Posts

Ensambel Semar Pagulingan (Bali)

ENSAMBEL MUSIK SEMAR PAGULINGAN Semar Pagulingan adalah sebuah gamelan yang berasal dari Bali, Indonesia.  Gamelan ini dekat hubungannya dengan gamelan Gambuh , di mana ia juga merupakan perpaduan antara gamelan Gambuh dan Legong . Semar Pagulingan merupakan gamelan rekreasi untuk istana raja-raja zaman dahulu. Biasanya dimainkan pada waktu raja-raja akan kepraduan (tidur). Gamelan ini juga dipergunakan untuk mengiringi tari Leko dan Gandrung yang semula dilakukan oleh abdi raja-raja kraton. Semar Pagulingan memakai laras pelog 7 nada, terdiri dari 5 nada pokok dan 2 nada pamero. Repertoire dari gamelan ini hampir keseluruhannya diambil dari Pegambuhan (kecuali gending Leko) dan semua melodi-melodi yang mempergunakan 7 nada dapat segera ditransfer ke dalam gamelan Semar Pagulingan. Bentuk dari gamelan Semar Pagulingan mencerminkan juga gamelan Gong, tetapi lebih kecil dan lebih manis disebabkan karena hilangnya ...

Turi-turin : Deleng Kuta Gugung

Image
DELENG KUTA GUGUNG Ituriken : Nini Riodes br Tarigan Tambak I daerah deher Kuta Jurung, Deli Serdang, lit me sada perjuman gelarna Deleng Kuta Gugung. Duapuluh tahun si lewat, ope denga perjumaan e langa jadi perkebunen, adi gelari “gundur’ biasana minter reh udan. Emaka adi merdang kenca ibas daerah e, biasana enggo ipersingeti orang tua gelah adi mindo gulen ula gelari gundur, erkiteken adi merdang kebiasaan daerah e gulenna biasana gundur ras dantis (sarden). Adi gelari gundur ugape nusur udan, lanai banci ngerdangi juma, entah pe nuan page. Uga maka bage banci terjadi ? Kepeken lit turi-turinna si cukup populer daerah sekitar enda. Turi-turinna bagenda, bagi sini turiken Nini Tigan Riodes br Tarigan. Hio.., nai ningen ibas sada kuta si kitik denga, lit me ije tading sekalak perbapan ras ndeharana, anakna dua kalak diberu. Sinuan-nuannna pe mbuah kerina rikut pe rubia-rubia ni asuh pe merih kerina. Babi, manuk, bagepe lembu na enggo pe mbue. Ana...

Cerpen : LUAH MAN RIFKA

Pt. Julianus P Limbeng “Enggo kupilih Abraham, gelah banci iperentahkenna anakna ras kesusurenna gelah erkemalangen man Bangku, janah ilakokenna kai si benar ras bujur.” (Kejadin 18:19” Tiap erpagi-pagi pukul lima ugape enggo pasti aku medak, aminna gia aku tunduh pukul sada entahpe dua berngi. Kebiasaan medak si bage labo erkiteken sora mesjid si pas kel ilebe-lebe rumahku si ersora tiap erpagi-pagi, tapi erkiteken enggo kin terbiasa mulai anak-anak nari. Ertoto aku, emaka kubuka Pustaka Si Badia, janah kurenungken guna kupake ibas kegeluhenku segedang wari. Kutatap ayo anakku, Rifka, badeh denga kel pertunduhna. Ibas ayona teridah ia cirem, aminna gia megatin lalit waktuku erjaga-jagar ras erkanam-kanam ras ia. Kuemma perdempakenna Bukana matana, cirem ia, janah tunduh ka ia mulihi. Bagepe ndehaangku enggo leben nikapken the manis ras nasi goring man sarapenku. Sebab bagi biasana, kentisik nari lawes me aku narik koasi (angkuten kota). Ndeharangku sekalak si medate, cerdi...

PENGARUH KEBUDAYAAN DAERAH

Julianus P Limbeng ***** Kalau kita berbicara tentang kebudayaan, dari segi konsep dan defenisi, telah banyak sekali para ahli memberikan konsep dan defenisi tentang kebudayaan itu sendiri dari berbagai pendekatan dan paradigma. Pendekatan yang dilakukan untuk mendefenisikan kebudayaan itu juga mengalami perubahan-perubahan defenisi sesuai dengan perkembangan paradigma ilmu budaya itu sendiri. Mulai dari pendekatan evolusionisme, positivisme, structural-fungsionalisme, pos-struktural, intrepretivisme, hingga era posmodernisme saat ini. Salah satu defenisi tentang kebudayaan yang telah umum digunakan di Indonesia adalah bersumber dari bapak Antropologi Indonesia, Koentjaraningrat. Ia membuat defenisi kebudayaan yang dikembangkan dari Kluckhon, yang mengatakan bahwa kebudayaan adalah “Keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.” Demikian juga dengan Ralp Linton misalnya mengatakan bahwa “...

Kebudayaan dan Perannya dalam Diplomasi

Image
Julianus P Limbeng Bangsa Indonesia yang sebelum membentuk dirinya sebagai satu bangsa dari negara kesatuan RI (dalam satu kesatuan wilayah dari Sabang sampai Merauke, satu kesatuan politik, satu kesatuan ekonomi, satu kesatuan sosial budaya, dan satu kesatuan pertahanan keamanan) telah hidup berabad-abad lamanya dalam kesatuan-kesatuan/komunitas-komunitas yang lebih kecil di berbagai daerah dengan warisan budayanya yang beraneka ragam dan dengan pengalaman sejarahnya yang berbeda-beda pula. Dalam bahasa yang sederhana, kebudayaan dalam arti yang seluas-luasnya adalah keseluruhan yang kompleks yang di dalamnya terkandung sistem pengetahuan, kepercayaan, seni, hukum, moral, adat istiadat, dan lain-lain kemampuan serta kebiasaan yang diterima oleh masyarakat dalam rangka mempertahankan hidupnya di lingkungan di mana ia berada. Hal ini karena kebudayaan umat manusia mempunyai unsur-unsur yang bersifat universal (tujuh unsur kebudayaan) yang dapat ditemukan pada semua kebudayaan bangsa-ban...

Hari Aksara : Bahasa dan Aksara Karo

Julianus P Limbeng Tanggal 10 Oktober 2010 yang lalu, diperingati Hari Aksara Nasional yang ke-45, di Kalimantan Timur. Selain berkaitan dengan pengentasan buta aksara, masalah punahnya beberapa aksara dan bahasa yang pernah terdapat di Indonesia pun menjadi sebuah persoalan yang kini tengah dihadapi oleh bangsa yang lebih dari lima ratus suku bangsa ini. Persoalan itu, mungkin dapat menjadi antisipasi bagi bahasa dan aksara Karo yang hingga saat ini masih tetap eksis meskipun mengalami beberapa persoalan, khususnya masalah ke-aksaraan. Bahasa Karo relatif masih hidup dan terpelihara dengan baik karena masih dipergunakan dalam berbagai upacara adat, keagamaan, komunikasi, dan sastra-sastra Karo. Sementara dari sisi aksara, meskipun saya tidak tahu berapa persen jumlah yang pasti, saya yakin angkanya cukup kecil berapa jumlah orang Karo yang masih mengerti menulis dan membaca aksara Karo. Persoalan aksara dan bahasa memang menjadi sebuah persoalan akibat perkembangan teknologi, globalis...

Kutai Timur

Image
Meskipun dalam waktu singkat, selama tiga hari bersama dengan tokoh-tokoh adat di Kutai Timur, banyak hal yang diperoleh terkait permasalahan masyarakat adat disana. Tokoh Adat Besar Dayak di Kutai Timur banyak menyampaikan persoalan-persoalan yang menjadi perhatian kita bersama. Kunjungan ke Sultan Kutai Kartanegara juga setidaknya dapat memahami kehidupan masyarakat disana yang masih mempertahankan tradisinya.