14 July 2011

GAWAI DAYAK : Oleh-Oleh dari Sanggau



Oleh : Julianus P Limbeng

Ada beberapa hal yang cukup membuat saya takjub dan menarik, tatkala tiga hari menemani Pak Gede Ardika, mantan menteri Kebudayaan dan Pariwisata pada Kabinet Gotong Royong, ketika berkunjung dalam perhelatan Gawai Dayak, yang diselenggarakan oleh Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat pada awal Juli yang lalu. Ketakjuban dan ketertarikan saya adalah bagaimana sebuah tradisi masyarakat Dayak masih hidup dan dikembangkan dengan baik di era globalisasi sekarang ini. Tradisi-tradisi yang hampir punah direvitalisasi dan diaktualisasikan kembali dengan melibatkan masyarakat dan dukungan dari pihak pemerintah dan swasta. Tidak hanya tradisi yang menyangkut upacara yang berkaitan dengan budaya agraris, tetapi bagaimana pula lembaga adat berperan dan berfungsi dalam sistem yang ada.
Gawai Dayak, atau pesta Orang Dayak yang telah beberapa kali dilakukan, merupakan upaya menghidupkan tradisi sekaligus adat istiadat. Ungkapan kegembiraan disampaikan kepada Jewata (Tuhan) dengan berbagai aktivitas yang dilandasi atas hasil panen yang melimpah ruah dan memberikan kehidupan bagi mereka. Mereka memberikan persembahan dengan menyembelih beberapa ekor hewan, dan upacara yang dipimpin oleh pengetua adat atau dukun. Ungkapan ini semuanya dilaksanakan di rumah adat panjang yang disebut dengan Betang dan di lumbung padi, Jurong. Tradisi seperti ini diberbagai tempat dihidupkan kembali dan ditampilkan dalam konteks kekinian dan menarik. Di Sunda misalnya disebut dengan Seren Taun, upacara memasukkan padi ke leuwit (Karo : keben, lumbung) yang dipimpin oleh Jaro dibuat menarik dengan menampilkan tradisi yang lain seperti  angklung gubrag, debus, dan lain-lain.
Jika kita bandingkan di Karo, kita juga memiliki tradisi yang berkaitan dengan pertanian. Misalnya merdang merdem, kerja tahun, atau di daerah Karo Dusun dan Karo Timur dikenal dengan Rebu-Rebu (masih hidup di beberapa desa di Kecamatan STM Hulu dan Gunung Meriah). Namun yang membedakan dengan kita, pesta adat mereka kini ditata dengan bagus dengan sentuhan kreatifitas. Ini yang membuat kegiatan tersebut menjadi hidup sekaligus tradisi mereka pun dapat dilestarikan. Anak-anak muda pun ikut terlibat, merasakan dan ikut ambil bagian langsung.
Gawai Dayak yang berlangsung selama empat hari, yang dimulai setiap tahunnya pada tanggal 7 Juli (angka 7 memiliki simbol tertentu bagi mereka) dapat dikatakan sebagai ajang menghadirkan kekayaan tradisi yang mereka miliki. Semua tradisi itu hadir dengan kemasan kreatifitas dalam ajang upacara, pertunjukan, lomba, pameran, festival, pawai, sekaligus menjadi tontonan yang dapat menjadi tuntunan bagi masyarakat. Baik bagi usia tua maupun usia belia. Ribuan orang hadir tumpah di pelataran Youth Camp di halaman Rumah Betang tersebut. Pernak-pernik dayak muncul dalam berbagai bentuk, baju batik motif Dayak, yang dipadukan dengan motif Cina dan Melayu, yang memang tiga etnis yang hidup disana selain etnis lainnya. Semuanya sentuhan tradisi.
Mereka membuat berbagai macam lomba yang terkait dengan budaya setempat, seperti mendongeng, bermain musik, menari, tradisi menumbuk padi di lesung, dan sebagainya. Setiap kecamatan mengirimkan utusannya untuk mengikuti beragam lomba tersebut. Lomba yang merak lakukan pun cukup menarik. Dari sisi teknis dan kemampuan peserta yang saya saksikan, khususnya musik dan tarian Dayak, telah ditata dengan bagus. Komposisi musiknya sangat kreatif. Alat musik petik seperti Sampek (sejenis kecapi) dimainkan dengan memadukan ritmis gendang dan gong chime yang sangat dinamis dan komunikatif dengan penonton. Demikian juga dengan tariannya telah mempertimbangkan unsur-unsur seni pertunjukan. Blocking  penari di atas panggung dan desain busana dengan dasar tradisi Dayak mereka ketengahkan dengan baik. Demikian juga dengan tata panggung. Oleh sebab itu tak heran, jika Bupati Sanggau, H. Setiman H Sudin menyambut baik dan mendukung penuh kegiatan tersebut. Demikian juga, etnis serumpun dari tetangga, Sarawak, Malaysia Timur juga turut hadir memeriahkan acara tersebut. Artinya, Gawai Dayak kita bisa melihat kekayaan tradisi dan bagaimana sebuah budaya dapat hidup. Budaya tersebut dapat hidup tentunya mendapat dukungan dari pemerintah maupun swasta, seperti PTPN XIII yang ada disana.
Saya melihat kembali kepada tradisi di daerah kita, Karo. Begitu banyak juga tradisi Karo yang tidak kalah dan luar biasa. Namun siapa yang mau memulainya ? Siapa yang punya kepedulian ? Pemerintah saja tidak cukup, perlu melibatkan individu-individu dan perusahaan yang ada di daerah, misalnya dengan pemanfaatan dana CSR-nya. Di Dayak ada Dewan Adat Dayak di setiap provinsi, kabupaten, kecamatan, bahkan seluruh Dayak yang ada di Kalimantan, yang kini ketuanya A. Teras Narang, Gubernur Kalimantan Tengah. Ini contoh positif. Dewan Adat Karo ? Perlu memikirkan culture by create.
Tahun akhir 70-an, ketika saya anak-anak, saya masih sempat melihat tradisi Rebu-Rebu masih hidup dan peran pemerintah kala itu (Camat) masih ada, terutama untuk menentukan tanggal dan kegiatan apa yang dilakukan setiap hari sebelum hari H-nya bersama dengan pengetua adat tentunya. Misalnya, erburu, ndurung, ku kuburen, dan seterusnya. Namun kini tradisi itu hilang. Mengapa hilang pasti ada sebabnya. Salah satunya adalah tidak sesuai dengan kepercayaan yang dianut oleh masyarakat. Padahal jika dikemas, dengan didukung oleh Sumber Daya Manusia yang kompeten, dan juga sumber daya budaya yang potensial untuk direvitalisasi, saya percaya disamping warisan budaya buat anak cucu kita kelak, juga bisa dikaitkan dengan kepariwisataan dan ekonomi kreatif yang akan berdampak pada pro job, pro poor  dan pro growth. Intinya : Berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat. Budaya ta pe nggeluh, kita pe banci banna nggeluh. Lit kerja kuta, lit alasen mulih ku kuta. Emaka bahan kerja kuta. Ayo, belum terlambat….

Sanggau, 7 Juli 2011.

31 May 2011

Serayan Tuhan

Bapa Kami Sini Surga

23 April 2011

HIBUALAMO : Oleh-oleh dari Halmahera Utara


Julianus P Limbeng

Ada hal menarik ketika berkunjung selama empat hari ke Tobelo, Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara (17 – 20 April 2011). Meskipun perjalanan dari Jakarta menuju tempat ini cukup melelahkan, namun ketika berada di daerah ini kepenatan seakan terbalaskan dengan menikmati budaya dan kulinernya. Dari Jakarta saya berangkat pukul 05.40 pagi naik GA600 menuju Sam Ratulangie Manado dengan waktu tempuh dua jam tujuh menit. Transit selama empat puluh lima menit, kemudian dilanjutkan menuju Bandara Sultan Babullah di Ternate dengan waktu empat puluh lima menit. Dari Ternate menyeberang ke Pulau Halmahera dengan menaiki speedboat selama empat puluh lima menit, persis mengitari sisi kiri pulau Maitara dan Tidore. Pulau ini persis dilihat seperti gambar di uang pecahan seribu rupiah. Untuk mencapai Tobelo, masih membutuhkan empat hingga lima jam perjalanan darat dari Sofifi. Cukup melelahkan jika fisik kurang fit, tetapi banyak hal menarik yang dapat kita lihat sepanjang perjalanan.
Tahun 1999 hingga 2001 ketika negeri Hibualamo ini didera konflik SARA, masyarakat saling curiga-mencurigai, saling bunuh membunuh, saling bakar-membakar, saling hina-menghina yang menyebabkan rusaknya hubungan dan tatanan sosial masyarakat disana. Tetapi ketika adanya rekonsiliasi damai yang diprakarsai oleh para tokoh agama, tokoh adat dan elemen masyarakat di rumah adat Tobelo yang dikenal dengan Hibualamo, lambat laun namun pasti, masyarakat Tobelo bangkit dari keterpurukan. Di Hibualamo masyarakat meletakkan senjata rakitan, senjata tradisional dan menyatakan rekonsiliasi damai. Di Hibualamo masyarakat dapat melakukan  musyawarah adat dan membicarakan berbagai hal untuk kemajuan bersama. Adat dapat mempersatukan berbagai perbedaan. Kondisi sepuluh tahun yang lalu itu kini sangat jauh berubah. Tobelo kini menjadi negeri yang aman, damai, serta toleran. Salah satu factor adalah berfungsinya kembali nilai-nilai budayanya, Hibualamo.
Hibualamo, rumah adat mereka memiliki peran karena nilai-nilainya direvitalisasi kembali sebagai tempat bermusyawarah warga masyarakat. Nilai-nilai itu sendiri tidak otomatis berfungsi jika tidak ada yang menggerakkan. Hal itu bermula ketika Jiko Makulano, sebutan bagi Raja sekaligus pimpinan adat di daerah ini, yang kebetulan juga sekarang menjabat sebagai bupati Halmahera Utara, Ir. Hein Namotemo, yang sangat peduli terhadap budaya Tobelo. Ia tidak malu cemoohan orang untuk merevitalisasi kembali nilai-nilai budaya luhurnya. Ia menghidupkan kembali berbagai tradisi dalam konteks kekinian, misalnya O Hoya, tradisi  tarian cakelele yang biasa dikenal orang sebagai tarian perang. Demikian teriakan responsorial tradisional Hotu Yeeee, yang sebenarnya perintah untuk berperang dipakai sebagai salam dan perintah untuk memerangi kemiskinan, ketidakadilan, kebodohan dan sebagainya.  
Sejak misionaris zending masuk ke Tobelo 145 tahun yang silam, sejarah menyatakan bahwa para missionaries melarang menggunakan bahasa Tobelo dan berbagai atribut budaya Tobelo, sehingga dampaknya banyak orang Tobelo yang tidak mengerti bahasa Tobelo apalagi budaya Tobelo. Beberapa budaya Tobelo diinterpretasi bertentangan dengan nilai-nilai Kristiani. Dalam merevitalisasi budaya local yang hampir punah tersebut dalam konteks sekarang, perlu melakukan reinterpretasi budaya tersebut daalam kaitannya dengan agama yang telah dianut oleh masyarakat. Dan itu telah dilakukan oleh mereka dengan mengundang tokoh-tokoh agama, tokoh adat, budayawan, seniman, akademisi dan sebagainya untuk mencari titik temu.
Yang menarik bagi saya adalah persoalan revitalisasi budaya lokal (local wisdom, local genus) dalam konteks kekinian, serta bagaimana budaya lokal dapat dimanfaatkan dalam sistem pemerintahan dan kehidupan bermasyarakat. Budaya berperan dalam aturan main dalam kehidupan social mereka. Setiap hari Rabu pegawai pemerintah diwajibkan mengenakan pakaian adat masing-masing. Meskipun awalnya mendapat sorotan dari berbagai pihak, namun kini telah menjadi kebiasaan dan mengenakan busana tradisional telah menjadi kebiasaan dan kebanggaan akan identitas dan jatidiri mereka. Dalam Hari Ulang Tahun ke-4 Rumah Adat Hibualamo yang berdiri megah di tengah kota Tobelo, sekaligus peringatan 10 tahun rekonsiliasi damai di negeri ini, Bupati beserta istri, wakil bupati beserta istri rela tidak beralas kaki berjalan dari rumah dinasnya sebagai perlambang ikut merasakan sebagai rakyat.
Dalam perayaan tersebut semua elemen masyarakat terlibat dan diberikan peran. Setidaknya ada sepuluh komunitas adat yang terlibat seperti Jawa, Batak, Gorontalo, Makassar, Toraja, Minahasa, Ambon, termasuk Tobelo sendiri. Demikian juga tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat dan unsur pemerintahan bersama-sama bermusyawarah untuk membangun negeri mereka. Sikap toleransi dan saling menghargai terlihat dari kegiatan budaya. Kesenian setiap suku diberikan kesempatan untuk berkembang. Itu semua di Hibualamo. Hibualamo sebagai rumah adat memang berfungsi sebagai tempat bermusyawarah untuk kebaikan.
Selain itu setiap tahun pemerintah mengapresiasi individu-individu terkait dengan yang berperan memajukan kebudayaan. Seniman yang berperan mengembangkan lagu-lagu daerah, pengembang tarian tradisional, penulis dan media, pelestari kesenian dan mengenalkan kesenian ke luar daerah. Pemerintah memberikan penghargaan dalam bentuk piagam dan materi. Ini mendorong kreativitas masyarakat untuk melestarikan dan mengembangkan kebudayaannya. Ini hanya satu contoh saja bagaimana pemerintah yang punya kepedulian terhadap pelaku budayanya.
Kita tahu bahwa suku-suku lain juga pasti memiliki kearifan-kearifan lokal yang dapat divitalisasi kembali, khususnya nilai-nilai budayanya. Sebagai 
contoh misalnya di daerah saya, Karo. Orang Karo juga memiliki Rumah Adat. Mengapa satu per satu rumah adat Karo itu habis ditelan waktu ? Kita juga memiliki Jambur atau dikenal juga dengan sebutan Los Kuta. Kita memiliki budaya Runggu, beragam kesenian, kuliner, busana tradisional dan seterusnya yang perlu kita angkat dan lestarikan dalam konteks kekinian. Perlu ada upaya untuk mendata dan mengkaji sekaligus merevitalisasi kebudayaan kita yang juga sangat kaya. Reinterpretasi dalam tatanan glokal, global-lokal. Jangan-jangan kita telah mengalami alienasi budaya yang sangat parah. Kita tidak mengetahui lagi kebudayaan kita sendiri. Kita merasa asing terhadap budaya sendiri, bahkan bisa jadi tidak menyenangi atau bahkan membencinya. Mudah-mudahan jangan seperti itu yang terjadi.  
 
(Hotel Juliana, Tobelo, 19 April 2011).

24 February 2011

Hahoe Tal dan Gundala-Gundala


Oleh : Julianus P Limbeng

Keindahan alam merupakan sebuah anugerah yang patut disyukuri sebagai potensi kepariwisataan di Tanah Karo. Namun di sisi lain, sebenarnya masih ada unsur-unsur lain yang patut diperhatikan dan dipertimbangkan dalam mengembangkan kepariwisataan disana. Salah satunya adalah kekayaan budaya yang dimiliki oleh Karo itu sendiri.

Bila berkunjung ke suatu daerah, biasanya sudah pasti ada uang lebih untuk membeli buah tangan, oleh-oleh berupa makanan khas atau cenderamata khas daerah tersebut. Cenderamata ini ada yang diperuntukkan pengunjung itu sendiri maupun buat orang lain. Di Tanah Karo memang telah terdapat beberapa cenderamata, seperti aneka ragam uis Karo (yang konon katanya bukan orang Karo lagi yang buat), alat-alat musik tradisional, beberapa jenis pakaian dengan tulisan Berastagi, sendok dan garpu dari kayu dengan tulisan ‘lake toba’ (tanah Karo mana?) dan seterusnya. Saya melihat unsure-unsur budaya Karo itu masih kurang diberdayakan, semisal miniature gendang Karo, ragam hias Karo untuk kaos oblong, kuan-kuan Karo yang bisa saja disablon dan disertakan terjemahan bahasa Indonesianya, sekaligus memperkenalkan nilai-nilai budaya Karo bagi masyarakat luas. Dan masih banyak lagi tentunya. Ini semua berkaitan dengan kreativitas masyarakat dan sense of bussinesnya. Barangkali karena sector pertanian masih menggembirakan dalam konteks ekonomi masyarakat Karo, sector kreativitas kurang terperhatikan.

Ketika akhir tahun lalu saya berkunjung ke dua daerah wisata di Korea Selatan, Andong Hahoe Village dan Dosan Seowon, ada hal yang menarik bagi saya, bagaimana pemerintah disana (Andong Major) memberdayakan desa adat sekaligus potensi budaya yang ada disana. Unsur budaya mereka sebenarnya tidak terlalu banyak, namun pengemasan mereka cukup baik, sehingga budaya mereka terberdayakan sehingga ada impactnya langsung bagi masyarakat, yaitu jargon yang sering dilontarkan pemerintah kita saat ini dan pro poor, pro job, pro growth, dan pro environment, yaitu dapat bermanfaat langsung dan dinikmati oleh masyarakat. Topeng Hahoe (Hahoe Mask) atau dalam bahasa Korea disebut Hahoe Tal, adalah satu potensi budaya mereka yang telah berhasil diberdayakan dengan baik. Di sana ada pertunjukan Topeng Hahoe dengan berbagai karakter tersebut setiap tahun. Bahkan pemerintah disana juga mengadakan festival topeng yang bertarap nasional dan internasional dengan membina hubungan dengan berbagai Negara. Termasuk dengan Indonesia. Ketika saya disana, kebetulan ada dosen dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta juga sedang mempelajari pemberdayaan topeng tersebut disana. Topeng Hahoe itu juga telah didaftarkan sebagai warisan budaya tak benda sebagai kekayaan budaya mereka. Upaya perlindungan ini telah terdaftar sebagai National Treasure No.121. Memang beragam topeng bisa kita temukan disana.

Selain festival topeng, Hahoe Tal atau Topeng Hahoe tersebut juga diberdayakan dalam bentuk lain. Topeng Hahoe bahkan menjadi maskot Andong dan di berbagai tempat bisa kita temukan beragam jenis topeng, misalnya di The National Folk Museum of Korea. Topeng Hahoe mereka buat mulai dari pernak-pernak kecil, hingga bentuk dan ukuran aslinya. Miniatur topeng itu misalnya dibuat menjadi gantungan kunci, modifikasi bentuk wajah saja dan dibuat menjadi pajangan yang menarik. Pokoknya butuh kreativitas untuk menghasilkan beragam karya seni yang menarik, mulai dari harga yang relative murah hingga ratusan ribu, jika Won dikonversi ke Rupiah. Saya sangat senang ketika Walikota Andong, Korea  memberikan saya Hahoe Tal, yaitu Yang Ban, meskipun kecil, tapi ada nilai tersendiri bagi saya. Apalagi yang memberikan orang nomor satu di kota itu.

Lantas bagaimana dengan Karo ? Kita juga memiliki topeng Gundala-Gundala dengan dukungan folklore (cerita prosa rakyat) dan kesenian yang masih hidup dan diketahui oleh sebagian masyarakat tentunya. Kita memiliki Manuk Si Gurda Gurdi, Tembut-Tembut Seberaya, Dogal-Dogal, yang semuanya masih erat kaitannya dengan tradisi Karo.  Dari sisi seni pertunnjukannya misalnya bisa diberdayakan dengan membuat festival gundala-gundala atau Festival Topeng Karo. Mungkin Dogal-Dogal yang dulu erat kaitannya dengan kepercayaan tradisi memanggil hujan pada masyarakat Karo akan muncul kembali dengan sentuhan kreativitas. Topeng Gundala-Gundala pun mungkin saja akan muncul dengan bentuk asli dan bentuk kreativitas lain. Semisal apa yang telah kita lakukan pada Indonesian Mask Festival di Cilimus, Cirebon Jawa Barat pada akhir tahun lalu, yang diliput beberapa media. Say abaca malah di LionMag, majalah Lion air, di TV Swasta dan Kompas pun beritanya ada. Selain berkaitan dengan seni pertunjukan, mungkin saja dibuat sebagai pernak-pernik buat cendera mata. Jika ini telah dilakukan, upaya ini bukan hanya berdampak pada pengembangan ekonomi masyarakat, tetapi juga telah melakukan upaya perlindungan terhadap kekayaan budaya Karo itu sendiri. Jika Bupati Karo memberikan cenderamata kepada tamunya berupa miniature rumah adat Karo, topeng gundala-gundala, upaya perlindungan itu sudah dilaksanakan, sekaligus upaya memupuk kebanggaan akan budaya Karo. Dampaknya ? Pasti ada. (Jakarta, 24 Februari 2011).

Blog Archive

About Me

My Photo
Bekasi, Jawa Barat, Indonesia
Etnomusikolog