24 February 2011

Hahoe Tal dan Gundala-Gundala


Oleh : Julianus P Limbeng

Keindahan alam merupakan sebuah anugerah yang patut disyukuri sebagai potensi kepariwisataan di Tanah Karo. Namun di sisi lain, sebenarnya masih ada unsur-unsur lain yang patut diperhatikan dan dipertimbangkan dalam mengembangkan kepariwisataan disana. Salah satunya adalah kekayaan budaya yang dimiliki oleh Karo itu sendiri.

Bila berkunjung ke suatu daerah, biasanya sudah pasti ada uang lebih untuk membeli buah tangan, oleh-oleh berupa makanan khas atau cenderamata khas daerah tersebut. Cenderamata ini ada yang diperuntukkan pengunjung itu sendiri maupun buat orang lain. Di Tanah Karo memang telah terdapat beberapa cenderamata, seperti aneka ragam uis Karo (yang konon katanya bukan orang Karo lagi yang buat), alat-alat musik tradisional, beberapa jenis pakaian dengan tulisan Berastagi, sendok dan garpu dari kayu dengan tulisan ‘lake toba’ (tanah Karo mana?) dan seterusnya. Saya melihat unsure-unsur budaya Karo itu masih kurang diberdayakan, semisal miniature gendang Karo, ragam hias Karo untuk kaos oblong, kuan-kuan Karo yang bisa saja disablon dan disertakan terjemahan bahasa Indonesianya, sekaligus memperkenalkan nilai-nilai budaya Karo bagi masyarakat luas. Dan masih banyak lagi tentunya. Ini semua berkaitan dengan kreativitas masyarakat dan sense of bussinesnya. Barangkali karena sector pertanian masih menggembirakan dalam konteks ekonomi masyarakat Karo, sector kreativitas kurang terperhatikan.

Ketika akhir tahun lalu saya berkunjung ke dua daerah wisata di Korea Selatan, Andong Hahoe Village dan Dosan Seowon, ada hal yang menarik bagi saya, bagaimana pemerintah disana (Andong Major) memberdayakan desa adat sekaligus potensi budaya yang ada disana. Unsur budaya mereka sebenarnya tidak terlalu banyak, namun pengemasan mereka cukup baik, sehingga budaya mereka terberdayakan sehingga ada impactnya langsung bagi masyarakat, yaitu jargon yang sering dilontarkan pemerintah kita saat ini dan pro poor, pro job, pro growth, dan pro environment, yaitu dapat bermanfaat langsung dan dinikmati oleh masyarakat. Topeng Hahoe (Hahoe Mask) atau dalam bahasa Korea disebut Hahoe Tal, adalah satu potensi budaya mereka yang telah berhasil diberdayakan dengan baik. Di sana ada pertunjukan Topeng Hahoe dengan berbagai karakter tersebut setiap tahun. Bahkan pemerintah disana juga mengadakan festival topeng yang bertarap nasional dan internasional dengan membina hubungan dengan berbagai Negara. Termasuk dengan Indonesia. Ketika saya disana, kebetulan ada dosen dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta juga sedang mempelajari pemberdayaan topeng tersebut disana. Topeng Hahoe itu juga telah didaftarkan sebagai warisan budaya tak benda sebagai kekayaan budaya mereka. Upaya perlindungan ini telah terdaftar sebagai National Treasure No.121. Memang beragam topeng bisa kita temukan disana.

Selain festival topeng, Hahoe Tal atau Topeng Hahoe tersebut juga diberdayakan dalam bentuk lain. Topeng Hahoe bahkan menjadi maskot Andong dan di berbagai tempat bisa kita temukan beragam jenis topeng, misalnya di The National Folk Museum of Korea. Topeng Hahoe mereka buat mulai dari pernak-pernak kecil, hingga bentuk dan ukuran aslinya. Miniatur topeng itu misalnya dibuat menjadi gantungan kunci, modifikasi bentuk wajah saja dan dibuat menjadi pajangan yang menarik. Pokoknya butuh kreativitas untuk menghasilkan beragam karya seni yang menarik, mulai dari harga yang relative murah hingga ratusan ribu, jika Won dikonversi ke Rupiah. Saya sangat senang ketika Walikota Andong, Korea  memberikan saya Hahoe Tal, yaitu Yang Ban, meskipun kecil, tapi ada nilai tersendiri bagi saya. Apalagi yang memberikan orang nomor satu di kota itu.

Lantas bagaimana dengan Karo ? Kita juga memiliki topeng Gundala-Gundala dengan dukungan folklore (cerita prosa rakyat) dan kesenian yang masih hidup dan diketahui oleh sebagian masyarakat tentunya. Kita memiliki Manuk Si Gurda Gurdi, Tembut-Tembut Seberaya, Dogal-Dogal, yang semuanya masih erat kaitannya dengan tradisi Karo.  Dari sisi seni pertunnjukannya misalnya bisa diberdayakan dengan membuat festival gundala-gundala atau Festival Topeng Karo. Mungkin Dogal-Dogal yang dulu erat kaitannya dengan kepercayaan tradisi memanggil hujan pada masyarakat Karo akan muncul kembali dengan sentuhan kreativitas. Topeng Gundala-Gundala pun mungkin saja akan muncul dengan bentuk asli dan bentuk kreativitas lain. Semisal apa yang telah kita lakukan pada Indonesian Mask Festival di Cilimus, Cirebon Jawa Barat pada akhir tahun lalu, yang diliput beberapa media. Say abaca malah di LionMag, majalah Lion air, di TV Swasta dan Kompas pun beritanya ada. Selain berkaitan dengan seni pertunjukan, mungkin saja dibuat sebagai pernak-pernik buat cendera mata. Jika ini telah dilakukan, upaya ini bukan hanya berdampak pada pengembangan ekonomi masyarakat, tetapi juga telah melakukan upaya perlindungan terhadap kekayaan budaya Karo itu sendiri. Jika Bupati Karo memberikan cenderamata kepada tamunya berupa miniature rumah adat Karo, topeng gundala-gundala, upaya perlindungan itu sudah dilaksanakan, sekaligus upaya memupuk kebanggaan akan budaya Karo. Dampaknya ? Pasti ada. (Jakarta, 24 Februari 2011).

17 February 2011

Ngepkep ate jadi

Gambar Pasu-Pasu

Jumpa La Banci

2 February 2011

Daftar Marga Orang Karo

Marga Karo

Cabang-cabang merga suku Karo dan persebarannya.

A. Merga Karokaro dan cabang-cabangnya
  1. Karokaro Sinulingga di Lingga, Bintang Meriah, dan Gunung Merlawan.
  2. Karokaro Surbakti di Surbakti dan Gajah.
  3. Karokaro Kacaribu di Kutagerat dan Kerapat
  4. Karokaro Sinukaban di Kaban dan Sumbul.
  5. Karokaro Barus di Barus Jahe, Pitu Kuta.
  6. Karokaro Simbulan di Bulanjulu dan Bulanjahe.
  7. Karokaro Jung di Kutanangka, Kalang, Perbesi, dan Batukarang.
  8. Karokaro Purba di Kabanjahe, Berastagi, dan Lau Cih (Deli Hulu).
  9. Karokaro Ketaren di Raya, Ketaren Sibolangit, dan Pertampilen.
  10. Karokaro Gurusinga di Gurusinga dan Rajaberneh.
  11. Karokaro Kaban di Pernantin, Kabantua, Bintang Meriah, Buluh Naman, dan L. Lingga.
  12. Karokaro Sinuhaji di Ajisiempat.
  13. Karokaro Sekali di Seberaya.
  14. Karokaro Kemit di Kuta Bale.
  15. Karokaro Bukit di Bukit dan Buluh Awar.
  16. Karokaro Sinuraya di Bunuraya, Singgamanik, dan Kandibata.
  17. Karokaro Samura di Samura.
  18. Karokaro Sitepu di Naman dan Sukanalu
B. Merga Ginting dan cabang-cabangnya
  1. Ginting Munte di Kutabangun, Ajinembah, Kubu, Dokan, Tanggung, Munte, Rajatengah, dan Bulan Jahe.
  2. Ginting Babo di Gurubenua, Munte, dan Kutagerat.
  3. Ginting Sugihen di Sugihen, Juhar, dan Kutagunung.
  4. Ginting Gurupatih di Buluh Naman, Sarimunte, Naga, dan Lau Kapur.
  5. Ginting Ajartambun di Rajamerahe.
  6. Ginting Capah di Bukit dan Kalang.
  7. Ginting Beras di Laupetundal.
  8. Ginting Garamata di (Simarmata) Raja Tengah, Tengging.
  9. Ginting Jadibata di Juhar.
  10. Ginting Suka Ajartambun di Rajamerahe.
  11. Ginting Manik di Tengging dan Lingga.
  12. Ginting Sinusinga di Singa.
  13. Ginting Jawak di Cingkes (?)
  14. Ginting Seragih di Lingga Julu.
  15. Ginting Tumangger di Kidupen dan Kemkem.
  16. Ginting Pase di …. (lenyap?)
C. Merga Tarigan dan Cabang-cabangnya
  1. Tarigan Sibero di Juhar, Kutaraja, Keriahen, Munte, Tanjung Beringin, Selakar, dan Lingga.
  2. Tarigan Tambak di Kebayaken dan Sukanalu.
  3. Tarigan Silangit di Gunung Meriah.
  4. Tarigan Tua di Pergendangen, Talimbaru.
  5. Tarigan Tegur di Suka.
  6. Tarigan Gersang di Nagasaribu dan Berastepu.
  7. Tarigan Gerneng di Cingkes (Simalungun).
  8. Tarigan Gana-gana di Batukarang.
  9. Tarigan Jampang di Pergendangen.
  10. Tarigan Tambun di Rakutbesi, Binangara, Sinaman dll.
  11. Tarigan Bondong di Lingga.
  12. Tarigan Pekan (Cabang dari Tambak) di Sukanalu
  13. Tarigan Purba di Purba (Simalungun)
D. Merga Sembiring dan Cabang-cabangnya
I. Sembiring Siman biang (Tidak biasa kawin campur darah dengan cabang Sembiring lainnya, artinya: tidak diperbolehkan perkawinan dengan sesama merga Sembiring).
  1. Sembiring Kembaren di Samperaya dan hampir di seluruh urung Liang Melas.
  2. Sembiring Sinulaki di Silalahi.
  3. Sembiring Keloko di Pergendangen.
  4. Sembiring Sinupayung di Juma Raja dan Negeri
II. Sembiring Simantangken biang (ada dilakukan perkawinan antara cabang merga Sembiring)
  1. Sembiring Colia di Kubucolia dan Seberaya.
  2. Sembiring Pandia di Seberaya, Payung, dan Beganding.
  3. Sembiring Gurukinayan di Gurukinayan.
  4. Sembiring Berahmana di Kabanjahe, Perbesi, dan Limang.
  5. Sembiring Meliala di Sarinembah, Munte Rajaberneh, Kedupen, Kabanjahe, Naman, Berastepu, dan Biaknampe.
  6. Sembiring Pande Bayang di Buluh Naman dan Gurusinga.
  7. Sembiring Tekang di Kaban.
  8. Sembiring Muham di Susuk dan Perbesi.
  9. Sembiring Depari di Seberaya, Perbesi, dan Munte.
  10. Sembiring Pelawi di Ajijahe, Perbaji, Kandibata, dan Hamparan Perak (Deli).
  11. Sembiring Busuk di Kidupen dan Lau Perimbon.
  12. Sembiring Sinukapar di Pertumbuken, Sidikalang(?) Sarintono.
  13. Sembiring Keling di Juhar dan Rajatengah.
  14. Sembiring Bunuh Aji di Sukatepu, Kutatonggal, dan Beganding
E. Merga Peranginangin dan cabang-cabangnya
  1. Peranginangin Namohaji di Kutabuluh.
  2. Peranginangin Sukatendel di Sukatendel.
  3. Peranginangin Mano di Pergendangen.
  4. Peranginangin Sebayang di Perbesi, Kuala, gunung dan Kuta Gerat.
  5. Peranginangin Pencawan di Perbesi.
  6. Peranginangin Sinurat di Kerenda.
  7. Peranginangin Perbesi di Seberaya.
  8. Peranginangin Ulunjandi di Juhar.
  9. Peranginangin Penggarus di Susuk.
  10. Peranginangin Pinem di Serintono (Sidikalang).
  11. Peranginangin Uwir di Singgamanik.
  12. Peranginangin Laksa di Juhar.
  13. Peranginangin Limbeng di Kuta Jurung, Biru-Biru, Deli Serdang.
  14. Peranginangin Singarimbun di Mardinding , Kutambaru dan Temburun.
  15. Peranginangin Keliat di Mardinding.
  16. Peranginangin Kacinambun di Kacinambun.
  17. Peranginangin Bangun di Batukarang.
  18. Peranginangin Tanjung di Penampen dan Berastepu.
  19. Peranginangin Benjerang di Batukarang
Sebagian dari marga Peranginangin dan Sembiring dapat kawin sesamanya (antar cabang merga).
Ada pula merga yang melakukan Sejandi yaitu perjanjian tidak saling mengambil atau tidak mengadakan perkawinan antar merga bersangkutan, misalnya : antara Sembiring Tekang dengan Karokaro Sinulingga dan antara Karokaro Sitepu dengan Peranginangin Sebayang.

About Me

My Photo
Bekasi, Jawa Barat, Indonesia
Etnomusikolog