13 November 2013

MENGGALI POTENSI KULINER KARO

Julianus P Limbeng

Industri kuliner saat ini dapat dikatakan tumbuh subur. Hal ini dapat dilihat indikasi pertumbuhan dari tahun ke tahun, usaha makanan atau restoran terus meningkat, setidaknya empat tahun terakhir. Data BPS tahun 2012 menunjukkan bahwa jumlah usaha ada 2.916 dengan pertumbuhan yang signifikan dengan rata-rata tenaga kerja 27 persen. Artinya ada teori kebutuhan Maslow, yang menyatakan pangan merupakan kebutuhan dasar manusia (basic need) tidak sepenuhnya berlaku. Pangan bukan lagi sebagai produk konsumsi untuk memenuhi kebutuhan biologis manusia semata, tetapi pangan saat ini juga sudah berhubungan dengan gaya hidup baru. Pangan berubah menjadi industri kuliner yang tidak hanya memberikan cita rasa, tetapi juga menjadi kebutuhan aktualisasi diri. Ini dapat dilihat dari jasa kuliner menyajikan berbagai menu makanan, kemudian menyediakan ruang untuk bisa berkumpul dengan komunitasnya melalui berbagai jasa yang turut bersamanya.

Salah satu sub-sektor ekonomi kreatif yang memberikan kontribusi ekonomi bagi masyarakat adalah kuliner. Dari Laporan Pengutan Data dan Informasi Ekonomi Kreatif berbasis Seni dan Budaya, sektor kuliner di tahun 2012 mengalami laju pertumbuhan 3,83 persen, dengan jumlah tenaga kerja 3.735.019 orang yang tersebar di seluruh Indonesia. Dibanding dengan sektor lainnya seperti pasar barang seni, kerajinan, film, fotografi, video, musik dan seni pertunjukan, distribusi tenaga kerja sektor kuliner juga menempati urutan tertinggi, yaitu 53,18 persen, dan selanjutnya diikuti sektor kerajinan. Laju pertumbuhan tenaga kerja juga cenderung maju, yaitu 0,06 persen. Tahun 2012 jumlah usaha kuliner tercatat sebanyak 3.031.296, yang menempati usaha ekonomi kreatif yang paling banyak dibanding usaha  kreatif lainnya. Distribusi usaha kuliner menempati 77,37 persen, jadi sangat besar sekali. Memang dari sisi ekspor kuliner Indonesia masih 0 persen. Ini artinya potensi kuliner sebagai salah satu sektor ekonomi kreatif cukup potensial untuk dikembangkan. Yang menjadi persoalan sekarang kuliner-kuliner daerah yang cukup beragam itu siapa yang kembangkan ?

Kuliner di Indonesia banyak sekali ragamnya, mulai dari aneka nasi yang menjadi makanan khas Indonesia, hingga jenis kue, sayuran dan lauk-pauk dan jenis minuman. Banyaknya ragam kuliner ini, mengakibatkan sulitnya mendefenisikan mana masakan khas Indonesia. Untuk memperkenalkan keragaman kuliner tersebut, pemerintah telah menetapkan 30 ikon kuliner tradisional Indonesia. Tentunya tidak semua jenis kuliner yang ada di Indonesia masuk dalam ikon tersebut. Masih banyak sekali jenis-jenis kuliner yang luar biasa dan memiliki potensi untuk dikembangkan. Tentunya membutuhkan sentuhan kreatif dengan landasan memiliki daya saing, nilai tambah dan kontribusi terhadap ekonomi masyarakat. Tiga hal tersebutlah yang penting harus ada dalam mengembangkan kuliner yang beragam tersebut disamping keunikannya, sehingga kehadirannya dapat memberikan aspek ekonomi bagi masyarakat, sekaligus aspek pelestarian kekayaan dan keragaman kuliner Indonesia.

Berangkat dari persoalan tersebut, kuliner Indonesia tentunya tidak hanya yang diangkat menjadi ikon kuliner Indonesia saja, tetapi setiap kuliner daerah memiliki potensi yang sama untuk dikenal oleh masyarakat, baik nasional maupun internasional. Dibutuhkan tangan-tangan kreatif atau sentuhan kreatif yang tidak hanya berhubungan dengan masalah rasa, tetapi kreatifitas untuk membuat brand dan upaya promosi yang kreatif juga. Dibutuhkan ide-ide cemerlang untuk mengembangkan kuliner. Ide-ide inilah yang erat kaitannya dengan aspek ekonomi seperti yang dikemukakan tokoh ekonomi kreatif dari Inggris Jhon Howkins dalam bukunya The Creative Economy : How man make money from idea.

Dari 30 ikon kuliner yang dipublikasikan pemerintah, tak satupun kuliner yang berasal dari daerah  Karo. Tidak etnosentris, tetapi lebih memberikan contoh dan sekaligus kuliner daerah yang kurang tersentuh kreatifitas. Padahal begitu bayak juga kuliner yang sebenarnya memiliki nilai jual. Kriteria penilaian ikon kuliner itu sendiri ada dua, yaitu bahan baku harus mudah diperoleh, baik di dalam maupun luar negeri; kemudian kuliner tersebut telah dikenal oleh masyarakat luas, serta ada pelaku profesional praktisi kuliner tersebut. Di Tanah Karo ada beragam kuliner yang membutuhkan sentuhan kreatif disamping kuliner yang sudah terkenal di tingkat lokal seperti BPK. Katakanlah cipera manuk, bohan-bohan, labar-labar, lemang-lemang, tasak telu, pagit-pagit  atau terites, lomok-lomok, panggang, cingcang bulung gadung, gule berek dan cibet, umbut yang semuanya sangat khas dan unik dan hingga saat ini masih sangat alami sekali. Selain itu juga terdapat aneka kue seperti cimpa unung-unung, lemet, jong labar, cimpa matah, dan sebagainya. Jika minuman khas Karo seperti syrup Marquisa telah disentuh tangan kreatif, kiranya jenis-jenis makanan tersebut di atas juga butuh tangan-tangan kreatif. Ketika sektor pertanian di Tanah Karo suatu ketika tidak menjanjikan lagi, sektor kreatif kiranya menjadi salah satu bahan pertimbangan dan alternatif. Hal ini pula yang dilakukan oleh anak-anak muda Karo di GBKP Pondok Gede untuk memperkenalkan keragaman kuliner sekaligus mencoba sentuhan kreativitas anak-anak muda terhadap budayanya. Kegiatan ini sangat positif memperkenalkan kuliner Karo kepada anak muda, sekaligus membangun jiwa kreatif dan sekaligus melestarikan salah satu mata budaya Karo.

No comments:

About Me

My photo
Bekasi, Jawa Barat, Indonesia
Etnomusikolog