20 June 2009

LIMA SERANGKE DAN PEMBELAJARAN TARI KARO

Julianus P Limbeng


Dalam berbagai festival atau lomba tari tradisional Karo, Tari Lima Serangke sudah acap kali dibuat menjadi tari wajib. Tahun 80-an ketika saya masih SD, tari ini sering sekali saya lihat disamping Tari Terang Bulan, Tari Roti Manis, Tari Piso Surit, Tari Telu Serangke, dan Tari Ate Jadi. Hingga saat ini juga tari-tari ini masih diikutkan menjadi tari lomba di Jakarta sekitarnya sekalipun. Bahkan musik pengiringnya berupa pita kasetpun belum berubah, sehingga untuk mencari kaset tersebutpun sangat sulit.

Tari Lima Serangke memang dikenal dua versi, masing-masing versi Mbaga Ginting dan Seter Ginting. Kedua versi Sierjabaten Karo tersebut adalah tidak jauh berbeda, namun yang paling sering dipilih adalah versi Mbaga Ginting. Untuk sebuah lomba atau festival tari, durasi Lima Serangke dirasakan cukup panjang, dan dari sisi entertain bisa menimbulkan rasa bosan, karena untuk satu tari membutuhkan waktu lebih dari lima belas menit. Namun dari sisi pembelajaran tari tradisional Karo, pilihan Tari Lima Serangke sebagai tari wajib cukup tepat. Hal ini karena musik Lima Serangke mewakili dari hampir keseluruhan genre musik dan gerak yang ada pada Karo.

Tari Lima Serangke merupakan satu bentuk tari yang dibangun dari lima buah style atau gaya yang terdapat pada musik Karo yang biasa disebut dengan cak-cak yang sekaligus juga mewakili lima lagu atau biasa juga disebut dengan gendang (nama lagu). Gendang dalam masyarakat Karo harus difahami dari imbuhan kata setelahnya. Karena pengertian gendang sendiri pada masyarakat Karo mempunyai makna jamak. Gendang dapat sebagai seperangkat instrumen (ensambel), nama lagu, repertoar (kumpulan dari beberapa lagu), sebagai instrumen musik, dan nama upacara. Demikian dalam lima serangke tersebut dipadukan lima genre sekaligus gendang (lagu), yaitu: (1) gendang morah-morah; (2) gendang perakut; (3) gendang cimpa jok; (4) gendang kabang kiung; dan (5) gendang patam-patam sering.

Dari ke lima gendang yang dimainkan sebagai musik pengiring Tari Lima Serangke tersebut, dari sisi tempo dapat kita lihat bagaimana alur tari tradisional Karo, yang dimulai dari tempo lambat (morah-morah) hingga tempo cepat (patam-patam sering) sebagai klimaks dari pertunjukan atau tari tersebut. Melihat keragaman tempo tersebut, musik tari ini dapat dianggap sebagai dasar yang baik untuk mempelajari dan mempraktekkan Tari Tradisional Karo.

Dewasa ini setelah era gendang kibot masuk dalam tradisi kesenian Karo, khususnya musik dan tari, Lima Serangke apakah masih mewakili musik dan gerak tari Karo yang kita kenal dewasa ini? Seter Ginting dan Mbaga Ginting meninggalkan sesuatu yang sangat berharga bagi pengenalan seni tari dan musik Karo. Rekaman musik pengiring setelah era mereka hingga saat inipun tidak ada lagi. Lima namun satu, sebagai dasar gerak tari Karo dapat dilihat disana. Sepertinya mereka mempunyai visi ke depan yang sangat baik dalam melestarikan kesenian Karo. Ada lagi yang bervisi seperti mereka?
Bekasi, 20 Juni 2009.

3 comments:

valin said...

sangat disayangkan sekali jika tarian masyarakat karo harus hilang secara perlahan atau punah..
dan kitalah anak muda ini yang harus mencegah kepunahan tari tradisional ini. mungkin dengan cara mempelajari kembali tarian ini dan mungkin dapat merekam ulang rekaman aslinya.

Anonymous said...

memang kin lenga lit video khusus sade ue bang. kam pe kidah cerita hanya sebatas lima jenis saja. ras lalit kuidah kam cerita arti si lima e untuk specifikna.

The Arts said...

menjuah juah.

good artikel.

About Me

My photo
Bekasi, Jawa Barat, Indonesia
Etnomusikolog