Posts

Pers dan Kebudayaan Karo

Julianus P Limbeng Kebudayaan merupakan sebuah proses panjang dan mengalami berbagai tantangan perubahan bahkan bisa jadi melelahkan dan kontroversial bagi masyarakat pendukungnya menjadikan dia ada sebagai identitas bersama atau ‘kebersaamaan’, yang kemudian menjadi semangat, semangat ke-Karoan. Dalam menciptakan semangat ke-Karoan ini adakah peran pers yang signifikan baik Karo sebagai budaya, identitas bersama dan Karo dalam ranah politik. Tentunya melewati dalam berbagai bentuk dan varian dalam skema ‘perjuangan’. Perjuangan itu sendiri dapat dilihat dari dua sisi, yaitu skema perjuangan yang dilakukan dengan cara peperangan dan adu senjata (pasukan) di medan laga. Hal ini dapat kita lihat dari gigihnya pahwalan-pahlawan dari Karo untuk mempertahankan daerah Karo (Indonesia) dari penjajahan asing, baik sebelum jaman kemerdekaan maupun pos-kemerdekaan Indonesia. Sisi yang lain adalah perjuangan dengan membangun kesadaran identitas bersama tadi lewat media cetak atau jalan pers. Sisi...

Kuda Njujung Kabel PLN

Image
Inilah pemandangan setiap hari bagi orang yang lalu lalang di Jl. kapten Pala Bangun Kabanjahe. Patung anak sator (kuda), sebagai kebanggaan orang Karo yang banyak pemain catur bergelar Master Nasional. Ini kurang perhatian dari instansi terkait... Kabanjahe, 7 Januari 2008.

KARO IKUT MERIAHKAN 1 SYURO

Jakarta, Soramido Acara 1 Muharram atau pada para Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa lebih dikenal dengan 1 Syuro diperingati di Sasono Utomo Taman Mini Indonesia Indah Jakarta, Rabu malam 9 Januari 2008. Acara ini dihadiri oleh 104 orang Raja dan Sultan se-Nusantara, Dr. Mukhlis PaEni (Dirjen Nilai Budaya Seni dan Film Depbudpar), Dirjen Pengembangan Budaya Politik Depdagri, Direktur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa, tokoh penghayat, serta ratusan para normal dan penyembuh alternartif dari berbagai daerah. Acara ini didominasi oleh para penghayat kepercayaan dari berbagai daerah seperti Parmalim (Toba), Aliran Kebathinan Perjalanan, Sapto Darmo, Kalimosodo, dan sebagainya. Dalam kesempatan ini juga perwakilan dari Karo juga turut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Lebih kurang 10 orang mengenakan ose Karo. Namun mereka tidak mengatas namakan salah satu kepercayaan lama Karo, seperti Pemena, Ruang Sipitu, atau Pijer Podi yang menurut daftar di Direktorat Ke...

RUDANG

Cerpen: RUDANG Julianus P Limbeng Megati kel kalak salah sangka kerna gelarku. Adi langa itandai kalak aku, ugape akapna aku sekalak diberu. Apai ka adi gundari beru pe enggo jarang ipake bas gelar diberu Karo. Jadi wajar saja adi akap kalak aku diberu. Sebab mecERmanCg lit ka seri gelarna ras aku, tapi ia sekalak diberu. Janah piga-piga sipernah kujumpa ergelarken rudang, biasana diberu, janah rata-rata mejile kerina. La kuangka engkai maka gelar Rudang buen gelar diberu, mungkin gelar e gelar diberu kin pe. Entah maun aku ngenca dilaki ergelarken Rudang. Rudang identik feminim, la maskulin. Bagepe sierbahan turi-turin, megati kel ibahanna gelar Rudang jadi gelar diberu mejile. La ietehna maka lit gelar Rudang sekalak dilaki si sitik pe la bagi diberu, baik sifat, watak, bagepe potongenku sitik pe la mediberu. Adi ras la kalak Karo, mungkin saja gelarku cukup ‘keren’ man kalak, erkiteken jarang jumpana gelar sibage, janah la angkana kai ertina. Adi ndilo aku “Rud’ nina saja. Jelas dil...

SUKU AKIT: MENJAGA DAN MEWARISI TRADISI ADAT

Julianus P Limbeng Speed boad yang kami tumpangi dari Dumai menuju pulau Rupat, sangatlah berdesak-desakan. Meskipun sarat penumpang, namun kecepatan kapal kecil tersebut yang seakan-akan terbang di atas riak gelombang laut Selat Malaka sangat mengocok perut, sehingga bagi yang tidak terbiasa bisa pusing, karena cukup mengocok perut. Selama perjalanan speed boat tersebut singgah di beberapa pelabuhan yang sangat kecil. Dan sepanjang perjalanan kita bisa menyaksikan pasir-pasir putih sepanjang 12 km dan hutan-hutan mangrove yang masih sangat alami. Selama lebih kurang dua jam akhirnya kami melangkahkan kaki di Tanjung Medang, yang merupakan salah satu wilayah yang dihuni oleh suku Akit. Di pelabuhan tradisional ini, kita akan disambut oleh suara burung wallet yang diputar melalui kaset atau CD, karena di daerah ini banyak sarang burung wallet. Hal seperti ini dapat kita saksikan di desa-desa sekitarnya, seperti Tanjung Punak dan Tanjung Rhu. Selama kami berada di pulau Rupat, kami tidak...

KIBOT KARO DAN KREATIF EKONOMI

Julianus P Limbeng Dalam kesenian Karo, seorang perkibot dan kibot kiranya telah dapat dikategorikan sebagai bagian pemusik Karo. Ini tidak dapat dipungkiri karena fungsi dan perannya yang begitu vital dalam berbagai kegiatan adat-istiadat, meskipun tokoh folklore semisal Brunvan, atau James Danandjaja mengatakan setidaknya satu budaya dapat dikatakan milik satu etnis, apabila ia telah hadir dua generasi dalam budaya tersebut. Kehadirannya dalam kesenian Karo meskipun relatif masih baru, namun daya pikatnya cukup dahsyat menggempur ruang-ruang yang dulunya diisi oleh kehadiran musik yang biasa dikategorikan genuine dan indigenous. Dalam kasus ini sebenarnya tampak ke’munafikan’ kita dalam berkesenian. Banyak terdapat hal-hal yang bersifat paradoksal yang dibiarkan mengambang (flotation), yang terkadang dihadirkan dalam kata setuju dan tidak setuju. Namun secara sinkronik dan diakronik, ia telah mampu mendominasi dan hukum dominan kelihatannya sangat kuat berlaku disana. Terlepas dari m...

NO NAME DAN KESADARAN SENI

Image
Julianus P Limbeng [1] Lima tahun yang lalu, dalam sebuah surat yang dikirimkan oleh seorang pencipta lagu Karo senior kepada saya, ia memberitahukan bahwa sebenarnya ada beberapa lagu yang sebenarnya ciptaannya, tetapi selama ini disebutkan sebagai ciptaan orang lain. Dalam surat tersebut juga disebutkan bahwa dia bersedia melakukan dialog terkait dengan keberadaan beberapa lagu yang ia sebutkan tersebut. Artinya, meskipun kasus ini belum masuk dalam tahap sengketa, atau barangkali class action melalui jalur hukum, namun ketika nilai-nilai komersil muncul pada karya-karya seni, khususnya lagu-lagu Karo, mulai timbul kesadaran akan nilai-nilai komersil tersebut, setidaknya terbukanya pemahaman baru tentang pencipta dan hak cipta, namun kesadaran itu belum signifikan, karena banyak sekali kekayaan intelektual kita yang perlu mendapatkan perlindungan. Kesadaran akan hak cipta tersebut bagi masyarakat pada umumnya masih sangat minim sekali. Ini disebabkan beberapa factor, antara lain: pen...