26 September 2006

Usif, Raja Dawan Timor

Usif, adalah sebutan untuk Raja bagi Komunitas Adat Suku Dawan, Di Desa Maslete, Kabupaten Timor Tengah Utara, NTT. Selama 4 hari (Januari 2006) saya melakukan penelitian tentang komunitas adat Bikomi Maslete.
Limbeng dan Usif berfoto bersama dalam ruang tengah istana Usif (Raja) yang disebut dengan Sonaf. Di Sonaf ini masyarakat selalu mengirim jagung sebagai makanan utama suku Dawan. Jagung-jagung ini disimpan dalam rumah dan lumbung.

Morowali, Palu.....














Di atas pegunungan, di perkampungan Suku Da'a, Kaili di Desa Dombu, Morowali Sulawesi Tengah. Anjing merupakan binatang yang sangat dilarang disembelih, karena terkait dengan folklore, yang menyiratkan bahwa nenek moyang suku Da'a adalah anjing. Angin sangat bertiup kencang, dan berkabut. Dari atas ini kita bisa melihat kota Palu secara menyeluruh beserta laut luas yang membentang, yaitu kota yang terletak di lembah.

Madika Langa

Madika langa. Lebih kurang 3 jam dengan jalan berkelok-kelok dari Palu ke arah pegunungan, tempat komunitas suku Da'a, akhirnya kami sampai ke rumah Madika Langa, sebutan untuk Raja bagi suku Da'a, di Morowali Sulawesi Tengah. Selama dua hari di puncak gunung, dimana rumah-rumah orang Da'a masih banyak dibangun di atas pohon, kami melakukan wawancara tentang sistem kepercayaan suku Da'a, atau sering juga dikenal dengan suku Kaili. Pada kesempatan itu kami berfoto bersama dengan Madika Langa (Raja) ketika dia mengenakan pakaian kebesarannya. Empat orang peneliti darin kiri ke kanan, Sri Suhardjo (BKSNT Manado), Liem Beng (Jakarta) Madika Langa (Morowali, Sulteng), Siti Maria (Jakarta), dan Charlotte (Budpar Sulteng).

Komparasi dan Statistika dalam Struktur-Fungsi

KOMPARASI, STATISTIK, DAN STRUKTURAL-FUNGSIONALISME
(Struktural-Fungsionalisme/Metode)[1]

Julianus Limbeng[2]

Abstract:

This article seeks demonstrate comparation, statistic and Structural-fungsionalism paradigm. Structural-fungsionalism is a dominant and very strength paradigm before 1960’s besides other paradigm in social science. First periode, comparation and statistically in anthropology constitute an science approach.Anthropologist effort make in to social ‘science’ like biology, physic an so on. Anthropolgist always to developt generalization. Although many critical assessing that structural-functionalisme places culture static, positivistic, but the fact structural-fungsionalism give many contribution to development new theory, like structuralism, and so Marxist.

Keywords : struktur social; cultural area; representasi; generaliasi; positivistik.

Pendahuluan

Dalam sejarah antropologi, beberapa antropolog pernah melakukan pendekatan-pendekatan statistika, antara lain misalnya E. B. Tylor (1889), yaitu suatu pendirian yang mula-mula berasal dari J.J. Bachofen.[3] Dalam karangan itu antara lain Tylor mencoba menunjukkan dengan bukti angka-angka statistika bagaimana tingkat matriarchate berevolusi ke tingkat patriarchate. Ia mengambil tiga ratus masyarakat yang tersebar ke berbagai tempat di dunia, dan khusus memperhatikan adat–istiadat yang bersangkutan dengan perkawinan, lalu mencoba menghitung berapa kali sesuatu unsur dalam adat-istiadat perkawinan berdampingan dengan unsur lain dalam ke tiga ratus masyarakat tersebut. Mengenai adat couvades[4] misalnya ia mendapatkan bahwa adat itu tidak pernah berdampingan dengan system matriarchate, sedangkan ada delapan masyarakat dimana couvades berdampingan dengan patriarchate, dan ada dua puluh masyarakat couvades berdampingan dengan patriarchate dimana masih mengandung ciri-ciri matriarchate. Dalam menarik kesimpulan Tylor menggunakan angka-angka itu sebagai kesimpulan yaitu membangun semacam ‘generalisasi’. Angka-angka itu dianggap sebagai bukti bahwa adat couvades dimaksudkan untuk memperkuat hubungan antara ayah dengan si anak di dalam masa perobahan dari tingkat matriarchate ke tingkat patriarchate. Demikian juga ia memperhitungkan hubungan-hubungan korelasi lain yang disebutnya adhesions antara unsur-unsur kebudayaan yang bersangkutan dengan sisem kekerabatan menggunakan metode statistik. Lepas dari kesimpulan-kesimpulan oleh Tylor, setiap penghitungan yang selalu dihubungkannya dengan perkembangan evolusi masyarakat. Lebih luas tentang hal ini diterapkan kemudian dalam penelitian cross-cultural.[5]
Selain Tylor (1889), sebelumnya juga Morgan (1871) pernah menyusun suatu angket yang mengandung daftar pertanyaan mengenai istilah-istilah kekerabatan. Angkat-angket serupa itu disebarkan kepada berbagai suku bangsa Indian di Amerika Serikat. Karena hasilnya memuaskan maka Morgan mencoba menyebarkan angket ke luar Amerika Serikat pada berbagai suku bangsa di dunia melalui lembaga Smithsonian Institute. Usaha itu berhasil, antara lain karena ia mempunyai pengaruh yang luas, dan berhasil mengumpulkan seratus tiga puluh sembilan macam system istilah kekerabatan yang berasal dari berbagai suku bangsa di dunia. Sistem-sitem itu beserta keterangan dan komentar diterbitkan sebagai buku tebal berjudul Systems of Consanguinity and Affinity of the Human Family (1871). Kemudian, dalam Ember (1990:331-333) misalnya kita dapat mengetahui bahwa ada 14% dari 565 masyarakat dunia yang mempraktekkan mas kawin (bride price atau bride wealth ) dalam perkawinan dan hanya ada 4% yang mempraktekkan uang jemputan (dowrey)[6]. Menarik suatu kesimpulan seperti ini tentunya dilakukan dengan pendekatan penghitungan matematis dengan angka-angka. Dan ini berkaitan dengan menempatkan kebudayaan sebagai sesuatu yang statis, yaitu kebudayaan yang dapat dilakukan penghitungan-penghitangan angka seperti contoh-contoh tersebut. Pendekatan-pendekatan yang dilakukan oleh antropolog awal kelihatannya lebih dekat dengan penghitungan-penghitungan dalam rangka membuat generalisasi untuk ilmu-ilmu social. Kemudian melakukan komparasi-komparasi dengan mmelihat unsure-unsur persamaan dan perbedaannya sebelum membuat kesimpulan berupa generalisasi. Dalam generalisasi akan dibuat kategori-kateogri berdasarkan persamaan dan perbedaan tersebut. Oleh sebab itu hasil-hasil penelitian pada masa-masa itu sampai tahun 1960-an, lebih menunjukkan corak kebudayaan dari suku bangsa berdasarkan area atau wilayah kebudayaan (cultural area).
Hasil-hasil penelitian seperti itu terus berkembang. Selanjutnya, Murdock (1959) juga mengeluarkan bukunya yang berjudul “Its people and Their Culture History” yang memuat deskripi-deskripsi singkat dari data yang dikumpulkan dari sistem kartu etnografi Yale University serta dari beratus-ratus buku maupun karangan etnografi di perpustakaan. Dengan bantuan para mahasiswanya, Murdock terus menerus memperbaharui system kartu etnografinya dengan tujuan memindahkan sebanyak mungkin data etnografi dari buku-buku etnografi ke dalam sistem kartu etnografi. Tahun 1949, Yale University melanjutkan upaya pemrosesan dan pengelolaan system kartu etnografi Murdock yang kemudian diberi nama resmi Human Relation Area Files (HRAF).
Seperti kita ketahui bahwa pendekatan-pendekatan seperti di atas adalah merupakan pendekatan yang sangat dominan dan banyak dipakai oleh para antropolog awal, yaitu pendekatan-pendekatan evolusionisme sampai kepada paradigma strukutral-fungsionalisme sebelum tahun 1960-an[7]. Pendekatan-pendekatan yang berawal dari keanekaragaman ini juga mengalami perkembangan seiring dengan nama-nama besar yang melahirkan teori baru, misalnya terjadinya bergeser dari kajian struktur sosial Durkheim dan Radcliffe-Brown ke proses sosial. Meskipun baru setelah tahun 1960-an pendekatan itu mulai ditinggalkan, namun sampai sekarang juga pendektan-pendekatan seperti itu masih saja banyak dipakai orang. Ini menunjukkan bahwa pendekatan tersebut sebenarnya sangat kuat dalam antropologi. Kalaupun muncul-paradigma-paradigma baru dalam antropologi setelah itu, namun setidaknya pendekatan structural-fungsionalisme menyumbang banyak dalam pembentukan paradigma-paradigma yang baru.
Kalau dilihat dari sejarah perkembangannya, Radcliff-Brown[8] sendiri mengatakan bahwa antropologi memiliki dua titik awal dalam perkembangannya. Titik awal pertama berawal pada pemikiran evolusi sekitar tahun 1870-an, sedangkan titik awal yang kedua adalah setelah Montesqiueu (1784) menerbitkan karyanya “Spirit of the Laws” di perancis. Khususnya tentang titik awal pertama, tradisi sosiologi pada saat itu sangat menghargai gagasan bahwa masyarakat itu terstruktur dan sistematik, dan bahwa strukturnya merupakan kajian yang tepat dari ilmu itu (sosiologi) atau yang kini disebut sebagai ilmu-ilmu social. Selain itu sekurang-kurangnya Aguste Comte, bahwa sasaran penelitian disiplin ini menyerupai organisme biologi, yang bekerja sebagai suatu kesatuan sebagai sitem yang berfungsi.[9] Pemahaman seperti ini meskipun dapat dikatakan tidak disengaja, misalnya etnografi yang dilakukan oleh Malinowski, yaitu etnografi berintegrasi secara fungsional tentang masyarakat di Kepulauan Trobriand (Koentjaraningrat, 1987:164-170).
Pandangan seperti itu berpengaruh besar dalam penelitian ilmu-ilmu social, khususnya antropologi. Masyararakat dipandang sebagai sebuah sistem yang saling berfungsi untuk menjaga keseimbangan (equilibrium) system tersebut. Oleh sebab itu masyarakat dipandang sebagai keanekaan atau keberagaman baik dari sisi peranan dan status yang semuanya mendukung kearah fungsi-fungsi keseimbangan social tadi. Dengan demikian masyarakat dipandang sebagai sebuah sistem sosial atau struktur sosial, meskipun selanjutnya sebenarnya dua konsep tersebut dibedakan.
Perkembangan teori-teori antropologi seperti ini tidak terlepas dari teori-teori sebelumnya, yaitu evolusionisme. Dan konsep system ini sendiri sebenarnya berasal dari konsep biologi. Oleh sebab itu ilmu-ilmu social seperti antropologi sebenarnya berhutang banyak terhadap ilmu-ilmu biologi seperti evolusi. Ilmu itu banyak menyumbang tentang konsep-konsep kebudayaan selanjutnya yang dipahami sebagai sebuah sebuah ekosistem, atau system yang saling berfungsi untuk menjaga kelangsungan system tersebut. Masing-masing dalam sisem tersebut mempunyai fungsi dan peranan masing-masing.
Pada masa tahun-tahun pertama timbulnya antropologi sebagai ilmu aliran-alian yang dominan adalah bahwa kebudayaan setiap masyarakat umumnya berkembang menurut cara yang telah tertentu sipatnya dan perkembangan kebudayaan itu dimana-mana seragam sipatnya; dengan demikian diperkirakan bahwa hampir semua masyarakat melewati rentetan tahap-tahap perkembangan yang sama dan akhirnya sampai juga pada tahap yang sama. Sumber-sumber dari perubahan kebudayaan dianggap sudah ada dari semula dalam kebudayan yang bersangkutan, karena itu hasil akhir dari perkembangan kebudayaan tertentu sipatnya menurut factor intern budaya itu. Dua ahli yang menguraikan teori seperti ini adalah Edwar B. Tylor dan Lewis Henry Morgan (Ihromi, 1981:49-60). Pandangan ini memang sangat dipengaruhi oleh pandangan evolusionisme kebudayaan.
Struktur Sosial
Berbicara tentang pendekatan structural-fungsioanlisme, maka kita terlebih dahulu memulai dari keanekaragaman yang terdapat dalam masyarakat sebagai fungsi-fungsi tadi.Keanekaragaman ini dapat dilihat dalam struktur social masyaratakat. Oleh sebab itu kita harus memulai dari struktur social. Struktur sosial merupakan sebuah istilah yang sering digunakan dalam ilmu-ilmu sosial yang didefenisikan sebagai sebuah konsep yang jelas (Jary and Jary 1991, Abercrombie et al 2000). Istilah struktur sosial digunakan sebagai pandangan umum untuk menggambarkan sebuah entitas atau kelompok masyarakat yang berhubungan satu sama lain, yaitu pola yang relatif dan hubungannya di dalam sistem sosial, atau kepada isntitusi sosial dan norma-norma menjadi penting dalam sistem sosial tersebut sebagai landasan masyarakat untuk berprilaku dalam sistem sosial tersebut.
Konsep tentang struktur social dalam antropologi dalam tahap awal disampaikan oleh Radcliffe-Brown. Dalam pidatonya yang berjudul On Social Structure ia mengemukakan ada sepuluh hal yang berkaitan dengan struktur social.[10] Struktur sosial sebagai hubungan antara entitas yang berbeda atau pola-pola hubungan relatif yang penekanannya pada ide bahwa masyarakat adalah kelompok yang termasuk ke dalam struktur hubungan kelompok yang telah disetting oleh aturan-aturan dengan membedakan fungsi-fungsinya, makna serta tujuan. Sebagai contoh struktur social misalnya ide tentang tingkatan social (social stratification), yang mana idenya adalah membedakan masyarakat ke dalam strata-strata, termasuk ras, kelas, dan gender. Social treatment dari masing-masing individu dengan berbagai macam struktur sosial akan dapat dimengerti jika dihubungkan dengan menempatkan individu-individu atau kelompok ke dalam tingkatan (strata) social.
Struktur sosial dapat dilihat sebagai sesuatu yang penting dalam system social, termasuk di dalamnya sistem ekonomi, sistem hukum, sistem politik, sistem budaya, dan sebagainya. Juga konsep-konsep tentang keluarga, agama, hukum, ekonomi dan kelas adalah semuanya merupakan bagian dari struktur sosial.
Konsep struktur sosial ini telah lama dipakai dalam ilmu-ilmu sosial, yaitu jika ditilik ke belakang maka fungsionalis seperti Herbert Spencer, analisis struktur kelas-nya Karl Marx, atau hasil pekerjaan sosiolog Jerman Georg Simmel pada abad ke-19 sebagai abstraksi interaksi manusia. Bahkan konsep ini meskipun agak berbeda, namun struktur sosial ini juga telah intensif dibangun pada abad tersebut yang berkontribusi terhadap konsep strukturalis-nya Levi-Strauss, konsep feminisme atau perspektif Marxis, juga perspektif fungsionalisnya Talcott Parson dan pengikutnya atau berbagai macam perspektif analisis (lihat Blau, 1975, Lopez dan Scott 2000). Struktur sosial sangat erat berhubungan dengan barbagai macam topik isu sentral dalam ilmu-ilmu social, termasuk hubungan struktur dan agen.
Sebagai catatan bahwa struktur sosial diidentifikasikan sebagai (i) hubungan entitas atau kelompok yang satu dengan yang lain; (ii) sebagai pola untuk dalam berprilaku sebagai anggota dari sebuah sistem sosial dalam hubungannya dengan yang lain; dan (iii) sebagai institusionalisasi norma-norma atau kerangka kerja kognisi (cognitive framework) dalam bertindak dalam sebuah system social. Lopez dan Scott (2000:3) mengemukakan antara institusional struktur (institutional structure) dan struktur hubungan (relational structure), yang mana sebelumnya: … struktur social adalah kelihatan sebagai perbandingan kebudayaan atau pola normatif yang didefenisikan sebagai expectation dari agen-agen yang mengatur perilaku setiap individu dalam hubungannya dengan yang lain. Dia juga mengemukakan bahwa struktur sosial adalah hubungan antara mereka sendiri yang dipahami sebagai pola dari sebab interkoneksi dan ssaling ketergantungan (interdependence) antara agen-agen dan prilaku mereka.
Struktur social ini dapat dibagai dalam 4, yaitu :
· Struktur normatif, yaitu pola dari hubungan dalam struktur yang given antara norma-norma dan mode dari perilaku dalam posisi sosial tertentu;
· Struktur ideal, yaitu pola atau hubungan antara kepercayaan dan visi dalam posisi sosial tertentu;
· Struktur ketertarikan, yaitu pola hubungan antara tujuan dan keinginan dari masyarakat dalam posisi social; dan
· Struktur interaksi, yaitu bentuk-bentuk komunikasi masyarkat dalam posisi social tertentu.
Beberapa percaya bahwa struktur sosial adalah dibangun, oleh sebab itu ada juga yang memahami bahwa struktur social terkait dengan aktor. Sebagai contoh misalnya dalam sistem yang agak besar kita dapat melihat bagimana struktur-struktur social itu dibangun dalam sebuah perusahaan, misalnya ada buruh, manajemen, professional, dan kelas dalam militer, atau konflik diantara kelompok, kompetisi antara partai politik, atau antara elite dan masyarakat. Ada yang mempercayai bahwa hal terebut tidak dihasilkan sebagai proses alamiah tetapi sesuatu yang dibangun (construct), yaitu oleh elite kekuasaan sebagai aktor atau sistem ekonomi yang penekannya pada kompetisi atau kerjasma.
Pemahaman dialektika aktor dan struktur social artinya struktur-struktur hanya ada karena diciptakan, dihidupi, dipelihara oleh pelaku-pelaku sosial, maka perubahan struktur sosial pun hanya bisa dilakukan oleh pelaku-pelaku sosial, sebaliknya, pelaku sosial, kendati bebas, dikondisikan oleh struktur-strukutr sosial tersebut. Dimensi moral berhadapan dengan struktur-strukur sosial terletak di dalam pilihan-pilihan orang akan tatanan sosial, politik atau ekonomi yang ingin diwujudkan dalam kehidupan bersama.
Dalam struktur masyarakat sudah terkandung berbagai posisi sosial. Posisi dan harapan masa depan yang berbeda-beda itu sebagian ditentukan oleh sistem politik dan kondisi sosial ekonomi. Institusi-institusi sosial tertentu mendefinisikan hak-hak dan kewajiban serta mempengaruhi masa depan hidup setiap orang. Jadi institusi-institusi itu sudah merupakan sumber kepincangan karena sudah merupakan titik awal keberuntungan bagi yang satu dan sumber kemalangan bagi yang lain. Maka, etika politik harus mengupayakan cara-cara yang memungkinkan institusi-institusi sosial mendistribusikan hak-hak dan kewajiban-kewajiban dasariah serta menentukan pembagian keuntungan hasil kerja sama sosial. Keadilan yang diarah bukan ingin menghapus ketidaksamaan, melainkan berusaha memastikan terjaminnya kesempatan sama sehingga kehidupan seseorang tidak ditentukan oleh keadaan tetapi ditentukan oleh pilihannya.
Hal ini disebabkan karena konsep struktur sosial adalah aspek statis dari susunan hubungan sosial dalam suatu masyarakat (karena ia terdiri atas status suatu kelompok masyarakat). Selain itu, dalam konsep struktur sosial orang cenderung untuk berbicara tentang pola perilaku yang ideal dan normatif. Dari beberapa kelemahan di atas, diperlukan adanya suatu perubah derivative (turunan) dari struktur sosial, yang bersifat dinamis, terdiri atas role (aturan) dan yang berbicara tentang pola perilaku yang ideal dan situasional, yaitu kelompok sosial. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Noronha dan Spears, tentang perlunya kelompok social dimasukkan dalam peubah sosiologi yang harus diperhatikan.
Demikian struktur sosial dari sisi defenisi, dan jenis-jenisnya, maka pendekatan struktural-fungsionalisme menempatkan struktur sosial sebagai sesuatu yang penting. Strukural-fungsional berangkat dari keanekaragaman, yaitu struktur social yang berbeda-beda. Dan keanekaragaman teresebut dipandang berfungsi sebagai sesuatu yang penting untuk menjalankan dan mempertahankan sistem atau fungsionalisme.

Representasi, Komparasi dan Generalisasi

Seperti halnya ilmu-ilmu alam, ilmu-ilmu social sebelumnya dianggap lunak dan dianggap tidak ilmiah (Band. Saifuddin, 2005:53-68). Hal ini disebabkan pendekatan yang digunakan tidak dapat memprediksi, sementara bidang-bidang ilmu lainnya, dapat memprediksi. Oleh sebab itu dalam rangka meng-ilmiahkan ilmu-ilmu social pada umumnya maka pendekatan-pendekatan yang dilakukan juga mulai ada kecenderungan ke arah pendekatan-pendekatan ilmu-ilmu alam yaitu dengan melakukan pengukuran-pengukuran dengan memperlakukan ilmu-ilmu social seperti matematis dan memprediksi. Pendekatan-pendekatan ini berimplikasi dalam memberikan makna dan defenisi kajian ilmu itu sendiri, misalnya bagaimana mendefenisikan ke budayaan. Dalam pendekatan ini kebudayaan dipandang sebagai given dan statis. Karena memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang statis, maka isu-isu representasi dan generalisasi menjadi sangat relevan dan penting karena secara metodologi diawali dengan keanekaragaman. Hal ini dapat kita lihat dalam penelitian-penelitian pada masa sebelum tahun 60-an yang disebut dengan paradigma positivistik.[11]
Kepustakaan kita hingga tahun 1970-an masih didominasi oleh pemikiran dan pendekatan pluralisme kebudayaan. Antropolog pada masa itu lebih cenderung berpikir tentang aneka ragam kebudayaan bagaikan kotak-kotak yang khas dengan isinya yang unik, sehingga mereka memerhatikan unsur-unsur yang sama dan berbeda berdasarkan azas komparatif dan lintas budaya agar dapat membangun semacam “generalisasi”. (Saifuddin, 2005:364). Apa yang dibangun oleh peneliti dalam laporannya hal itu dianggap sebagai representasi, karena objek penelitiannya adalah masyarakat yang cenderung ‘homogen’.[12]
Dalam penelitian seperti ini maka antropologi memungkinkan untuk melakukan penelitian kwantitatif [-- meskipun pendekatan kwalitatif pun dapat digunakan, tetapi tidak dipakai --] dan memang pada masa awal didominasi [hampir seluruhnya ?] penelitian kwantitatif. Dalam penelitian kwantitatif, kida dapat melihat apa yang dilakukan oleh Tylor, Morgan, Murdock, dan sebagainya yang melakukan penelitian dengan membuat kuisioner. Kemudian dari hasil penelitian ini adalah untuk membangun atau memproduksi generalisasi, yaitu sintesis yang dapat diterapkan pada tingkat konseptual, abstraksi yang lebih tinggi sebagai generalisasi. Dan ini dipahami sebagai penelitian social yang ilmiah. Di Indonesia juga pada tahap awal pendektan ini juga pernah diterapkan. Hal ini dapat kita lihat dari buku-buku teks yang ada misalnya buku-buku Koentjaraningrat.
Koentjaraningrat (1990) misalnya mengatakan untuk memantapkan generalisasi mengenai kaitan-kaitan dari unsur-unsur kebudayaan dapat dilakukan melalui penelitian komparatif untuk menguji korelasi-korelasi antara unsur-unsur kebudayaan atau pranata sosial. Lebih jauh ia menyebutkan bahwa untuk memudahkan melakukan penelitian komparatif diperlukan sarana bagi para peneliti social untuk mencari sebanyak mungkin data, karena itu Steinmetz (1898) mengembangkan system “kartu” (catalogue des peuples) yaitu dengan sistematik tertentu terdapat kartu-kartu yang memuat data yang diambil dari beratus-ratus buku dan karangan etnografi mengenai sebanyak mungkin suku bangsa di dunia.
Radcliff-Brown adalah salah seorang pencetus ide komparatif studi dalam antropologi. Dalam Barnard (2001), ia mengatakan bahwa pemecahan dari berbagai masalah fundamental dalam science tergantung pada pembandingan sistematik dari sejumlah masyarakat dari tipe-tipe yang berbeda. Lebih lanjut ia membedakan antara struktur social (social structure) yaitu observasi aktual dan bentuk struktural (structural form) yang merupakan generalisasi. Sebagai contoh apabila seorang antropolog mengamati hubungan antara seorang kepala suku dengan masyarakatnya, hal itu adalah pengamatan pada struktur sosial. Tetapi pada saat antropolog melakukan generalisasi tentang peran seorang kepala suku, hal adalah penggambaran tentang bentuk struktural. Bagi Radcliff-Brown, antropolog dapat membandingkan structural form dari suatu masyarakat dengan masyarakat lainnya yang memungkinkan mereka untuk kemudian menyimpulkan aturan umum (general laws) tentang bagaimana cara masyarakat tersebut bekerja.
Hal yang sama dilakukan oleh GP Murdock. Ketertarikannya dengan system kekerabatan manusia membuatnya melakukan penelitian untuk memahami sifat-sifat masyarakat yang mempunyai system kekerabatan berdasarkan patrilineal dan matrilineal. Unsur kebudayaan yang ditelitinya adalah mata pencarian, kemampuan membuat tembikar dan memandai logam, menenun, menulis, menggunakan mata uang, keahlian tukang, stratifikasi social, bentuk pemerintahan dan jabatan kependetaan, dikaitkan dengan system kekerabatan pada 236 kebudayaan suku-suku bangsa yang tersebar di muka bumi dalam bukunya Correlation of Matrilineal and Patrilineal institutions (1937).

Murdock juga mengeluarkan bukunya yang berjudul Its people and Their Culture History (1959) yang memuat deskripi-deskripsi singkat dari data yang dikumpulkan dari system kartu etnografi Yale University serta dari beratus-ratus buku maupun karangan etnografi di perpustakaan. Dengan bantuan para mahasiswanya, Murdock terus menerus memperbaharui system kartu etnografinya dengan tujuan memindahkan sebanyak mungkin data etnografi dari buku-buku etnografi ke dalam system kartu etnografi. Tahun 1949, Yale University melanjutkan upaya pemrosesan dan pengelolaan system kartu etnografi Murdock yang kemudian diberi nama resmi Human Relation Area Files (HRAF).
Hasil-hasil penelitian seperti ini maka muncul kebudayaan yang lebih melihat tipikal, yaitu penekanan pada kebudayaan berdasarkan tempat-tempat yang sama atau yang berbeda dengan cara membanding-bandingkannya (cultural area) dan mengesampingkan kebudayaan sebagai ide (cultural idea). Misalnya kebudayaan Indonesia, kebudayaan Amerika dan sebagainya. Kemudian kita dapat melihat persamaan-persamaan dan perbedaan itu misalnya munculnya ras, suku bangsa, kekerabatan, dan sebagainya berdasarkan statistik.
Sebagaimana disebutkan sebelumnya, penelitian kuantitatif menggunakan pendekatan statistik dengan menggunakan jumlah sample yang cukup besar. Salah satu metode yang digunakan pada penelitian kuantitatif adalah melalui survey dengan menggunakan kuisoner. Hal yang paling fundamental dalam pelaksanaan survey adalah penelitian dilakukan pada sample responden yang mewakili (representative) yaitu sample responden yang dibangun sedemikian rupa hingga dapat menggambarkan karakteristik dari keseluruhan populasi dalam skala yang lebih kecil (Corbetta, 2003).
Ember dan Ember (2001) menjelaskan bahwa antropolog dapat melakukan interpretasi pada perbandingan secara luas di dunia dengan melihat perbedaan antara masyarakat yang memiliki ataupun kurang memiliki karakteristik budaya tertentu. Penelitian ini disebut dengan “cross cultural research”. Keuntungan dari studi ini adalah kesimpulan yang diambil kemungkinan dapat diterapkan di hampir seluruh masyarakat di seluruh region/wilayah. Walaupun demikian, semakin banyak jumlah sample masyarakat dalam penelitian maka semakin sedikit peneliti memiliki informasi detail mengenai masyarakat tersebut.
Lebih lanjut Ember dan Ember (2001) mengatakan antropolog dapat melakukan analisa pada masyarakat tertentu dan keluar dengan suatu “teori” dengan cara studi komparatif dari beberapa kelompok masyarakat. Sang antropolog dapat menemukan penjelasan (explanation) dengan cara membandingkan masyarakat yang berbeda yang memiliki karakteristik yang sama, untuk menemukan karakteristik lainnya yang secara regular muncul bersamaan. Teori sendiri didefinisikan oleh Ember dan Ember sebagai penjelasan dari hukum-hukum dan asosiasi statistik.

Sementara itu meskipun penelitian yang bersifat kualitattif juga sebenarnya dapat digunakan, namun dari hasil penelitian awal, penelitian ini belum begitu banyak diterapkan meskipun perkembangan selanjutnya mengalami berbagai perubahan-perubahan. Dalam penelitian kualitatif maka faktor informan menjadi isu yang sangat penting. Penentuan informan selalu terkiat dengan kebudayaan mana yang diteliti. Informan yang dipilih biasanya dilihat dari sisi kedalaman pengetahuannya tentang kebudayaan yang akan diteliti. Oleh sebab itu factor usia informan juga misalnya menjadi sangat penting, karena informan dalam penelitian kualitatif ini menyangkut representasi, yaitu keterwakilan dari masyarakat tertentu dalam sebuah kebudayaan. Representasi informasi dari informan akan mereduksi yang kompleks menjadi sederhana, karena informan tersebut dianggap mengetahui kebudayaan yang ‘given’ tersebut. Oleh sebab itu dalam penelitian ini sangat memungkinkan adanya key informan. , yaitu dengan adanya sample.
Dalam interview penelitian kualitatif, subyek yang diteliti lebih diharapkan untuk dapat memenuhi kebutuhan menggambarkan kisaran situasi sosial yang terjadi daripada menghasilkan gambaran populasi secara luas. Interview dalam penelitian kualitatif rata-rata memiliki jumlah sample sekitar 100 unit, jumlah yang terlalu kecil untuk mempertimbangkan “keterwakilan”. Karena itu penelitian kualitatif tidak mengikuti criteria statistic yang dimaksudkan dengan “keterwakitan” tetapi lebih menekankan pada keterwakilan substansi yang dapat menglingkupi/mengkover situasi social yang significant bagi penelitian. Seringkali dalam penelitian kualitatif tidak ada desain sampling dan teknik “snowball” dalam mendapatkan informan lebih umum digunakan (Corbetta, 2003).
Sejarah antropologi di Cina misalnya, untuk membangun generalisasi tadi, Lembaga Bahasa-Bahasa dan bangsa-bangsa minoritas Nasional, menurut keterangan resmi dari petugas-petugasnya, telah mengirimkan banyak ahli serta asisten-asistennya (konon jumlahnya mencapai tiga ribuan orang) ke berbagai daerah untuk mengumpulkan bahan tentang bahasa dan kebudayaan suku-suku bangsa itu. Adapun bahan-bahan yang dikumpulkan menurut isntruksi berupa : (1) bahan tentang system ekonomi dan system klas di daedrah-daerah; (2) adat-istiadat serta ritus dan upacara agama; (3) sejarah daerah secara konkrit berupa pengumpulan buku-buku kuno, prasasti-prasasti dalam bahasa daerah, dongeng-dongeng dan kesusastraan rakyat yang langsung di catat dari mulut orang tua; (4) bahan tentang bahasa-bahasa daerah; dan (5) benda-benda etnogrrafika. (Koentjaraningrat, 1987:158)Hasil kumpulan tersebut dianalisis dalam bentuk statistik dari persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaannya.
Memang pada tahun-tahun 1950an dan 1960an pendekatan analisis data yang bersipat statistik (statistical analysis) sangat umum dilakukan oleh para antrropolog (Seymour-Smith, 1990:267). Hal ini dilakukan dengan hasil data berupa angka-angka, presentasi tabulasi dan kalkulasi makna. Hampir semua antropolog atau etnografer pada masa itu mencoba untuk melakukan pendekatan deskripsi holistic dari bebagai aspek kebudayaan dengan pendekatan kwantitatif. Hal ini dikarenakan ingin menempatkan bahwa ilmu-ilmu social [antropologi] sebagai sebauh disiplin ilmu [ilmiah].
Dalam penulisan Sejarah Kebudayaan Indonesia, yang disusun oleh Soekmono (1981)[13] jelas sekali kita lihat bagaimana kebudayaan itu dipandang sebagai konsep Three-in-One, dalam buku-buku teks Koentjaraningrat, yaitu system ide atau gagasan, prilaku, dan hasil dari tindakan. Penjelasan—penjelasan tentang kebudayaan dijelaskan secara evolusionisme, mulai dari masa pra-sejarah sampai pada masuknya peradaban Barat. Disamping latar belakang penulisnya juga dari arkeologi, maka pendekatan ‘kebendaan’ yaitu sisa-sisa peninggalan masa lampau dijadikan sebagai bahan kajian kebudayaan untuk membuktikan sejarah kebudayaan yang bersangkutan. Oleh sebab itu fosil pithecanthropus erectus yang ditemukan oleh E. Dubois di pinggiran Bengawan Solo sangat penting artinya dalam mengungkapkan sejarah manusia. Mereka melakukan pengukuran-pengukuran tulang-belulang, gigi, dan tengkorak sebagai bahan analisis.
Contoh yang paling baru bagi kita, misalnya penemuan fosil di Liang Buah, Flores, yang kemudian lebih dikenal dengan homo florensis[14] menunjukkan bagaimana paleoantropologi atau arkeologi menggunakan metode dalam menganalisis tengkorak tersebut. Para arekeolog melakukang pengukuran-pengukuran secara mendetil dari bagian-bagian tengkorak tersebut. Paleoantropologi menempatkan kebudayaan sebagai materi (kebendaan) yang statis yang tidak terjadi proses perubahan. Oleh sebab itu pertentangan-pertentangan antara berbagai ilmuwan yang masih diperdebatkan karena berbeda pendapat, tetapi masing-masing dari mereka menggunakan pengukuran-pengukuran atas fosil tersebut. Bahkan untuk menarik suatu kesimpulan mereka juga menggunakan ilmu kedokteran. Karena para arkeolog melakukan pendekatan kebudayaan “trilogy”, dan bahan kajian berupa peninggalan-peninggalan masa lalu seperti artefak, menhir, dolmen, sarkofagus, fosil-sosil, dan sebagainya dilakukan dengan cara pengukuran terhadap benda-benda tersebut yang dapat dikatakan sangat positivistic.[15]
Dalam perkembangan selanjutnya dalam sejarah antropologi ada pendekatan yang dipakai dengan melakukan perbandingan yang diawasai yang bukan histories. Dalam suatu perbandingan terkontrol seorang antrop[olog membandingkan informasi-informasi etnografis dari sejumlah masyarakat yang terdapat di suatu kawasan tertentu yang diperkirakan masyarkat itu mempunyaiu sejarah yang sama. Biasanya antropolog sudah mengenal terlebih dahulu keseluruhan unsure-unsur budaya yang menjadi cirri khas dari wilayah yang bersangkutan. Perbandingan yang diawasi tidak hanya berguna untuk menghasilkan penjelasan-penjelasan tetapi juga berguna untuk ‘menguji’ penjelasan-penjelasan yang diajukan. Karena perhatian antropologi pada jaman-jama awal adalah ‘sejumlah masyarakat’ dalam bidang perhatiannya. Jadi dilihat persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaan dengan masyarakat-masyarkat yang tidak memilikinya (persamaan-perbedaan).

Struktural-Fungsionalisme

Emile Durkheim (1858-1917)[16], sosiolog Perancis yang pikirannya sangat dipengaruhi oleh Auguste Comte, merupakan sosiolog yang sangat mendambakan pendekatan ilmiah dalam memahami fenomena sosial. Teorinya berawal dari pemahaman bahwa kelompok manusia memiliki sifat yang lebih dari atau sama dengan jumlah dari sifat-sifat individual yang menyusun kelompok tersebut. Dari sini ia menerangkan banyak hal, bahwa sistem sosial seimbang oleh karena adanya nilai-nilai yang dianut bersama oleh individu, seperti nilai moral dan agama. Inilah yang mengikat individu dalam kelompok masyarakat. Rusaknya nilai-nilai ini berarti rusaknya kesetimbangan sosial; melalui ketidaknyamanan pada individu-individu masyarakatnya. Contohnya yang terkenal adalah kasus bunuh diri. Menurutnya, orang bunuh diri karena hilangnya rasa memiliki dan dimiliki orang tersebut dalam masyarakat. Secara ekstrim, fungsionalis berfikir bahwa masyarakat pada awalnya disusun oleh individu yang ingin memenuhi kebutuhan biologisnya secara bersama, namun pada akhirnya berkembang menjadi kebutuhan-kebutuhan sosial. Kelanggengan kolektif ini membentuk nilai masyarakat, dan nilai inilah yang membuat masyarakat tetap seimbang (ekwilibrium). Dengan demikian maka pendekatan yang dipakai sangat positivistic sekali.
Sosiolog Amerika Serikat, Talcott Parsons (1902-1979), diklaim sebagai seorang fungsionalis. Teorinya didasarkan pada mekanisme sosial dalam masyarakat dan prinsip-prinsip organisasi di dalamnya. Pengembangan ini disebut juga struktural-fungsionalisme. Dalam pandangan ini, masyarakat tersusun atas bagian-bagian seperti misalnya rumah sakit, sekolah, pertanian, dan seterusnya yang terbagi berdasarkan fungsinya.
Secara ringkas, fungsionalis melihat masyarakat ibarat sebuah organisme, makhluk hidup yang bisa sehat atau sakit. Ia sehat jika bagian-bagian dari dirinya (kelompok fungsional, individu) memiliki kebersamaan satu sama lain. Jika ada bagiannya yang tidak lagi menyatu secara kolektif, maka kesehatan dari masyarakat tersebut terancam, atau sakit. Dalam hal ini hukuman/sanksi sosial terhadap penjahat dapat dipandang sebagai cara untuk mencegah sakitnya sistem sosial.
Salah seorang fungsionalis Amerika yang lain, Robert K. Merton (1911-2003) menggunakan terminologi fungsionalisme taraf menengah. Secara teoretis, Merton memiliki perspektif yang sama dengan sosiolog fungsionalisme pendahulunya, namun yang menjadi sorotan utamanya adalah pengembangan teori sosial taraf menengah. Dalam pengertian Merton, teori taraf menengah adalah teori yang terletak di antara hipotesis kerja yang kecil tetapi perlu, yangberkembang semakin besar dari hari ke hari, dan usaha yang mencakup semuanya untuk mengembangkan suatu teori terpadu yang akan menjelaskan semua keseragaman yang diamati dalam perilaku sosial, organisasi sosial, dan perubahan sosial. Hal ini adalah responnya terhadap semangat Parsons yang hingga akhir hidupnya ingin menyelesaikan teori tunggal tentang sistem sosial (grand unified social theory).
Anthony Giddens, sosiolog Inggris mengembangkan apa yang disebutnya sebagai sosiologi sehari-hari. Sosiologi didasarkan pada pemahamannya atas strukturasi dalam sistem sosial. Teori ini ditawarkan dalam kerangkan membahas pertanyaan-pertanyaan seperti apakah agen manusia atau kekuatan sosial yang besarkah yang membentuk masyarakat - bagaimana interaksi mikorostruktur dengan makrostrukturnya. Teori strukturasi menunjukkan bahwa agen manusia secara kontinu mereproduksi struktur sosial - artinya individu dapat melakukan perubahan atas struktur sosial.

Implikasi Teoritis dan Metodologi

Dalam pendekatan strukutral-fungsionalisme penjelasan tentang kebudayaan adalah sangat perlu sebelum mengkaji kebudayaan itu lebih lanjut. Norma-norma dan nilai-nilai ditempatkan sebagai garda terdepan dalam struktur social sebagai acuan untuk bertindak. Dan norma-norma, aturan, nilai serta hokum dipandang sebagai statis. Dan ini menjadikan struktural-fungsionalisme bersifat statis, positivistic dan sangat etik. Lihat saja misalnya dalam tulisan Malinowski dalam Argonauts of the Western pacific (1922) ataupun Radcliffe-Brown The Andaman Islander (1922), dimana mereka dalam membuat teoritis sangat etik sekali. Bahkan Brown sendiri sangat sedikit sekali waktunya berada di lapangan. Dalam mengumpulkan data, maka informan yang mereduksi yang kompleks membutuhkan berbagai pertimbangan-pertimbangan bagi peneliti. Misalnya keluasan pengetahuannya (experts), usianya, statusnya dan sebagainya.
Walaupun demikian, banyak pula antropolog yang mempertanyakan sejauh mana kita tahu bahwa semua yang diketahui oleh informan adalah keterwakilan dari populasi yang sedang kita teliti (Bernard dalam Borofsky,1994). Beberapa peneliti seperti Johnson (1990) dan Batchelder et.all (1986) mencoba untuk membangun teknik tentang bagaimana cara memilih informan yang ahli (experts) dari bidang yang sedang kita teliti.
Seperti kita ketahui bahwa pendekatan-pendekatan seperti di atas adalah merupakan pendekatan yang sangat dominan dan banyak dipakai oleh para antropolog awal, yaitu pendekatan-pendekatan evolusionisme sampai kepada paradigma strukutral-fungsionalisme sebelum tahun 1960-an[17]. Pendekatan-pendekatan yang berawal dari keanekaragaman ini juga mengalami perkembangan seiring dengan nama-nama besar yang melahirkan teori baru, misalnya terjadinya bergeser dari kajian struktur sosial Durkheim dan Radcliffe-Brown ke proses sosial. Konsekuensi logis dari proses sosial adalah menempatkan kekuasaan sebagai konsep kunci, dan pada saat yang sama menyingkirkan konsep evolusi sosial dan struktur sosial yang statis. Dalam hal ini Layton (1997) misalnya dalam menulis sejarah teori antropologi, nampaknya cukup kuat dipengaruhi oleh trend antropologi masa kini yang mempertanyakan dan mengevaluasi kembali beberapa persoalan mendasar dalam teori dan metodologi, seperti misalnya, representativitas kebudayaan, etnografi, model versus deskripsi, emik dan etik dalam kajian antropologi. Namun meskipun baru setelah tahun 1960-an pendekatan itu mulai ditinggalkan, namun sampai sekarang juga pendektan-pendekatan seperti itu masih saja dilakukan orang. Ini menunjukkan bahwa pendekatan tersebut sebenarnya sangat kuat dalam antropologi. Meskipun muncul-paradigma-paradigma baru dalam antropologi setelah itu, namun setidaknya pendekatan structural-fungsionalisme menyumbang banyak dalam pembentukan paradigma-paradigma yang baru.
Paradigma seperti positivistik tersebut sebenarnya dimaksudkan untuk menjawab berbagai pertanyaan dan demi membuat kajian antropologi itu ilmiah. Seperti dikemukakan oleh Pelto dan Pelto (1989:24) dalam Saifuddin (2005:15): “Antropologi dapat dipandang ilmiah karena kajian ini meliputi kegiatan akumulasi pengetahuan yang sistematik dan dapat dipercaya mengenai sesuatu aspek universal yang dilaksanakan melalui pengamatan empiris dan diintepretasi dalam konteks antarhubungan konsep-konsep yang lebih disukai bagi pengamatan empiris”. Selain itu para antropolog juga menerimma konsep Popper bahwa keberulangan (falsifiability) adalah kriteria esensial dari pendekatan ilmiah. Maka, Cohen (1970:32) mengatakan bahwa “apakah suatu teori itu ilmiah atau tidak akhirnya tergantung pada apakah gagasan-gagasan yang ada didalamnya dapat dites validitas”.
Corbetta (2003) misalnya, menjelaskan bahwa paham positivism[18] pada waktu itu sangat berkembang dan kemudian diikuti dengan neopositivism serta pospositivism (neopositivism dan pospositivism dibedakan bedasarkan waktu dan tingkat intensitas). Paham positivism secara fundamental bersifat inductive - bergerak dari spesifik ke umum/general, atau kita kenal sebagai kwantitatif – yaitu proses dimana generalisasi atau hukum universal didapatkan dari observasi empiris, melalui identifikasi dari suatu bentuk keteraturan (regularities) dari kenyataan social yang diteliti secara empiris. Menurutnya, sifat dasar dari pendekatan positivism adalah umum (general) dan dapat dibedakan (deterministic). Dalam hal ini fenomena social dapat disurvey, diukur, berkorelasi, dikembangkan, diformalkan dan teorinya dapat dikonfirmasi atau ditolak tanpa keraguan, karena itu penelitian kuantitatif merupakan validasi empiris dari hipotesa-hipotesa.
Tujuan dari penelitian kuantitatif adalah untuk memproduksi generalisasi, yaitu sintesis yang dapat diterapkan pada tingkat konseptual, abstraksi yang lebih tinggi (seperti hubungan sebab-akibat antar variable) pada bidang yang lebih luas (seperti masyarakat, berbeda dengan masyarakat yang diteliti). Secara umum, penelitian kualitatif kurang tertarik pada generalisasi penemuan dan lebih menekankan pada kondisi spesifik dari situasi social dimana penelitian dilaksanakan. Menurut ahli-ahli penelitian kuantitatif, pendekatan kualitatif bukan merupakan science, walaupun pengikut penelitian kualitatif menganggap bahwa penerapan dasar-dasar ilmu alam tidak akan mampu untuk mengungkapkan kenyataan social yang terjadi (Corbetta, 2003).
Pada generalisasi, hubungan-hubungan yang diajukan dianggap valid pada suluruh kalangan masyarakat (kemungkinan untuk seluruh umat manusia). Hubungan-hubungan tersebut diambil dari pola-pola empiris, sebagai contoh Durkheim secara deduktif dan empiris membuktikan teorinya melalui analisa statistic yang menghasilkan ramalan-ramalan (forecast) yang membuatnya untuk dapat memperkirakan bahwa tingkat bunuh diri di Irlandia lebih kecil daripada di England (Corbetta, 2003).
Bagi Harris dalam Borofsky (1994), generalisasi dapat dikatakan sebagai “aturan procedural” dimana aturan-aturan tersebut dapat digunakan ataupun diabaikan. Tetapi mengabaikan aturan-aturan, bagi Harris, adalah sama dengan menghentikan ilmu pengetahuan (science). Lebih lanjut Harris menjelaskan bahwa tidak ada pembatasan pada particularity (kekhasan) terutama apabila kita membahas perbedaan-perbedaan secara individual pada suatu kejadian, manusia atau bukan manusia, hal tersebut akan menghabiskan waktu dan sumber daya kita. Untuk alasan ini baginya, “endless particularity is the exact equivalent of endless ignorance”.
Creswell (2003) mengatakan bahwa teori adalah sekumpulan variable yang saling berhubungan, definisi, atau proposisi/hipotesa yang menjelaskan pandangan yang sistematis atas suatu gejala dengan menspesifikasikan pada hubungan-hubungan antara variable dengan maksud menjelaskan suatu gejala alamiah. Teori berkembang setelah peneliti melakukan tes (pembuktian) beberapa kali.
Paradigma structural fungsional adalah paradigma yang paling dominant dalam melakukan penelitian kuantitatif untuk menghasilkan generalisasi dalam teori-teori besar. Sebagai contoh, para antropolog seperti Tylor dan Murdock, menggunakan analisa statistic antara tiga sampai empat ratus kasus berkaitan dengan topic yang diteliti (Borofsky, 1994).
Dalam penelitian kuantitatif, hubungan personal antara peneliti dengan subyek yang diteliti tidak dianggap penting sebagaimana penelitian kualitatif. Pada penelitian kuantitatif observasi dilakukan pada posisi terpisah dengan subyek yang diteliti, sehingga secara “scientific” observer dikatakan netral dan tidak mempengaruhi data yang dikumpulkan (Corbetta, 2003). Karena itu tidak mengherankan apabila beberapa antropolog pada masa tahun 1930an mengembangkan teori besar dari bahan etnografi orang lain (arm-chair antropolog) seperti Levi-Strauss, Murdock, Tylor, dan Fraser. Bahan-bahan etnografi tersebut dikumpulkan dari para penjelajah, terutama para pendeta penyiar agama nasrani yang menulis banyak laporan perjalanan, pengalaman hidupnya selama hidup di negara lain. Mereka tidak hanya menulis tentang aktivitas, tetapi juga kebudayaan pada suku-suku di mana mereka bekerja (Koentjaraningrat, 1987).

Generalisasi ke Refleksi

Sepintas, terlihat dengan jelas bahwa terdapat perbedaan-perbedaan yang sangat besar di antara teori-teori sosial yang ada. Misalnya, yang mendasarkan perhatian pada struktur sosial akan berangkat dengan memperhatikan masyarakat condong kepada fungsionalisme, sementara di sisi lain yang berfokus pada dinamika masyarakat dan perubahan sosial akan cenderung untuk melihatnya dengan landasan konflik; bahkan melihat pola kerja sama individual atau antar kelompok dalam bentuk konflik pula, dan yang fokus pada bagaimana individu dalam membentuk struktur sistem sosial dan sebaliknya sistem sosial mempengaruhi perilaku individu melihatnya dengan kecondongan pada interaksionisme. Demikian seterusnya, dan seiring dengan perkembangan waktu dan spesialisasi obyek sosial yang hendak didekati, maka teori sosial akan cenderung terus bertambah.
Struktural-fungsionalisme yang berangkat dari struktur social tentunya berpengaruh atau menyumbang besar terhadap pengembangan teori selanjutnya. Diakui atau tidak diakui, namun structural-fungsionalisme banyak menyumbang atau sebagai ide untuk membuat teori-teori selanjutnya. Struktur itu ada dimana-mana. Bahkan teori Marxis juga dapat kita lihat bagaimana struktur social itu menjadi penting. Totalitas dari Klas-Klas, lapisan-lapisan dan kelompok sosial serta sistem yang mengatur hubungan antar mereka ini kemudian membentuk struktur sosial masyarakat. Dalam menganalisis struktur sosial, Marxisme membuat pembagian antara Klas fundamental dan Klas non fundamental. Klas-Klas fundamental adalah Klas-Klas yang dilahirkan dari corak produksi yang berlaku, dimana Klas-Klas tersebut tidak mungkin kita temukan di bawah corak produksi lainnya. Kontradiksi mendasar dari corak produksi yang berlaku, terwujud dalam pola hubungan dan pola perjuangan antar Klas. Seluruh corak produksi yang antagonistik ditunjukkan dengan keberadaan dua Klas yang secara fundamental saling bertentangan.
Dalam konteks dikotomistis ini, Parsond tampil untuk menyatukan dikotomi ini dengan teori fungsionalisme-struktural. Ia ingin memperlihatkan bagaimana posisi individu-individu dari perannya dalam fungsi-fungsi struktur sosial. Namun demikian, tujuannya untuk menjelaskan "bagaimana keteraturan masyarakat itu dimungkinan" justru menyeret dia untuk lebih mementingkan sistem struktur sosial daripada individu-individu. Posisi yang sama juga telah dilakukan Herbert Mead lewat teori "Interaksionisme-simbolis". Baginya, struktur sosial memang menyediakan kondisi-kondisi tindakan sosial, tetapi tidak menentukan.
Dalam perkembangan teori-teori ilmu social yang paling kontemporer, usaha untuk melihat hubungan masyarakat (individu-individu) dengan struktur sosial secara seimbang juga sedang dilakukan. Berger, misalnya, mencoba menghindari kecenderungan yang lebih menekankan salah satu kutub melalui teori "konstruksi sosial". Menurut teori ini, dunia social dalam pola hubungan yang dialektis antara individu dan struktur sosial melalui tiga momentum proses, yakni eksternalisasi, objektivisi, dan internalisasi.
Kita juga melihat usaha yang sedang dirumuskan oleh Anthony Giddens lewat teori "strukturasi". Giddens dalam konteks aktor dan struktur social ini menunjukkan titik tolak hubungan tersebut dalam kesadaran subjek yang bersifat intensional. Kesadaran itu baginya bukan sesuatu yang tertutup dan terlepas dari objek-objek yang disadari, tapi kesadaran selalu mengarah dan melibatkan objek. Demikian pula tindakan sosial (agency) selalu mengandalkan keterlibatan struktur sosial. Tindakan social tidak pernah terlepas dari struktur sosial, struktur dalam konteks tindakan sosial, dengan demikian, berperan sebagai sarana (medium) dan sumber-daya (resources) bagi tindakan sosial, yang kemudian membentuk sistem dan institusi sosial. Bentuk pelibatan tindakan sosial dengan struktur ini ditunjukkan Giddens dalam apa yang disebutnya sebagai "recurrent sosial practioces".
Proses strukturasi ini terjadi pada tingkat kesadaran praktis (practical consciousness). Dan pada level kesadaran ini pula struktur dibangun dan dilanggengkan dalam rutinisasi dan direproduksi. Ini bisa berlangsung karena pada tindakan sosial yang berulang-ulang berakar suatu rasa aman ontologis (otological anxiety). Proses strukturasi ini mencapai titik baliknya pada kesadaran diskursif (discursive conciousness). Dalam kesadaran yang terakhir inilah terbentuk daya reflexity dalam diri pelaku (agency) untuk mengambil jarak dan mensiasati secara kritis suatu gejala. Perubahan sosial dalam konteks ini terjadi lewat aplikasi reflexity.
Perubahan struktur-struktur sosial bisa terjadi bila ada diskontinuitas antara struktur-struktur tersebut dan pelaku, semakin banyak orang mengambil jarak terhadap praktik sosial tertentu akan mempercepat proses pengusangan struktur yang menjadi aturan praktik social tertentu, akan mempercepat pengusangan struktur yang menjadi aturan praktik sosial. Tumbangnya rezim Orde Baru bisa terjadi karena banyak orang mengambil jarak melalui proses dan kritik terhadap praktik-praktik kekuasaannya. Akan tetapi, ternyata perubahan rezim tidak otomatis merubah praktik-praktik social lama. Pengambilan jarak terhadap praktik-praktik sosial lama sebagai kesadaran kolektif ternyata lebih bersifat insidental, artinya hentakan tidak akan menjadi suatu tindakan yang berlangsung lama.
Demikian dalam materialisme kebudayaan, strukturalisme Levi-Strauss, tindakan social dan sebagainya meskipun satu paradigma berbeda latar belakang pemikirannya untuk melihat sebuah kebudayaan, namun paradigma structural-fungsionalisme yang juga banyak mendapat pengaruh dari evolusionisme, menyumbang pemikiran banyak terhadap teori-teori selanjutnya. Oleh karena itu struktur-fungsionalisme sangat kuat. Memang banyak kritikan-kritikan terhadap struktur-funngsionalisme tersebut karena perubahan yang terjadi dalam masyarakat. Struktural-fungsionalisme sangat positistik dan menempatkan kebudayaan sebagai statis dan tidak melihat proses perubahan, serta selalu membangun generalisasi.
Dalam pendekatan konsep struktural-fungsionalisme, konsep generalisasi merupakan satu konsep yang sangat penting. Dimana dalam pendekatan struktural-fungsionalisme selalu berusaha ingin mencapai generalisasi. Oleh sebab itu pendekatan-pendekatan yang dilakukan untuk mencapai generalisasi tersebut dilakukan dengan cara pembandingan (comparativnes) secara lintas budaya (cross-culturally), yaitu dengan melihat persamaan-persamaan dari keanekaragaman, dan menarik suatu kesimpulan dari khusus ke umum. Hal ini seperti telah disebutkan di awal dalam rangka meng’ilmiah’kan antropologi yang dianggap sebagai ilmu yang lunak. Namun pendekatan ini [khusus – umum] mendapat sorotan, bahwa struktural-fungsionalisme ini terkadang atau dianggap tidak sampai dalam tahap genralisasi tersebut karena banyaknya distorsi-distorsi. Dan isu generalisasi ini diusulkan untuk dihindari dan lebih ditekankan kepada refleksi. Memang cara mengkomparasi dan statistika pada kebutuhan tertentu memang masih dibutuhkan. Misalnya dalam mengambil kebijakan yang besar oleh pemerintah, maka generalisasi dari hasil komprasi dan statistika dianggap penting untuk melakukan sebuah policy. Oleh sebab itu dalam membuat kebijakan pemerintah masih membuat semacam teritorialisasi kebudayaan, karena berfikir statistik tadi.

DAFTAR PUSTAKA

Bannard, A. (2001) History and Theory in Anthropolgy. Cambridge: University Press.
Boroffsky, Robert (1994) Assessing Cultural Anthropology. New York: McGraw-Hill, Inc.
Cohen, Myron (1970) “Developmental Process in the Chinese Domestic Group.” In Maurice Freedman, ed., Family and Kinship in Chinese Society. Stamford, California: Satmford University Press.
Cohen, R., (1970) “Generalization in Ethnology,” A handbook of Method in Cultural Anthropology (R. Naroll & R. Cohenn. eds.) New York: Columbia University.
Corbetta, Piergiorgio (2003) Social Research : theory, methods and techniques, London UK: SAGE Publication.
Ember,C. R., dan Melvin Ember (1990) Anthropology, New Jersey: Prentice Hall, Englewood Cliffs.
Gidden, Anthony The New Rules of Sociology Method, Polity Press.
Glazer,M; Bohannan,P. (1988) High Points in Anthropology, USA: McGraw Hill.
Haris, Marvin (1971) Culture, People, Nature, an Introduction to General Anthropology. USA: Harper International Edition.
Haris, Marvin (1994) Cultural Materialism Is Alive and Well and Won’t Go Away Until Something Better Comes Along dalam Assessing Cultural Anthropology (Ed. Borofsky,R). USA: McGraw Hill.
Ihromi, T.O. ed. (1981) Pokok-Pokok Antropologi Budaya, Jakarta: Gramedia.
Koentjaraningrat (1987) Sejarah Teori antropologi I, Jakarta: UI Press.
Koentjaraningrat (1990) Sejarah Teori Antropologi II, Jakarta: UI Press.
Malinowski, B. (1934) Argonauts of the Western Pacific, New York: E.P. Dutton & Co.
Morgan, L. H. (1871) Systems of Consanguinity and Affinity of the Human Family, Washington D.C., Government Printing Office, Smithsonian Institute, Contribution to Knowledge, Jilid 17-2.
Murdock, G.P. (1949) Social Structure Chicago: University of Chicago Press.
Murdock, G.P. (1959) Its people and Their Culture History.
Pals, Daniel L. (2001) Seven Theories of Religion (terj. Ali Noer Zaman) Yogyakarta: Qalam.
Pelto, P. dan G.H. Pelto (1984) Anthropological Research. The Structure Inquiry. Cambridge: Cambridge University Press.
Radcliffe-Brown, A.R. (1952) Structure and Function in Primitive Society, New York: The Free Press-McMillan Publication.
Saifuddin, A. F. (1999) “Keluarga dan Rumah Tangga: Satuan Penelitian dalam Perubahan Masyarakat” dalam Jurnal Antropologi Indonesia, Thn. XXIII, No. 60, September-Desember.
Saifuddin, A. F. (2004) “Integrasi Nasional, Multikulturalisem, dan Otonomi Daerah: The Three-in-One Trouble ? Suatu Penghormatan bagi Professor Koentjaraningrat” dalam Jurnal Analisis Sosial, AKATIGA, Vol. 9, No. 3, Desember.
Saifuddin, A. F. (2005) Antropologi Kontemporer : Suatu Pengantar Kritis Mengenai Paradigma. Prenada Media. Jakarta.
Seymour-Smith, Charlotte (1990) Macmillan Dictionary of Anthropology, London and Basingstoke: Macmillan Press.
Tylor, E.B. (1889) “On a Method of Investigating the Development of Institution; Applied to the Laws of Marriage and Descent” dalam Journal of the Royal /anthropological Institute of Great Britain and Ireland, XVIII, hal. 245-277.
Wellman, Barry and S.D. Berkowitz. ed. (1988) Social Structure. Australia: Cambridge University Press.

[1] Ditulis sebagai tugas Mata Kuliah Semiloka Teori Antropologi Dosen : Ahmad Fedyani Saifuddin, Ph.D.
[2] Penulis adalah Mahasiswa Progam Pasca Sarjana Antropologi Universitas Indonesia
[3] Pendekatan statistika ini dituangkan dalam buku On a Method of Investigating the development of institutions; Applied to the laws of marriage and Descent (1889). Hal ini juga dimuat dalam Journal of the Royal Anthropological Institute, XVII (1889:245-277).
[4] Couvades adalah suatu adat ketika seorang laki-laki merasa atau berpura-pura hamil, ketika istri mereka akan melahirkan, biasanya mengusir rasa sakit dari istri dan anaknya (Saifuddin, 2005:421)

[5] Sumber : Koentjaraningrat (1987), Sejarah Teori antropologi I, Jakarta : UI Press (hal. 51-53).
[6] Sample tersebut dia ambil berdasarkan data dari system kartu etnografi Murdock.
[7] Struktural-Fungsionalisme merupakan suatu pemikiran teoritis besar dalam antropologi hingga tahun 1960an, banyak berhutang budi pada pemikiran-pemikiran evolusionisme Herbert Spencer dan Darwin, dua tokoh yang membangun aliran pemikiran tersebut (Saifuddin, dalam Jurnal Antropologi No. 60, Thn. 1999).

[8] Radcliff-Brown juga memprakarsai bagi perlunya dilakukan studi komparasi antar berbagai masyarakat dengan kebudayaannya yang tipical.
[9] Lebih jauh lihat Saifuddin (2005), hal. 125-126.
[10] Uraian yang jelas tentang konsep struktur social disampaikan oleh Radcliffe-Brown pada pidato pengukuhannya sebagai ketua lembaga Antropologi Royal Anthropological Institute of Great Britanin and Ireland pada tahun 1939 dalam pidatonya On Soocial Structure.
[11] Positivistik pada umumnya lebih menekankan pada pembahasan singkat dan menolak pembahasan deskripsi yang panjang dan bertele-tele seperti halnya sebuah cerita yang deskriptif. Selain itu, seorang peneliti budaya juga dituntut untuk banyak berpikir induktif, agar menghasilkan sebuah verifikatif sebuah fenomena sosial budaya. Peneliti sosial budaya secara positivistik, menuntut dipilahnya subjek peneliti dan objek penelitian sehingga diperoleh hasil yang objektif. Kebenaran diperoleh melalui hukum kausal dan korespondensi antar variabel yang diteliti. Karena itu, menurut positivistic realitas juga dapat dikontrol dengan variabel yang lain. Dan biasanya seorang peneliti sosial budaya juga menampilkan hipotesis yang berupa prediksi awal setelah membangun teorinya secara tepat.

[12] Meskipun konsep homogen itu sendiri sekarang sangat dihindarkan karena bias yang sangat besar.
[13] Lihat : Soekmono (1981), Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia, Yogyakarta: Kanisius.

[14] Tulisan-tulisan tentang Homo Florensis ditulis dalam beberapa jurnal dan berkala internasional, misalnya Scientific American, Nature, Robert Locke, The first human?, Discovering Archaeology, Juli - Agustus 1999.
[15] Hal seperti ini juga dapat kita lihat dalam penelitian paleoantropologi di Cina yang dimulai oleh ahli geologi (Koentjaraningrat, 1987:151-159). Penemuan fosil-fosil makhluk pithecanthropus Sinenses dan fosil-fosil Gigantopithecus pada tahun 1929 dan gigi-giginya memberikan arti penting tentang kebudayaan manusia dengan membanding-bandingkan fisik dari fosil tersebut.
[16] Buku-buku teks Emile Durkheim juga masih sangat erat dengan pendektan Struktural-Fungsionalisme, misalnya The Division of Labor in Society (1893); The Rules of Sociological Method (1895); Suicide (1897); The Elementary Forms of the Religious Life (1912).
[17] Struktural-Fungsionalisme merupakan suatu pemikiran teoritis besar dalam antropologi hingga tahun 1960an, banyak berhutang budi pada pemikiran-pemikiran evolusionisme Herbert Spencer dan Darwin, dua tokoh yang membangun aliran pemikiran tersebut (Saifuddin, dalam Jurnal Antropologi No. 60, Thn. 1999).

[18] Corbetta (2003) menjelaskan banyak hal mengenai perbedaan antara penelitian kuantitatif dan kualitatif. Pada sekitar tahun 1940an dan 1950an, dan pertengah tahun 1960an, adalah fase dimana penelitian kuantitatif sangat mendominasi penelitian social. Pada masa itu penelitian kualitatif dianggap sebagai anak tiri, dan persepsi seorang ethnographer adalah dianggap sama dengan seorang reporter berita, sesuatu yang sangat dihindari oleh para sosiolog pada masa itu. Baru pada tahun 1960an, muncul kontroversi tentang pentingnya teori-teori mengenai penelitian kualitatif, tetapi baru sekitar tahun 1980an, penelitian kualitatif berkembang pesat.

21 September 2006

My Wife

My Wife...

Eva Ritha br Bukit
Medan, 22 September 1976.

Selamat ulang Tahun....


Dari : suamimu....

Kolega UPH

KOLEGA...
Inilah kolegaku mengajar musik... Dr. J. S. Nugroho, Fabiola Chaniago, Dipl.Mus., Melissa J Harlamert, M.Sc. (USA), Martha Podholska, M.Sc. dan J. Limbeng, M.Si.

Topeng Gundala-gundala

Gundala-Gundala
Pertengahan Juli 2006 kemarin saya berkunjung ke Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Karo di jln Gundaling no. 1 berastagi. Ada oleh-oleh foto gundala-gundala... Mungkin hasilnya kurang maximal, karena saya hanya menggunakan pemotretan dengan hand phone Nokia N-9500.




Paduan Suara Gereja

PADUAN SUARA GEREJA
(Bagian 2)
Pt. Julianus P Limbeng
(Seksi Musik dan Paduan Suara GBKP Klasis Jakarta-Bandung)

KEMAMPUAN PRAKTEK VOKAL

Teknik Erkesah

Sekalak pemimpin paduan suara arus banci nguasai teknik-teknik rende alu payo, eme: cara erkesah (pernapasan), frasering entahpe ija pemenggalen-pemanggalen suku kata si payo sue ras notna, gaya cara rende, lafal entahpe pembelasken (biasa bas musik ikataken diksi fonetik). Sebagai sekalak singajari arusna min banci mbereken contoh si payo.

Erkesah eme sada proses alamiah ibas setiap jelma sini imulai kenca ia tubuh kubas doni seh ia mate (ngadi erkesah). Kapasitas sekalak jelma erkesah tergantung kebutuhen badanna. Kalak tunduh ras kalak kiam tentuna beda carana erkesah, bagepe sangan olah raga. Biasana kalak tunduh erkesah lebih lambat asangken kalak kiam. Bagepe ibas rende iperluken cara erkesah si payo gelah banci ngendeken sada ende-enden mehuli. Ibas paduan suara lit biasana ikelompokken 3 erbage jenis erkesah, eme:
(1) pernafasan bahu, eme pernafasen si terjadi sanga erkesah paru-paru tertekan agak ku datas sitik, emaka bara jadi naik. Cara erkesah sibagenda rupana kurang mejila ibas rende, erkiteken la banci tahan ndekah.
(2) pernafasan tenten (dada), eme cara erkesah tupung nirup udara (angin), angin e lit ibas rongga tenten, akibatna paru-paru jadi lemah adi rusursa narik nafas, emaka kesah si ndarat pe arah igung la stabil.
(3) pernafasan diafragma, eme pernafasen si payo ibas rende, erkiteken ruangen entah pe celah sini isi udara lebih iperluas alu cara mpebelang rongga badan janah diafragma bergerak ku teruh. Cara erkesah sibagenda rupana didukung dengan otot perut ras otot sisi bada. Alu bage maka masuk ras ndaratna kesah banci lebih iatur. Contoh erkesah sibagenda rupana eme: cuba tamaken duana tanta iteruh tulan rang-rang (iga). Emaka cubaken mbatuk. Sanga kita mbatuk lit urat si agak nendang ia ndarat, eme sini ikataken diafragma. Sanga kita erkesah ibas rende, diafragma arus naik turun.

Adi cara erkesahta enggo pas, emaka mempertahanken bagepe melepas udara banci terkontrol alu mehuli. Alu bage ibas kita rende banci si atur tinggi rendah, keras lembutna nada siendeken kita erkiteken idukung kesah si cukup. Emaka isamping si e, ibas kita rende e tentuna arus sieteh ija pemenggalan-pemenggalan suku kata si payo, rikut pe ras melodina. Teks ende-enden biasana ia ibagi ibas dua bagin galang, eme silabis ras melismatis. Silabis ertina sada not sada suku kata, janah melismatis ertina piga-piga not isina sada suku kata saja. Emaka ibas partitur entahpe notasi ende-ende lit biasana tanda-tanda ija kita arus erkesah eme tanda koma idatas (‘) entah pe kenca titik. Tapi pe bage perlu ka nge si analisis kalimat lagu e, gelah ibas tarik nafas ibas pemenggalenna e lit ertina, la tanggung.

Frasering

Nada-nada entahpe melodi jadi kalimat lagu, piga-piga kalimat lagu e adi igabungken jadi sada bagian. Melodi entahpe entahpe kumpulen nada si membentuk sada baris entahpe kalimat ndai me sini ikataken frasering. Bagi kita ercakap-cakap, lit rusur kata-kata e lebih sitekanken antara kata-kata sidebanna. Intonasina pe berbeda tergantung kata-katana. Sibage rupana ka me sini imaksudken ibas kita ngendeken sada lagu.

Tim Pusat Musik Liturgi ngataken, maka nina pemenggalen suku kata labo irama melodi sini menentukenca, tapi si payo eme erti kata ndai. Ula kari sembarangen sipenggal suku kata e tapi labo lit ertina. emaka simehulina ibas pemenggalan kata e lit min ertina, bagepe ku selanjutna untuk kalimat berikutna, ndukung pe ku tarik nafas ndai.

Contoh lagu misalna KEE No. 190:1
O la kel lu pa ken / a ku ‘ / o – Ye sus Tu / han.
A min mbu e kal do/ sa ngku ‘/ma sap kri na / ban.
Ye sus/Ye sus ‘/sam pat a ku /lah.
Bas kam sa ja a ku / pu lah ‘/sam pat a ku / lah.

Suku kata sini cetak tebal (bold) ertina ibereken penekanen, tanda (‘) em pemenggalen kalimat. Pemenggalen kalimat e biasana pengambilan nafas baru. Purdy (1995) ngataken situhuna sipayona kel mengambil nafas arus ibas akhir kalimat lagu, labo i tengah. Bagepe ibas ngendekenca sipayo arus endeken tiap kalimat sebagai sada alur melodi, labo per not. Bagepe Jean Asworth Bartle ngataken bage, eme paduan suara labo iendeken (terpisahken) not per not, entahpe suku kata ku suku kata seterusna, tappi iendeken kalimat lagu secara utuh. Memang teks lagu ras not erat kaitenna. Alu bage maka teknikna gelah banci sesuai teks ras not emaka kaiten teks ras not ndai banci ibahan silabis entah pe melismatis (misalna legato). Alu bage sada alur ia.

Gaya

Gaya (style) eme karakteristik cara nggunaken melodi, ritem, warna suara, dinamik, harmoni, teksture bagepe bentuk. Kerina unsur-unsur si enda me si banci menghasilken sora si berbeda antara lagu. Sebagai contoh, kita banci mbedaken lagu keroncong, dangdut, rock, jazz, klasik ras sidebanna. Lit gaya masing-masing aliren-aliren si datas ndai. Eme gaya. Adi ibas sejarah musik gereja, musik Barat pe lit ciri-ciri rikut pe ras gaya masing-masing periode. Adi musik Barat periodena banci sibagi jadi: Abad pertengahan (450-1450), Jaman Renasisance (1450-1600), Jaman Barok (1600-1750), Jaman Klasik (1750-1820), Jaman Romantik (1820-1900), Abad 20 (1900-1945), tahun 1945 seh gundari. Jadi adi kita ngendeken lagu arus kita mampu menyesuaiken gaya siapai kin sini imaksudken lagu e, gelah cara ngendekenca sesuai ras gaya yang diinginkan penciptana.

Megati kel kita mbegiken paduan suara ibas gereja entahpe konser paduan suara, kata-kata sibelasken paduan suara e kurang jelasna kai sini belaskenna, entahpe huruf vokalna (vowel) saja ngenca banci sibedaken. E ertina artikulasi kata-katana la jelas pembelasken. Situhuna gelah banci lebih mehuli, peran pemimpin paduan suara ndai arus beluh uga mengelolasa kerina. Bagem ibas bagian sipe-2 ken enda, iumputi ka ku bagian sipe-3 ken, eme kerna “Kualifikasi Mbereken Aba-Aba”. Bojong Menteng, 7 September 2006.

5 September 2006

Ropong Tarigan Sibero


Ropong Tarigan Sibero (Pa Dep) atau dalam produk instrumen alat musik Karonya sering ditulis (RTS) merupakan salah satu pengrajin alat musik Karo yang masih aktif sampai hari ini. Dua belas tahun yang lalu saya membeli kulcapi seharga Rp. 75.000,- Juli 2006 kemarin saya membeli sebuah kulcapi dengan harga Rp. 600.000,- dan setiap alat musik tiup seperti surdam, balobat, pingko-pingko, dijual seharga Rp. 50.000,-

RTS tinggal di Berastagi, di belakang gereja Katholik Berastagi, lewat PAM Tirta Keleng.

Yulianus Liem Beng



Yulianus Liem Beng atau nama lengkap Pt. Dr. (Cand) Julianus Perangin-angin Limbeng, S.Sn., M.Si., dilahirkan di desa Kuta Jurung, Deli Serdang pada tanggal 10 Juli 1970 dari pasangan Siang P Limbeng dan N. br Tarigan Tambak. Anak ke-4 dari 7 bersaudara. Menamatkan studinya dalam bidang Etnomusikologi USU Medan (1994), Pasca Sarjana dalam bidang Antropologi UI Jakarta (2002), dan pada tahun 2005 mengikuti Program Doktor pada Program Pasca Sarjana FISIP UI Depok. Bekerja sebagai PNS di Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, yaitu di Direktorat Jenderal Nilai Budaya, Seni dan Film sejak tahun 1999.
Menikah dengan Eva Ritha br Bukit, dan sudah dikaruniai 2 orang anak: Liezsecha Xeane Fhoo br Limbeng (Pr), umur 5,7 tahun dan Yehezkiel Lau Xieronimus Limbeng (Lk), umur 3,5 tahun. Mengajar musik di berbagai perguruan tinggi di Jawa, yaitu di Fak. Seni Pertunjukan Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Fakultas Seni, Jurusan Musik di Universitas Pelita Harapan Karawaci Tangerang (UPH), Universitas Pasundan (Unpas), dan di Suling Bambu Music College Jakarta.
Sebagai seorang seniman Karo, dia telah menciptakan ratusan lagu, dan juga telah mengaransemen ratusan lagu komersial. Aktif dalam berbagai organisasi seni, dan juga aktif dalam media. Sekarang tinggal di Bekasi.
Alamat :
Jl. Jati Tengah XVI B-166 Perum Bojong Menteng Bekasi 17117
Telp. +62 21 82607875, + 62 813 813 0 3456, + 62 817 213 472
e-mail: julianuslimbeng@yahoo.com, liembeng@yahoo.com

Perumpamaan Karo

PERUMPAMAAN KARO

Bagi lau ras beras, adi nanggerken nakan uga pe perlu lau, iandingken pe ku sekalak jelma si la terpesirang.

Bagi bening bas ndiru, adi kalak miari beras biasana si arah lebena kel eme bening, iandingken pe ku sekalak jelma si iangkat-angkat, ipuji-puji tempa, tapi ia me si ibeneken.

Bagi dukut tepi dalan, dukut tepi dalan biasana kenaina nahe kalak erdalan, iandingken pe ku sekalak jelma situhu enterem nungkunisa, tapi rate tutus sada pe lang.

Bagi kimang ni apusi, kimang eme sada buah si ermbulu, janah mbuluna mesunah naktak, iandingken pe man sekalak jelma si enggo erkeri-kerin, lanai lit sinasasana ertana.

Bagi singgelari kap-kap, kap-kap eme sejenis kuliki, iandingken pe kan kalak si rejekina reh buena, sangkin iusahaken reh buena.

Kacipken mbilou kampil musang, enda sampiren ndung-ndungen saja si isina eme ‘kuakap ido kepeken utang.

Humor

KATAKEN SEJUJURNYA
Remove Formatting from selection
“Minggu si reh ku khotbahken kerna kejujuren”, nina sekalak Pertua man anak remaja si erlajar ngawan. “Emaka sebagai tugas rumah, baca kena kari rumah Korinti 97:308-312”. Seminggu kemudian ibas mulai erlajar ngawan nina Pertua ndai: “Bagi enggo kusuruh baca Korinti 97:308-312, eme kerna kejujuren, emaka situhuna alu jujur kukataken, maka labo lit Korinti 97 she ayatna 312 (JL).

KERO

Telu kalak si erlajar ngawan matana kero (juling) kundul ilebe-lebe pendeta bas ruang konsistori si matana pe kero ka. Emaka tatap pandita ndai me sierlajar si pemena, “Ise gelarndu?” nina. “Kulpah,” nina anak sipeduaken. “La kam sikusungkun,” nina pandita ndai. Emaka reh nina sierlajar sipeteluken, “ Kai pe la kap lit ningku ngerana…” nina alu sora megang (JL).

PERTOTON SURAT

Erkiteken rapat enggo dung, emaka ipindo pimpinen rapat me sekalak si mbaba toto penutup. Emaka erkiteken la pernah mbaba pertoton ipala-palaina me nina. “Kepada yang terhormat Bapa kami yang disurga, kami sampaikan bahwa acara rapat kami telah berlangsung baik dengan bapak Direktur dan Bapak Dekan. Terimakasih Tuhan Yesus. Amin”. Langsung gerrr... kerina peserta rapat ndai. (JL)


NELEN KUDA

Sekalak perbapan mindo gelah itotoken pandita, erkiteken ikatakenna enggo bendutkenna sada kuda. Alu berbagai cara iban pandita enda ngataken maka labo lit bas beltekna kuda, tapi sia-sia. Emaka ibahan pandita enda me cara notokenca. Ibaba pandita enda kubas sada ruangen janah isuruhna perbapan ndai pit-pit. Tupung perbapan ndai pit-pit ibaba pandita baba Diaken sada kuda ku deherna sanga ia ertoto. Emaka kenca Amin nina pandita “E.. enggo ndarat ku ndai bas beltekndu nari... “. Emaka reh nina perbapan ndai si kubendut labo kuda megara, tapi kuda mbiring...? (JL)


RUANG KONSELING

Sekalak anggota perpulungen si atena ngadi ngisap reh konseling man Pandita. Alu langkah si mantap mis ia kundul ibas kursi i lebe pandita. Pedaratna mbakau tabehna, masukkenna ku pipana, bagepe deba nari sompelkenna ku cupingna. Emaka reh nina Pandita, “Payo nge reh kam kujenda, kai kam banci kusampati?”. “Pinjam sekali santikndu nta...” nina. (JL)

TUNDUH ERDALAN

“Bagenda nge Pandita, aku dehkam rusur kel sanga tunduh e la sadar erdalan-dalan. Enggo me aku ertoto rurus ope tunduh. Uga nge akapndu kuban carana gelah lanai bage..?” nina sekalak Permata man Pandita. Emaka reh nina pandita ndai, “Babandu kotak enda, kenca kam dung ertoto ope tunduh, amburken deher inganndu medem, pasti kam lanai erdalan-dalan.” “kai kin isi kotak e Pandita..? nina ka Permata ndai. Alu manjar-anjar kusikken pandita ku cupingna .”Paku Payung...”. (JL)

TUHAN KITA KAYA

Guru KAKR : Anak-anak, Tuhan kita itu maha ......
Anak-Anak : Maha kaya ....
Guru KAKR : Benar. Kalau begitu saatnya kita memberi persembahan
Gantang : Katanya kaya, koq dikasih duit ?
Mendingan dikasih ke saya, saya kan mau beli baju buat Natal

ORANG KARO BELUM IKUT

Seorang guru remaja KAKR bertanya : “Adek-adek, ketika Yesus memberi makan lima ribu orang dari lima roti dan dua ikan, ada makanan sisa 12 bakul lagi. Menurut adek-adek kenapa ada yang sisa ?” Maka dijawab salah satu anak remaja “Karena pada waktu itu belum ikut orang Karo Bu Guru, kalau ikut pasti dibungkus, dibawa pulang, ibu saya selalu begitu kalau di pesta…”. (jl).


TELAPAK KAKI IBU

Seorang anak dengan rasa ingin tahu melihat sembari membalik-balik telapak kaki ibunya. Karena merasa heran maka ibunya bertanya, “Kenapa sich nak, koq terus melihat kaki ibu..?” “Saya ingin melihat surga Bu..” (jl)


ULA LEBE MATE

Erkiteken keuangen runggun defisit, emaka nina Ketua Runggun : “Man banta pengepkep sector, erkiteken keuangenta defisit, asa bancina kataken man anggotanta gelah ibas bulan enda ula lebe lit si sakit, bagepe si mate…” (JL)

Puisi

ERSEPAH
Pt. J. Limbeng

Mbewat-mbewat sitik perdalanku
Sigurappangen nahengku
Ndedehken tapak-tapak ku kersik mbentar si melas
Erjingkang dalan gelahna pedas

Lit lalit tempa tujun
Mbiar nangdangi jelma sienterem
Bas erbelas enggome erpudun
Kata Dibata nge makana malem

Telu tahun stola ku kerahung
Tatapen jelma payo metunggung
Kinirajan Dibata payo kin surung ?
Maka arihta lalap nge rayung [?]

Mbewat-mbewat sitik perdalanku
Sigurappangen nahengku
Aminna gia enggo me ngaku
Nadingken dosa lalap la erbuku

Ndigan denga kin aku ku Kam ?
Sikerajangndu kap si ku nanam
Arusna kin dosa enggo ku-entam
Gelah atan aku ngadap Kam.

Bj. Menteng, 24 Agustus 2005.


[ PEIKHH !! ]

Kai kin Surga e Pa
Ingan senang, nakku.
----------
Lit kin surga e Pa ?
Lit !
Ija Pa ?
Meganjang….
Bas langit ?
Ue Sayang Bapana …
Lewat embun ?
Ue…
Kai deba lit jah Pa ?
Kai pe lit …
Adi merhat aku bon-bon lit man tukuren ?
Adi surga kai pe lit la nukur
Kai maka la nukur Pa ?
Bagekin anakku..
Ise kin empuna Pa ? La kari ia rugi….?
[Peikhh !!]
Nonton TV aku e…..

Bj. Menteng, 25 Agustus 2005.

N A T A L
Pt. Julianus P Limbeng

Natal, natal… natal.
Mbaru denga kuakap tempa tahun baru ndai
Enggo ka kepe seh natal gundari

Okh.., meter kepe wari-wari e mentas
Tertaren-taren rusur aku
Terpagi-pagi rusur aku

Piga kali ngenca aku ikut PJJ tahun enda ?
Piga kali aku ikut Mamre tahun enda ?
Piga kali aku ikut ngapuli kalak kemalangen tahun enda ?
Piga kali kam pernanden ikut Moria tahun enda ?
Piga kali aku ku gereja tahun enda ?

Ibas berngi simehuli enda
Kuukuri me langkungku sada tahun enda
Kai enggo si kuban man Tuhan
Kai enggo si kuban man keluargangku
Kai enggo kuban man lingkungenku
Kai enggo kuban man temanku erdahin
Kai enggo kuban man anak-anakku
Kai enggo kuban man teman sada perpulungen
Nol pih-pih !!!
Buen denga nge kuban guna diringku pribadi

Piga kali aku ertoto kerna kalak sideban
Piga kali aku ertoto kerna keluargangku, anak-anaku, ndeharangku
Piga kali aku ertoto kerna bangsa ras negara enda
Okh…, totoku pe sedekah enda buen kerna aku
Tapi, ningku mbela diringku
“Bagekin enggo iban Tuhan manusia enda. EGOISS !!!!

Natal…
Natal….
Natal….
Kai kin erti natal e man bangku ?
Sibuk tempa aku tiap tahun ngukurken natal…
La gelah tading siman ayaken ?

Natal…
Megati pe enggo jadi perayaan duniawi saja man bangku


Natal…
Natal berngi enda maba aku ngidah mulihin kupudi
Rusur ka pe langa aku siap adi aku tuan rumah PJJ
Megati ka pe la aku siap adi aku tuan rumah PA Mamre
Labo perban la banci ban perpulungen irumah
Tapi mberat kuakap nikapken ingan pulung e
Sebab adi perpulungen enggo mulih
Biasana sada she dua jam ka aku pesikap jabu
Ngaturi kursi
Nggulungi amak

Nikapken snack…..
Sebab adi la berbobot snackna jabuku kurang kuakap ergangku
Pernah melala tading bas piring risol ras mi keriting
Sedak kuakap natapsa adi la pan kalak snack si kusikapken
PJJ enggo jadi kontes pangan
Mamre, Moria enggo jadi kontes makanan..
Mberatsa kuakap namaken kolekte bas empat kantong e
Kuperhitungken kerina pengeluarenku ngadap Tuhan tiap minggu
Ongkos !!
Kolekte !!
Persembahen-persembahen pe macam-macam !!
Iuran Diakonia….
Iuran Mamre
Iuran Moria
Kolekte anak-anak

Ningku bas ukurku…
Adi lalit sen, ngadap Tuhan pe ateta susah kap….
Adi lalit sen, labo kam banci rembak ras Tuhan.

Iakh, adi la ate tama, labo uga pe, labo kai pe nina kalak
Bage nina tempa ukurku
Tapi, mela bage nina ukurku

Natal…
Eme erpala-pala ngelitken siman litenken
Jadi baban si mberat man bangku
Tapi sekali setahun kap ngenca
Janah jadi pengikut Kristus e arus kin mberat, mbue tantangen

Payo kin e ?
Natal jadi beban entah Natal mbaba dame ?
Kai kin ertina Yesus tubuh ibas ingan si meluat ndai ?
Okh…, Natal… Ate Yesus mbaba dame man banta, aku, kam, kita kerina.
Alo-alo dage kerehenna ibas pusuhta sekalak-sekalak. Amin.

2000 TAHUN SI LEWAT TUPUNG
KRISTUS NUSUR KU DONI
Karya : Pt. Julianus P Limbeng

Kurngee….., kurngee……, kurngee…….

Sora tangis terbegi tengah berngi si melenget
Arah karang asuh-suhen si payo melket
Bas mbal-mbal Efrata reh malekat tersinget
Berita si baba erbahan permakan sengget

Kurnge….., kurnge……., kurnge……..
Jusup Maria kap Bapa Nande….
Cirem ayona natap ayo anak e
Nasaret nari, Galilea ku Betelehem
Meriah ukur natap anak medem

Kurnge…., kurnge…..

Ibaluti na pake ampan
Gelah bene huana mbergeh
Si tubuh e kepe ken Tuhan
Sipadanken e enggo kap reh

Kurnge….., kurnge……, kurnge…….
Ndauh sorana njoler bas gelap berngi
Sitik-sitik sora e kubegi
Tedeh ate lanai terpilasi
Mbukaken pusuh lupa megati

Ia reh ibas si meluat nari
Erkiteken dosanta melket jine
Erkiteken dosanta lanai tertap-tapi
Sigejapken kin dosanta nake ?

Kurnge…., kurnge….., kurngeee….
2000 tahun lebih O Tuhanku…
Amin kitik gia terbegi denga sora tangisndu bas cupingku
Tapi lalap lakupesikap dalan kerehenNdu bas pusuhku
Erkiteken sehkal Buena sura-surangku,

Kurnge…., kurnge…
Bas berngi enda o Tuhanku,
Ateku ngaloken Kam ibas pusuhku arah peringeten ketubuhenNdu
Keriahen natal labo gunandu, tapi dominan gunangku
Keriahen mperingeti kerehendu, megati la sentudu ras sura-surandu…
Oh…. Berngi enda kuinget tangisndu, jadi persinget man bangku, kita. Aku ras kam.

Bj. Menteng, 6 Desember 2005.

Ruang Merga Silima

MERGA SI LIMA*

Setiap jelma siteriket denga kubas adat Karo, eme lit mergana (merga si lima) secara otomatis masuk kubas kelompok rakut si telu entah pe daliken si telu (Toba : dalihan na tolu). Aminna gia lit ka nge jadi kalimbubu atena lalap (e masalah lain), tapi situhuna kalak Karo menyandang peran kalimbubu, senina, anak beru sekaligus tergantung ise si jadi sukut entahpe si erkerja. Jadi kalimbubu pe ia tentu lit tegun seninana, janah seninana ibas tegun kalimbubu epe lit erbagena. Banci kari sinen erbage-bage senina. Bagekape, adi tegunna sekali jadi anak beru, tentuna sebage anak beru pe lit kange tegun seninana, kalimbubuna ras anak beruna. Bagepe ku anak beru, anak beru pe lit kange tegun seninana, kalimbubu ras anak beruna. Jadi, cukup menarik adat kalak Karo. Seri kerina ibas adat, lalit siganjang teruhen, tergantung kubas kerja. Stratifikasi sosial la tetap tapi fleksibel, kecuali kin adi nai status sosialna ibedaken, bagi sibayak, raja urung, pengulu ras sideban. Tapi adi ibas peradaten seri kerina. Bage kita lahir ku doni enda enggo, mis lit kelompok kai kita ibas adat.

Kalimbubu
Kalimbubu eme kade-kade arah nandeta kandung (--beru nande ras bebere nande--), nande bapa, nande nini bulangta bagepe arah nande nandeta nari. Erkiteken biasana arah pihak ‘nande’ secara umum, emaka kalimbubu epe terbagi kubas piga-piga kelompok ka, eme : - kalimbubu tua/ kalimbubu bena-bena; - kalimbubu simupus/kalimbubu dareh; - kalimbubu kampah; - kalimbubu simajek dalikan; - kalimbubu siperdemui; - kalimbubu sembuyak; - kalimbubu taneh/kalimbubu simajek lulang; - puang kalimbubu (kalimbubu dari kalimbubu); - puang ni puang (kalimbubu dari puang kalimbubu).

Mehamat Erkalimbubu Kalimbubu ibas kalak Karo emekap si harus ihamati ras ikelengi. Adi kalak karo si dekah erdalan itengah kerangen ras kalimbubu la banci lang anak beru arah lebe, ertina adi lit musuh entah pe rubia-rubia si merawa entah pe duri entahpe bulung si megatel gelah anak beru kena leben, gelah selamat kalimbubu ibas bahaya nari. Bagepe adi erdalan pagi-pagi namuren denga dalan, anak beru nge arah lebe, gelah enggo keri namur e isapu anak beru segelah kalimbubu lanai namuren. Adi ngerana kalimbubu ibas sada runggun labo banci ia isimbaki. "Bagi page ibas lebeng pe ikurkuri gelah lit man nakan turang" Bagem kuan-kuan kalak Karo ncidahken kekelengen anak beru nandangi kalimbubu.

Senina
Senina banci ikataken erkiteken seri merga ibas tingkat si seri ras fakotr-faktor sideban erkiteken adat erbahanca orat tutur jadi ersenina. Bagi enggo ituriken ibas edisi si lewat, senina epe lit piga-piga erbage, eme : - sembuyak; - senina siparibanen; - senina sipemeren; - senina sipengalon; - senina sicimbangen (diberu).

Metenget Ersenina Senina eme si rusur teman runggu. Adi kalak Karo si dekah Senina Sada Utang Sada Ido nina. Utang seninanta banci nge itunggu kalak man banta, bagepe ido seninanta tek ka nge kalak kita ngalokenca. Metenget ersenina perlu kal ijaga gelah ula sempat retak, rubat. Teman meriah enterem nge, tapi teman tangis senina e ka ngenca. Emaka rugi kal adi kita rubat ersenina, dalan sirang labo lit, emaka arus metenget gelah ula sempat rubat, nggit sitewasen, ula subuki anem la pe iakap teng-tengsa. Ulin min si ban man seninanta asa man ise pe sebab e nge teman ngandung ras ermeriah ukur. Adi lit si la tabehen ukur ras seninanta si pala-palailah pekenasa.



Anakberu

Anak beru eme sinukur diberu, ikataken anak beru erkiteken , yaitu: - anakberu ipupus/anakberu dareh; - anakberu iangkip; - anakberu sincekuh baka tutup; - anakberu tua; - anakberu singerana, sirunggu (singerakut bide); - anakberu menteri; - anakberu singikuri; - anakberu singikuti.

Metami Man Anak Beru Kuan kuan kalak Karo "Mangkuk reh, mangkuk lawes", mbages kel ertina. Adi anak beru enggo erbahan si mehuli nandangi kalimbubu maka kalimbubu pe arus erbahan si mehuli man anak beru, amin gia lain-lain bentukna; Kalimbubu la banci la erpengagak nandangi anak beruna, bas kai murde la banci lang arus isampatina. Bage nge ertina jadi dibata ni idah, ngidah kerina situasi. Bagepe anak beruna la pe isuruh kalimbubuna, enggo leben ikalakina juma kalimbubuna; Bere-berenta man beren kin. Erpengagak kin jadi kalimbubu, la ipondona si bereken gelah puas kal ukurna. Gundari bere-bere pe lanai bo tersuruh, adi kita la si cidahken kekelengenta man bana. Ula min bagi si gundari, erjabu beberena luah si ngalo bere-bere pe palsu, labo mamana e sinukursa tapi siempo nge. Emaka akapna mamana pe mama palsu nge. Aturenna ije me i cidahken ate keleng erbere-bere, alu luah mamana, keleng kel atena barang e; Tole, ula kal si diberu i cekurakina entah pe irawaina turangkuna. Bage pe si dilaki, ula kal i rawaina ntah ipandangina turangkuna tah silihna. Adi la si akap teng-teng silihta, banci sidilo turangta, turangta e banci siajarken entah sirawai. Maka iban kerja Tahun pe gelah setahun sekalilah gia sidahi-dahin. Kalimbubu ndahi anak beruna ras anak-anak kerina gelah itandaina bengkilana ras impalna, bagepe anak beru nandangi kalimbubu. Kai kin ateta luahta maka meriah ukur silihta ras beberenta e lah si baba, bageka anak beru nanadangi kalimbubu ras permenna.

* Ngajuk kubas tulisen Sempa Sitepu, Pijer Podi.
KALIMBUBU

Pt. Julianus P Limbeng

Bagi enggo isuratken kami ibas Buletin Anglehta edisi Natal (Desember 2005) kerna kalimbubu, emaka kalimbubu enda pe lit ka piga-piga erbage rikutken penggelaren, hubungen perkade-kaden, bagepe fungsina ibas adat-istiadat Karo. Kalimbubu ibas kalak Karo si nuria (ndekah) eme jadi si nangar-nangari runggun (rapat adat) ras jadi pijer podi itengah-tengah anak beruna. Erkiteken ia jadi sinangar-nangar, emaka ibas peradaten kalimbubu biasana ipindo guna mereken telah-telah entahpe pedah-pedah. Ibas kerja-kerja megi-megi rusur dahinna, emaka kerna mbuat keputusen iperluken rusur ‘restu’ entah pe masuken arah pihak kalimbubu. Emaka kata “ertima kam kentisik” merupaken kata si megati sibegi ibas runggu. Emaka kalimbubu ikataken pe kalimbubu ingan nungkun ras ingan mindo. Konsep ingan mindo enda emaka muncul sibegi perkatan tuah kalimbubu.

Lit piga-piga erbage kalimbubu si lit ibas kalak Karo, eme
(1) kalimbubu taneh, eme kalimbubu si manteki kuta, igelari pe kalimbubu simajekken lulang. Ibas si enda banci saja lalit hubungen dareh secara langsung, erkiteken sada kehamaten man bana erkiteken ia pemena manteki perkutan ibas sada kuta. Sebage contoh, misalna kutaku Lau Limpek mula-mula ije ipanteki Barus mergana erbahan perjuman ras barung-barung ije, eme deher Lau Belume. Ia me siigelari anak nu taneh entah pe si jadi kalimbubu taneh. Emaka reh me nini opung (bapa bulang) ku kuta e si mergana Limbeng, bagepe lit ka Ginting mergana reh ku kuta e. Si telu kalan enda ringan ibas barung-barung sini ibahan Barus mergana. Emaka arih-arih me kalak enda teluna, maka Barus mergana jadi kalimbubu taneh, Limbeng mergana ras Ginting mergana jadi anak beru taneh, janah ibas hubungen pe selanjutna maka Limbeng ras Ginting enda mbuat beru ku Barus mergana. Tambah warina reh buena jelmana, maka jadi me kesain, she jadi kuta. Jadi situhuna kalimbubu taneh enda asal-asalna eme erkiteken kesepakaten erkiteken ia si menai ngiani sada ingan;
(2) Kalimbubu tua, entah pe rusur ka igelari kalimbubu bena-bena. Kalimbubu enda enggo lit hubungen dareh, umpamana kalimbubu bapanta arah nandena, entah pe mama bapanta. Amin gia ia igelari kalimbubu tua entah pe bena-bena, tapi biasana reh dauhna, sierkimbang lebih ndeher;
(3) Kalimbubu simada dareh, eme turang nandenta, sembuyakna, eme mamanta.
(4) Kalimbubu si erkimbang, eme kalimbubu si mupus ndeharanta;
(5) Kalimbubu sipemeren. Kalimbubu enda pe tentuna tingkatenna erbbage-bage, tergantung ku kalimbubu si apai ia sipemeren, banci ku kalimbubu si erkimbang, simada dareh, puang kalimbubu, entah pe ku kalimbubu tua;
(6) Puang Kalimbubu, eme kalimbubu kalimbubunta. Misalna aku bere Tarigan Tambak, Nande bere Sitepu, emaka kalak Sitepu enda jadi puang kalimbubuku. Kalimbubu si bage rupana pe megati igelari sebagai singalo perkempun entah pe perkempunku ibas ertutur. Puang kalimbubu sibagenda rupana termasuk pe kalimbubu ibas kalimbubu si erkimbang nari.
(7) Puang ni puang (kalimbubu), eme kalimbubu si terakhir kel si kirana denga ibas kelompok kalimbubu, aminna gia banci denga siban tingkaten si terteruhen, eme puang-puang ni puang kalimbubu.

Kerina kalimbubu enda adi tingkatenna sada ibabonta idilo man si dilaki ‘mama’ man si diberu ‘mami’, tapi adi enggo dua tingkat datasenta emeka idilo ‘bulang’ man si dilaki, ras ‘nini’ man si diberu, ras bage pe seterusna tingkaten lebih meganjang idilo opung entahpe empung duana man di dilaki bagepe man si diberu, tapi tetap ibas posisina sebagai kalimbubu. Adi teruhen setingkat ia ibas kita biasana idilo ‘permen” man si dilaki ras si diberu. Dua tingkat teruhenta idilo tetap ‘kempu’ selanjutna kuteruhna ‘ente’ ras pe ‘entah”.

Adi marenda kai sini ikataken kalimbubu la banci isimbak, adi gundari tentuna enggo lit perubahen, tergantung pedah siberekenna e. Adi mehuli akap anak beruna tentuna idalankenna, tapi adi la akapna pantas idalanken, maka amin gia la secara spontan teridah ibas ayona, tapi lit lebe ije enggo kesempaten guna rukur, payo entah lang sini katakenna e (lebih demokrasi). Erkiteken bage hagana kalimbubu ibas peradaten, emaka ibas kalak Karo kalimbubu e ikataken pe “dibata ni idah”, entah pe lit ka singatakenca “si mupus takal piher”. Erdandanken si e maka ibas kerja adat kehamaten man kalimbubu e mutlak teridah arah perbahanen. Misalna, adi nai kerja-kerja nereh empo (erdemu bayu) biasana nakan kalimbubu lebe ielaken (kerina kalimbubu ei erbage-bage). Nakan e biasana ibahan ibas pernakan khusus, bereken piringna, gulenna (bengkau), bagepe ibedaken ia ras pinggan-pinggan jelma sieenterem. Adi pinggan kalimbubu adi nai kuta-kuta lit tutupna kibul sini ibahan ibas bulung galuh nari. Enggo ser-ser kerina kalimbubu e dat nakan maka banci elaken nakan man jelma sideban. Entah lit denga langa ije kalimbubu, emaka biasana ilebuh. Enggo kundul ije ia maka ilanjutken mbereken nakan man jelma si rulo.

Aku sendiri pe marenda tahun 70-an, hal sibage rupana kuidah denga secara langsung, aminna gundari maka kusadari ertina e kerina. Iajari orang tua kita marenda gelah mamanta lebe mbuat nakan ras sidebanna. Tapi tahun 90-an ibas kerja-kerja bas jambur I Medan sekitarna kerna perpanganen enggo lanai isikapken sepenuhna anak beru ibas hubungen peradaten (dareh), aminna gia per-catering banci saja ikategoriken sebagai anak beru. Tapi ibas pengelanken nakan aminna gia ikataken “ibas meja kam elai kami” sebagai ungkapen pehamat kalimbubu ndai ibas kerja-kerja, lambat laun berubah ka. Lanai pihak kalimbubu e lebe inomorsadaken muat nakan ku meja, tapi ise sindeherna ku meja. Biasana adi enggo ndeher ku jam sada, enggo mulai reh deherna kalak ku meja ingan nakan sikapken. Adi enggo keri nakan bas meja, tapi kalimbubu la denga dat nakan, emaka ibas kerja e muncul sada jenis kalimbubu si mbaru √©me kalimbubu si la dat nakan. (jl).

About Me

My Photo
Bekasi, Jawa Barat, Indonesia
Etnomusikolog