Posts

Showing posts with the label budaya

HIBUALAMO : Oleh-oleh dari Halmahera Utara

Image
Julianus P Limbeng Ada hal menarik ketika berkunjung selama empat hari ke Tobelo, Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara (17 – 20 April 2011). Meskipun perjalanan dari Jakarta menuju tempat ini cukup melelahkan, namun ketika berada di daerah ini kepenatan seakan terbalaskan dengan menikmati budaya dan kulinernya. Dari Jakarta saya berangkat pukul 05.40 pagi naik GA600 menuju Sam Ratulangie Manado dengan waktu tempuh dua jam tujuh menit. Transit selama empat puluh lima menit, kemudian dilanjutkan menuju Bandara Sultan Babullah di Ternate dengan waktu empat puluh lima menit. Dari Ternate menyeberang ke Pulau Halmahera dengan menaiki speedboat selama empat puluh lima menit, persis mengitari sisi kiri pulau Maitara dan Tidore. Pulau ini persis dilihat seperti gambar di uang pecahan seribu rupiah. Untuk mencapai Tobelo, masih membutuhkan empat hingga lima jam perjalanan darat dari Sofifi. Cukup melelahkan jika fisik kurang fit, tetapi banyak ha...

Beda Sendiri

Image
Memang tak lazim mengenakan kain beka buluh seperti ini, tapi setidaknya menunjukkan saya beda sendiri dari mereka, saya orang Karo.. gitu aja. Makassar, Juni 2007.

Pemanfaatan Kesenian Karo

Julianus P Limbeng Adi sinehen uga buena kesenian ‘tradisional’ Karo, situhuna adi siperugunakenlah alu mehuli, maka seni Karo e ndai meherga kel adi ikaitken kubas aspek ekonomi, sosial bagepe budaya e sendiri. Adi nen seni musikta, arah segi instrumen pe cukup mbue, lit surdam rumamis, surdam tangko kuda, surdam pingko-pingko, surdam puntung, surdam, balobat, murbab, keteng-keteng, kulcapi, sarune, gendang, penganak, gung, ketuk, kap-kap, olek-olek, ras sidebanna si cukup mbue denga. Bagepe ibas bidang seni dideban, mbue turi-turin Karo [mbue lanai ieteh], mbue ornamentasi Karo, mbue lagu-lagu Karo, mbue tari-tarian Karo, lit ndung-ndungen, lit didong-didong, lit io-io, lit erbagai macam upacara si adi, si banci kelompokken sebagai seni pertunjukan komunal, ras mbue denga jenis kesenian sideban. Kerina e banci ikataken sebagai aset ekonomis. Tapi memang si lebih penting uga kita memberdayakenca, gelah banci ia menjadi aset ekonomis tapi pe la bertentangen ras nilai-nilai entahpe tata...

Pers dan Kebudayaan Karo

Julianus P Limbeng Kebudayaan merupakan sebuah proses panjang dan mengalami berbagai tantangan perubahan bahkan bisa jadi melelahkan dan kontroversial bagi masyarakat pendukungnya menjadikan dia ada sebagai identitas bersama atau ‘kebersaamaan’, yang kemudian menjadi semangat, semangat ke-Karoan. Dalam menciptakan semangat ke-Karoan ini adakah peran pers yang signifikan baik Karo sebagai budaya, identitas bersama dan Karo dalam ranah politik. Tentunya melewati dalam berbagai bentuk dan varian dalam skema ‘perjuangan’. Perjuangan itu sendiri dapat dilihat dari dua sisi, yaitu skema perjuangan yang dilakukan dengan cara peperangan dan adu senjata (pasukan) di medan laga. Hal ini dapat kita lihat dari gigihnya pahwalan-pahlawan dari Karo untuk mempertahankan daerah Karo (Indonesia) dari penjajahan asing, baik sebelum jaman kemerdekaan maupun pos-kemerdekaan Indonesia. Sisi yang lain adalah perjuangan dengan membangun kesadaran identitas bersama tadi lewat media cetak atau jalan pers. Sisi...

KARO IKUT MERIAHKAN 1 SYURO

Jakarta, Soramido Acara 1 Muharram atau pada para Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa lebih dikenal dengan 1 Syuro diperingati di Sasono Utomo Taman Mini Indonesia Indah Jakarta, Rabu malam 9 Januari 2008. Acara ini dihadiri oleh 104 orang Raja dan Sultan se-Nusantara, Dr. Mukhlis PaEni (Dirjen Nilai Budaya Seni dan Film Depbudpar), Dirjen Pengembangan Budaya Politik Depdagri, Direktur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa, tokoh penghayat, serta ratusan para normal dan penyembuh alternartif dari berbagai daerah. Acara ini didominasi oleh para penghayat kepercayaan dari berbagai daerah seperti Parmalim (Toba), Aliran Kebathinan Perjalanan, Sapto Darmo, Kalimosodo, dan sebagainya. Dalam kesempatan ini juga perwakilan dari Karo juga turut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Lebih kurang 10 orang mengenakan ose Karo. Namun mereka tidak mengatas namakan salah satu kepercayaan lama Karo, seperti Pemena, Ruang Sipitu, atau Pijer Podi yang menurut daftar di Direktorat Ke...

WORKSHOP TARI KARO DI TAMAN MINI

Image
150 orang belajar tari Karo.. Jakarta, Soramido Lebih kurang seratus lima puluh orang belajar menari Terang Bulan di Auditorium Museum Penerangan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) pada hari Sabtu (14/07/07) yang lalu. Mereka merupakan peserta workshop tari Karo yang berasal dari sanggar-sanggar tari se-Jabodetabek. Workshop sehari ini dibuka secara resmi oleh Gubernur Sumatera Utara yang diwakili oleh kantor wilayah Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Utara. Sebelum dilakukan workshop, acara diawali dengan pembacaan sambutan Gubernur Sumatera Utara dan dilanjutkan dengan pemaparan materi dari empat pemakalah. Pemakalah pertama dibawakan oleh Drs. Syamsul Lussa, MA. (Direktur Pengembangan Pasar Pariwisata Departemen Kebudayaan dan Pariwisata; makalah kedua disampaikan oleh Ir. Dra. Ertis Yulia Manikam (Pengelola Taman Mini), makalah ketiga disampaikan oleh Drs. Nyoman Wardana (Dinas Kebudayaan dan Pariwisata DKI Jakarta), dan makalah keempat disampaikan oleh Julianus P Limbeng, ...

SEJARAH MAKNA FILOSOFI SENI TARI KARO

Image
[1] Julianus P Limbeng [2] Pendahuluan Bagi masyarakat Karo, dikenal istilah uga gendangna bage endekna, yang artinya bagaimana musiknya, harus demikian juga gerakannya (endek). Endek diartikan disini tidak sebagai gerakan menyeluruh dari anggota badan sebagai sebagaimana tarian pada umumnya, tetapi lebih ditekankan kepada gerakan kaki saja. Oleh sebab itu endek tidak dapat disamakan sebagai tari, meskipun unsure tarian itu ada disana. Hal ini disebabkan konsep budaya itu sendiri yang memberi makna yang tidak dapat diterjemahkan langsung kata per kata. Karena konsep tari itu sendiri mempunyai perbedaan konsep seperti konsep tari yang dalam berbagai kebudayaan lainnya. Konsep endek harus dilihat dari kebudayaan karo itu sendiri sebagai pemilik kosa kata tersebut. Konsep-konsep seperti ini juga dapat kita lihat pada istilah musik bagi masyarakat Karo. Pada masyarakat Karo tidak dikenal istilah musik, dan tidak ada kosa kata musik, tetapi dalam tradisi musik kita mengenal istilah gendang ...

Komentar: PEMBEBASAN KEBUDAYAAN KARO

Mbelin kel kuakap perpayona kata Nuah P Tarigan, memang Batak sendiri pe enggo ndekah sikueteh iperdebatken kalak. Kebetulen ibas Kongres Budaya Karo Desember 2005, aku ikut sebagai peserta utusen Medan nari i Berastagi tupung si e. Kuinget ije uga perdebaten Prof. H. Guntur Tarigan, bagepe idukung Prof. M. Singarimbun ngatakenca bahwa Karo labo Batak, erkiteken Batak nina berbau Kolonialisme.Reh nina perkolong-kolongta Sinek br Purba "Uga ka maka katakenndu Karo la Batak, nai nari pe sikueteh Karo enda Batak..., enda Karo la Batak nindu, kita batak enda ma lit kin lima...?", nina kira-kira bagem. Emaka ijawab H. G. Tarigan ka ibas depan nari "E ma nindu..., ningku ?" nina. E sikuinget tupung si e. Kata Batak ibas Karo , eme Mbatakken, Gula Batak (amin gia i Pulau Jawa gula Jawa ka nge nina Batak). Emaka nina tupung si e, GBKP pe situhuna arus menghilangken huruf B bas GBKP e. Ije nge tupung si e Moderamenta. Tapi seh gundari lit denga lalap B ndai. kalak Karo Batak...

TERKEJUT DAN FUNGSINYA PADA MASYARAKAT KARO

Oleh : Yulianus Liem Beng Seseorang yang mempunyai penyakit hipertensi dan jantung biasanya menghindari keadaan terkejut, baik terkejut datangnya dari suara yang keras secara tiba-tiba maupun berita-berita yang dapat menimbulkan detak jantungnya berpacu tak menentu, karena hal itu bisa membawa dampak yang kurang menguntungkan bagi keberadaan jiwanya. Tetapi bagi satu kelompok masyarakat di Sumatera Utara, yaitu suku bangsa Karo keadaan 'terkejut' malah mempunyai fungsi yang besar sekali hubungannya dengan prokreasi (melanjutkan keuturunan). Keadaan terkejut sengaja diciptakan untuk menghasilkan sebuah proses yang dipercayai dapat membawa dampak yang baik bagi pasangan suami istri (pasutri) yang belum memperoleh keturunan (baca : belum punya anak), maupun bagi sebuah keluarga yang belum mempunyai anak yang berjenis kelamin laki-laki. Mendapatkan anak bagi masyarakat Batak pada umumnya adalah suatu hal yang amat penting. Walaupun dengan perkembangan pemikiran yang semakin 'ma...

KONSER KLASIK ras KEBAKTIN

Pt. Julianus P Limbeng Lit piga-piga perserina Konser Musik Klasik entah pe Resital ras Kebiasan Kebaktin ibas Gerejanta. Ibas konser musik klasik entahpe resital, ugape kalak si bengket kubas ruang pertunjuken e enggo ngangkai aturen-aturen ndedah konsek entahpe resital musik klasik, la gia tertulis, konvensi. Pemena lebe, harus njaga ketertiban, la banci pedarat sora sangana pemain memainken sada komposisi. Sebab merugiken permainen musik e sendiri kune adi iganggu alu sora-sora sideban, sebab dinamika musik e sangat penting, janah e merupakan unsur si penting ibas pertunjuken musik e sendiri. (Banci sibandingken uga kita ngikuti kebaktian setiap minggu, apaika bicara lit lakon peridin, ngawan, pelantiken-pelamnti ken ras sidebanna). La banci mereken respon adi langa dung sada kompoisi imainken. Misalna la banci ertepuk tan adi langa pemain e tedis nandaken pertunjuken e dung, entahpe istirahat. (Megati ibas kebaktian siidah, la akap jemaat e cocok khotbah pandita, entahpe pertua-dia...

Kekaroan

J.P.Limbeng Terlalu banyak asal usul kita, sehingga yang muncul selama ini adalah perbedaan-perbedaan, dan kita ingin lebih memperlihatkan perbedaan-perbedaan kita itu. Padahal pembedaan Karo Jahe Karo Gugung yang selama ini hidup dalam masyarakat kita sedikit banyaknya pasti menimbulkan efek yang tidak baik bagi pembangunan kebudayaan Karo. "Adi erjabu kam pagi ula ku Gugung, nakku, apai ka ku Singalor Lau, cakapna ngenca mehuli..." "Karo Jahe La Ergumbar..." dan seterusnya dan seterusnya. Pernah kah kita sadari dampak dari ucapan tersebut bagi generasi kita berikutnya? "Kalak Karo Pendendam..." kita juga sering mendengar itu, dan sterusnya-dan seterusnya. Pernah kah kita sadari bagaimana ucapan itu membentuk karakter sifat, jika itu diyakini sebagai sebuah kebenaran warisan budaya (suku). Seharusnyalah kita melihat persamaan-persamaan kita dalam rangka membangun Ke-Karoan.