan garis ayahnya (paternalistik). Namun akibat faktor-faktor biologis dan non-biologis banyak juga pasangan suami istri yang belum mendapatkan keturunan walaupun telah bertahun-tahun memnina hubungan rumah tangga. Salah satu upacara yang dipercayai dan yang dilakukan masyarakat Karo untuk memperoleh keturunan adalah upacara yang dikenal dengan 'nengget', yaitu membuat pasangan suami istri tersebut terkejut.

Nengget secara harafiah berarti membuat orang terkejut. Nengget disini bukan berarti asal terkejut saja, tetapi erat kaitannya dengan konteks adat-istiadat, dimana di dalam 'adat nggeluh' (adat orang hidup) orang Karo diatur berdasarkan "merga silima, rakut si telu dan tutur si waluh'. Wujudnya ada tiga kelompok dalam masyarakat Karo, yaitu kalimbubu (pihak pemberi wanita), senina (saudara), dan anak beru (pihak penerima wanita). Peranan-peranan perorangan telah diatur sedemikian rupa, dan tidak semua orang per orangan bebas berbicara dengan orang lain. Ada aturan-aturan yang dibuat. Sebagai contoh seorang menantu tidak bisa berbicara langsung dengan ibu mertuanya, hal ini adalah dipantangkan adat atau tabu. Apabila secara kebetulan sedang tidak ada orang lain sebagai perantara berbicara, maka biasanya berbicara melalui perantara benda-benda yang ada di sekitar, misalkan meja, kursi dan sebagainya.

Berhubungan dengan nengget tersebut, maka ada beberapa jenis nengget yang ada sesuai dengan fungsinya, yaitu :
1. Nengget, yaitu upacara tradisional yang dilakukan menurut adat karo, berupa melakukan kejutan bagi keluarga dengan harapan agar keluarga itu memperoleh anak (laki-laki dan perempuan). Peralatan untuk nengget ini adalah uis arinteneng, uis kapal (ndawa), batu (simbol anak), tumba beru-beru (tempat air), lau simalem-malem, gendang, serta makanan (sangkep). Pada malam yang ditentukan keluarga itu disenggeti (dikejutkan) oleh simehangkenya (seperti turangkunya) dari keluarga itu sambil berkata : "Emaka mupus..... dilaki/diberu ningku si Anu, adi lang ngayak mate kita la rebu !!" Kemudian suami istri itu diosei secara terbalik, yaitu laki-laki berpakaian wanita dan si wanita berpakaian laki-laki. Setelah acara ini biasanya makan atau bisa juga dilanjutkan dengan acara menari. Di Karo Jahe seperti yang pernah saya lihat biasanya sebelum disenggeti alat musik gung dan gendang biasanya dipukul terlebih dahulu. Setelah makan kemudian diberikan sen penjujuri (gantang tumba) dan mereka biasanya didudukkan kembali seperti pengantin baru (mukul).

2. Lentarken, yaitu upacara nengget yang dilakukan ketika ada yang meninggal dunia atau pada acara nurun-nurun. Pelaksanaanny dilakukan yakni ketika sedang menari keluarga yang tidak mempunyai keturunan itu tiba-tiba ditangkap oleh turangkunya (rebunya) masing-masing, kemudian dilentarken (ditangkap) dan selanjutnya diosei secara terbalik seperti pada acara negget. Setelah ditangkap kemudian diarak dan dilakukan acara menari.

3. Jera la mupus, yaitu upacara nengget yang diadakan pada acara memasuki rumah baru (mbengket rumah mbaru atau sumalin jabu). Nengget ini dilakukan ketika yang empunya rumah mau memasuki rumah barunya, kemudian di depan pintu masuknya mereka dihalangi oleh rebunya sambil berkata "Ma jera kam la mupus ?" Maka oleh yang empunya rumah dijawab "Jera!". Hal ini dilakukan sebanyak empat kali. Bilangan empat ini juga tentunya mempunyai makna, yaitu selpat (putus hubungan) dengan hal-hal yang tidak baik. Setelah empat kali ditanya, maka merekea diperbolehkan memasuki rumah barunya.

4. Sengget, yaitu terkejut. Terkejut ini mempunyai beberapa proses yang mempunyai arti bagi masyarakat Karo. Misalnya seseorang yang terkejut dapat menjadi sakit karena ditinggalkan oleh tendi (roh). Tendinya ini bisa jadi kicat (terjepit) disebuah batu, di sebuah tempat yang angker dan sebagainya. Untuk melepaskan tendi ini maka biasanya juga dilakukan upacara melepas tendi ini seperti raleng tendi, ngkiap tendi, ngkicik tendi, ngkirep tendi dan sebagainya. Sebagai upah kepada roh yang menahan tendi ini biasanya adalah manuk kahul (ayam persembahan) yang dilepas. Sebagai tanda apabila kahul tersebut diterima, yaitu ayam tersebut dimakan oleh elang. Terkadang bisa juga dilakukan dengan acara ngarkari.

Sengget juga bisa merupakan sebuah proses sesuatu roh yang mau bergabung dengan diri seseorang. Roh ini biasa juga disebut sebagai begu jabu, jinujung, silengguri. Sebelum roh tersebut ditabalkan atau ditahbiskan dengan seseorang maka biasanya diawali dengan sengget dan dilanjuktna dengan adanya penyakit. Upacara yang dilakukan adalah upacara ngampeken jinujung.

Senayan, 9 Juli 2001

No comments:

About Me

My photo
Bekasi, Jawa Barat, Indonesia
Etnomusikolog