29 April 2013

OLEH-OLEH DARI PYONGYANG

Julianus P Limbeng

Mengunjungi tempat kelahiran Kim Il Sung
Hubungan baik Republik Indonesia dengan Korea Utara diawali ketika Presiden Soekarno melakukan kunjungan kenegaraan ke Korea Utara pada bulan November 1964, yang kemudian dibalas dengan kunjungan kenegaran Presiden Kim Il Sung yang disertai putranya Kim Jong Il pada bulan April 1965. Pada kesempatan kunjungan itu, tepatnya tanggal 13 April 1965, Presiden Indonesia Soekarno mengajak Kim Il Sung berjalan-jalan ke Kebun Raya Bogor, yaitu tempattumbuhnya berbagai jenis tanaman. Saat kedua pemimpin besar itu berjalan-jalan di taman itu sambil menikmati indahnya suasana, Kim Il Sung berhenti sejenak untuk menikmati deretan anggrek jenis “dendrobium” asal Makassar, yang sedang mekar. Melihat sejawatnya tertarik dengan bunga itu, Bung Karno langsung memberikan bunga anggrek tersebut kepada Kim Il Sung. Hadiah itu sekaligus sebagai hadiah ulang tahun untuk sang tamu. Pada saat itu juga, Bung Karno berinisiatif untuk memberikan nama kepada bunga tersebut. Muncullah nama “Kimilsungia”, perpaduan nama Kim Il Sung dan Indonesia. Sejak itulah, Kimilsungia diabadikan sebagai bunga nasional Korea Utara, sekaligus sebagai simbol persahabatan Indonesia dan Korea Utara.

Dendobrium, anggrek itu..
Mangyongdae
“Diplomasi bunga” ala Soekarno itu akhirnya menjadikan Indonesia sebagai negara istimewa di hati rakyat Korea Utara. Dalam rangka itulah tahun ini saya berkesampatan mendampingi Staf Ahli Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Drs. Hari Untoro Dradjat, menghadiri undangan pemerintah Korea Utara dalam Festival Kimilsungia di tengah kondisi pemberitaan terjadinya tensi ketegangan di semenanjung Korea terkait isu perang dan nuklir. Kegiatan Kimilsungia ini juga bertepatan dengan peringatan 101 tahun kelahiran mendiang Presiden Korea Utara Kim Il Sung (The Sun Day). Dari Beijing menuju Pyongyang, kami menumpang Pesawat Korut, Air Koryo, pesawat Tuvolev buatan Soviet. Di tengah pemberitaan pemerintah Korut meminta evakuasi warga negara asing kami malah datang ke Pyongyang. Dan hal ini menjadi sebuah penghargaan tersendiri bagi negara tersebut. Cukup deg-degan juga, karena sarana komunikasi kami dititpkan di Beijing, karena HP infonya tidak boleh dibawa kesana, kalaupun dibawa kita tidak bisa berkomunikasi. Ternyata beberapa pengunjung kita lihat ada yang bawa sarana komunikasi juga.


Ketika tiba di bandara Pyongyang dan melalui pemeriksaan di imigrasi, mata saya benar-benar kagum dan takjub melihat negara itu sangat bersih. Di luar Duta Besar RI sudah menunggu kami bersama panitia Kimilsungia. Di sepanjang jalan dan dibawah pohon-pohon yang sedang mengering saya melihat orang-orang berseragam, seragam tentara dan seragam lainnya. Mereka semua bekerja, baik laki-laki maupun perempuan. Sebagai sarana komunikasi disana KBRI memberikan sebuah ponsel kepada kami yang hanya dapat berhubungan dengan nomor-nomor orang KBRI. Sepanjang jalan dari Bandara menuju Hotel Yanggakdo, yang terletak di Yanggak Island tempat kami menginap, tidak banyak kendaraan yang kami temui di jalan. Tidak ada macet, lancar. Hotel tempat kami menginap pun cukup mewah, namun sangat sepi sekali tamu yang menginap disana, kecuali tamu negara seperti kami yang juga menghadiri acara yang sama.

Festival Plaza, Kimilsungia
Malam pertama di Pyongyang kami diterima Mr. Kim Chand Do (Vice Chairman of the Korean Committee for Cultural Relations with Foreign Countries). Yang juga menarik adalah keesokan harinya ketika kami diberi kesempatan mengunjungi Mangyongdae, yaitu tempat kelahiran Pemimpin Besar Korea Utara Kim Il Sung. Di tempat inilah Kim Il Sung lahir dan tinggal hingga usia 14 tahun. Di tempat ini masih terdapat peninggalan-peninggalan keluarga Kim Il Sung beserta museum sederhana yang berisi berbagai macama perkakas dan peralatan hidup. Kunjungan ini juga diliput oleh media DPRK. Yang membuat saya kagum adalah semua jalan-jalan dan tempat sangat bersih. Mereka juga sangat menghargai sekali pemimpin. Semua orang berbondong-bondong jalan kaki menuju tempat kelahiran pemimpin besar mereka dengan tertib. Mulai dari tentaravdan rakyat jelata.

Hasil Bordiran selama tiga tahun oleh 15 seniman
Menuju Festival Plaza sekaligus mengikuti rangkaian Upacara Pembukaan “The 15th Kimilsungia Festival". Acara ini diikuti lebih seribu orang yang berada di plataran Festival Plaza. Inti acara ini dapat dikatakan mendengarkan sambutan dari Indonesia. Acara ini dihadiri oleh Mr. Kim Ki Nam, Secretary Worker Party of Korea, Director Information and Publication of Korea, serta pejabat tinggi Korea Utara. Setelah acara pembukaan kami diberi kesempatan beserta Mr. Kim Ki Nam mengunjungi seluruh stand yang ada dalam festival ini. Dalam acara Courtesy Call on HE Kim Chang To (Chairman of the KKC) di Hotel Yanggakdo, pihak Panitia Kimilsungia menyampaikan ucapan terimakasih kepada pemerintah Indonesia atas kehadirannya sekaligus memberikan sambutan pada acara pembukaan.

Selain acara festival, Kami juga berkesempatan mengunjungi Mansudae Art Studio. Studio yang dimaksud disini merupakan Galeri Nasional Korea Utara yang terdiri dari empat lantai. Di Galeri ini terdapat karya-karya seniman besar Korea Utara berupa lukisan, bordiran dan keramik yang telah dikurasi oleh tim kurator. Karya-karya yang ada di sini sangat bagus, terutama karya bordir yang sangat halus dan bagus sekali. Karya-karya seni lain juga bisa kita lihat seperti patung pemimpin ,ereka yang sangat gampang ditemukan di jalan. Orang-orang kerja kebanyakan jalan kaki, naik sepeda walaupun sudah ada bus kota dan trem di kota. Awalnya saya agak takut kesana, melihat situasi disana saya menyesal mempercepat waktu kepulangan ke Indonesia.

Kegiatan Kimilsungia Festival merupakan sebuah kegiatan penting terkait hubungan Korea Utara dengan Indonesia. Di siaran TV dan video di atas pesawat, Indonesia selalu disinggung. Diplomasi bunga ala Soekarno tersebut ternyata dapat menjalin persahabatan yang akrab dalam konteks negara dengan negara. Soft diplomacy, seperti budaya Indonesia yang luar biasa sebenarnya juga sangat efektif dalam diplomasi dengan bangsa lain. Bagaimana dengan mata budaya Karo? Sudah kah kita manfaatkan dengan baik untuk berbagai kepentingan ? Mungkin tidak hanya terkait aspek ekonomi, setidaknya terkait identitas Karo itu sendiri.

Beijing, 13 April 2013

No comments:

About Me

My photo
Bekasi, Jawa Barat, Indonesia
Etnomusikolog