20 August 2010

SEREN TAUN :





Oleh : Julianus P Limbeng, Kepala Seksi Adat dan Upacara

Seren Taun adalah upacara adat panen padi masyarakat Sunda yang dilakukan tiap tahun. Upacara ini berlangsung khidmat dan semarak di berbagai komunitas adat Sunda atau biasa juga disebut dengan kampung adat seperti di Cigugur Kuningan, Cisungsang Lebak, Kenekes Baduy Sirna Resmi Cisolok Sukabumi, dan Sindang Barang Bogor, Desa Ciptagelar Kasepuhan Banten Kidul, di Kampung Naga, dan di beberapa komunitas adat di daerah Jawa Barat. Upacara ini hingga saat ini masih terus dilakukan oleh masyarakat sebagai upacara syukuran masyarakat agraris.

Istilah Seren Taun berasal dari kata dalam bahasa Sunda, seren yang artinya serah, seserahan, atau menyerahkan, dan taun yang berarti tahun. Seren Taun bermakna serah terima tahun yang lalu ke tahun yang akan datang sebagai penggantinya. Dalam konteks kehidupan tradisi masyarakat peladang Sunda, Seren Taun merupakan wahana untuk bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala hasil pertanian yang dilaksanakan pada tahun ini, seraya berharap hasil pertanian mereka akan meningkat pada tahun yang akan datang.

Lebih spesifik lagi, upacara Seren Taun merupakan acara penyerahan hasil bumi berupa padi yang dihasilkan dalam kurun waktu satu tahun untuk disimpan ke dalam lumbung padi (leuit). Ada dua leuit; yaitu lumbung utama yang bisa disebut leuit sijimat, leuit inten, atau leuit indung (lumbung utama); serta leuit pangiring atau leuit leutik (lumbung kecil). Leuit indung digunakan sebagai sebagai tempat menyimpan padi ibu yang ditutupi kain putih dan pare bapak yang ditutupi kain hitam. Padi di kedua leuit itu untuk dijadikan bibit atau benih pada musim tanam yang akan datang. Leuit pangiring menjadi tempat menyimpan padi yang tidak tertampung di leuit indung.

Meskipun ada perbedaan-perbedaan sedikit antara berbagai tempat yang melaksanakan upacara Seren Taun, namun pada prinsipnya upacara ini terkait dengan ungkapan syukur kepada Tuhan yang maha esa. Di Cigugur misalnya, upacara ini biasanya diselenggarakan tiap tanggal 22 Rayagung-bulan terakhir pada sistem penanggalan Sunda, sebagaimana biasa, dipusatkan di pendopo Paseban Tri Panca Tunggal, kediaman Pangeran Djatikusumah, yang didirikan tahun 1840; Namun di Sindang Barang dilaksanakan setiap satu tahun sekali, tepatnya pada awal tahun Hijriah; Di Cisungsang dan di Sukabumi diselenggarakan pada bulan Juli 2010 yang lalu.

Menurut catatan sejarah dan tradisi lokal, perayaan Seren Taun sudah turun-temurun dilakukan sejak zaman Kerajaan Sunda purba seperti kerajaan Padjadjaran. Upacara ini berawal dari pemuliaan terhadap nyi Pohaci Sang Hyang Sri atau Dewi Sri, yaitu Dewi Kesuburan atau dewi padi dalam kepercayaan masyarakat. Kini upacara Seren Taun bukan sekadar tontonan, melainkan juga tuntutan tentang bagaimana manusia senantiasa bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, terlebih di kala menghadapi panen. Upacara ini juga dimaksudkan agar Tuhan memberikan perlindungan di musim tanam mendatang.

Menurut beberapa tokoh adat Seren Taun pada jaman dahulu pelaksanaannya dilakukan secara serentak di seluruh wilayah kerajaan mulai dari Pakuan sampai daerah kapuunan dan kakolotan. Perayaan Seren Taun berdasarkan waktunya terbagi menjadi dua bentuk: pertama, perayaan yang sifatnya tahunan atau disebut juga upacara Seren Taun guru bumi. Perayaan ini dilaksanakan di Pakuan dan juga di seluruh wilayah kerajaan. Dan kedua, perayaan yang sifatnya sewindu (delapan tahun) sekali yang dikenal dengan upacara Seren Taun tutug galur atau biasa disebut upacara kuwera bakhti yang perayaannya dilakukan di Pakuan saja.

Bentuk perayaan kedua upacara tersebut sama saja, yang membedakan hanya pada kelengkapan upacara, batas waktu dan tempat pelaksanaannya. Seren Taun guru bumi dilaksanakan selama 4 hari sebelum bulan purnama dan berakhir pada hari malam bulan purnama tanggal satu bulan Mangsa Guru atau bulan pertama kalender Pajajaran (awal tahun). Sedangkan Seren Taun tutug galur dilaksanakan selama sepuluh hari yaitu dari sepuluh hari terakhir bulan mangsa bakti (bulan terakhir kalender Pajajaran) dan puncaknya sama seperti Seren Taun guru bumi yaitu pada malam bulan purnama tanggal satu bulan Mangsa Guru.

Perlu dipahami bahwa dalam penanggalan kalender Pajajaran satu bulan tidak dihitung dari banyaknya hari, tapi dihitung dari mulai bulan purnama sampai bulan purnama berikutnya. Sistem penanggalan ini sama seperti perhitungan kalender lunar atau sistem qamariyah (bulan) dalam Islam. Hanya yang membedakannya adalah dalam penghitungan awal bulan.

Seren Taun adalah sebuah upacara adat Sunda yang dapat dikatakan paling lama bertahan di Tatar Sunda. Upacara Adat yang berkaitan dengan kepercayaan masayrakat adat ini telah dimulai ratusan tahun yang lalu. Upacara adat Seren Taun ini pada sebagian masyarakat adat yang sudah dirayakan selama kurun waktu 431 Tahun. Seren Taun di Bogor misalnya telah dilaksanakan sebnayak 170 kali. Dewasa ini dalam kegiatan Seren Taun tidak hanya menarik bagi masyarakat pendukungnya, tetapi bagi orang luar. Hal ini disebabkan karena dalam upacara adat ini juga ditampilkan berbagai atraksi seperti debus, dan pertunjukan kesenian. Bahkan Seren Taun di Banten Kidul Cisungsang baru-baru ini (--yang dihadiri oleh Wakil Gubernur Provinsi Banten, Sekretaris Direktorat Jenderal Nilai Budaya, Seni dan Film, Drs. Mumus Muslim, MM, dan Direktur Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Drs. Gendro Nurhadi, M.Pd.,--) telah diramaikan oleh para pedagang di sepanjang jalan menuju lokasi. Kegiatan adat ini juga dihadiri oleh orang asing dan diliput oleh berbagai media. Ini menunjukkan bahwa dalam era kekinian pelestarian tradisi seperti ini juga bias dimanfaatkan untuk keperiwisataan. Sehingga di satu sisi kebudayaan pun dapat terlestarikan, di sisi yang lain ekonomi masyarakat setempat pun dapat terberdayakan. (JL)

Referensi :
Hudaya, Dadan. ”Seren Taun : Antara Tradisi, Wisata, dan Arus Budaya Luar”, dalam Rumahdunia.net., diakses 10 Juli 2010.

Sudrajad, Diki. “Seren Taun: Ritual Tahunan 175 tahun yang lalu”, dalam Tempo Interaktif.com, diakses 10 juli 2010.

http://kanguwes.wordpress.com/2008/01/08/seren-taun-tahun-baruan-ala-orang-sunda, diakses 10 Juli 2010.
www.tempointeraktif.com, diakses 10 juli 2010.
http://id.wikipedia.org/wiki/Seren_Taun

No comments:

About Me

My photo
Bekasi, Jawa Barat, Indonesia
Etnomusikolog