31 August 2006

Nengget...

TERKEJUT DAN FUNGSINYA PADA MASYARAKAT KARO
Yulianus Liem Beng

Seseorang yang mempunyai penyakit hipertensi dan jantung biasanya menghindari
keadaan terkejut, baik terkejut datangnya dari suara yang keras secara tiba-tiba
maupun berita-berita yang dapat menimbulkan detak jantungnya berpacu tak menentu,
karena hal itu bisa membawa dampak yang kurang menguntungkan bagi keberadaan
jiwanya. Tetapi bagi satu kelompok masyarakat di Sumatera Utara, yaitu suku bangsa
Karo keadaan 'terkejut' malah mempunyai fungsi yang besar sekali hubungannya dengan
prokreasi (melanjutkan keturunan). Keadaan terkejut sengaja diciptakan untuk
menghasilkan sebuah proses yang dipercayai dapat membawa dampak yang baik bagi
pasangan suami istri (pasutri) yang belum memperoleh keturunan (baca: belum punya
anak), maupun bagi sebuah keluarga yang belum mempunyai anak yang berjenis kelamin
laki-laki.

Mendapatkan anak bagi masyarakat Batak pada umumnya adalah suatu hal yang amat
penting. Walaupun dengan perkembangan pemikiran yang semakin 'maju' masyarakat
Batak lebih gembira lagi apabila mempunyai anak laki-laki, karena hal ini berhubungan
dengan penerus keturunan dari klannya, dimana masyarakat Batak menganut garis
keturunan berdasarkan garis ayahnya (paternalistik). Namun akibat faktor-faktor biologis
dan non-biologis banyak juga pasangan suami istri yang belum mendapatkan keturunan
walaupun telah bertahun-tahun membina hubungan rumah tangga. Salah satu upacara
yang dipercayai dan yang dilakukan masyarakat Karo untuk memperoleh keturunan
adalah upacara yang dikenal dengan 'nengget', yaitu membuat pasangan suami istri
tersebut terkejut.

Nengget secara harafiah berarti membuat orang terkejut. Nengget disini bukan berarti
asal terkejut saja, tetapi erat kaitannya dengan konteks adat-istiadat, dimana di dalam
'adat nggeluh' (adat orang hidup) orang Karo diatur berdasarkan "merga silima, rakut si
telu dan tutur si waluh'. Wujudnya ada tiga kelompok dalam masyarakat Karo, yaitu
kalimbubu (pihak pemberi wanita), senina (saudara), dan anak beru (pihak penerima
wanita). Peranan-peranan perorangan telah diatur sedemikian rupa, dan tidak semua
orang per orangan bebas berbicara dengan orang lain. Ada aturan-aturan yang dibuat.
Sebagai contoh seorang menantu tidak bisa berbicara langsung dengan ibu mertuanya,
hal ini adalah dipantangkan adat atau tabu. Apabila secara kebetulan sedang tidak ada
orang lain sebagai perantara berbicara, maka biasanya berbicara melalui perantara
benda-benda yang ada di sekitar, misalkan meja, kursi dan sebagainya.
Berhubungan dengan nengget tersebut, maka ada beberapa jenis nengget yang ada
sesuai dengan fungsinya, yaitu :

1. Nengget, yaitu upacara tradisional yang dilakukan menurut adat karo, berupa
melakukan kejutan bagi keluarga dengan harapan agar keluarga itu memperoleh anak
(laki-laki dan perempuan). Peralatan untuk nengget ini adalah uis arinteneng, uis kapal
(ndawa), batu (simbol anak), tumba beru-beru (tempat air), lau simalem-malem,
gendang, serta makanan (sangkep). Pada malam yang ditentukan keluarga itu
disenggeti (dikejutkan) oleh simehangkenya (seperti turangkunya) dari keluarga itu
sambil berkata: "Emaka mupus..... dilaki/diberu ningku si Anu, adi lang ngayak mate kita
la rebu!!" Kemudian suami istri itu diosei secara terbalik, yaitu laki-laki berpakaian wanita

dan si wanita berpakaian laki-laki. Setelah acara ini biasanya makan atau bisa juga
dilanjutkan dengan acara menari. Di Karo Jahe seperti yang pernah saya lihat biasanya
sebelum disenggeti alat musik gung dan gendang biasanya dipukul terlebih dahulu.
Setelah makan kemudian diberikan sen penjujuri (gantang tumba) dan mereka biasanya
didudukkan kembali seperti pengantin baru (mukul).

2. Lentarken, yaitu upacara nengget yang dilakukan ketika ada yang meninggal dunia
atau pada acara nurun-nurun. Pelaksanaannya dilakukan yakni ketika sedang menari
keluarga yang tidak mempunyai keturunan itu tiba-tiba ditangkap oleh turangkunya
(rebunya) masing-masing, kemudian dilentarken (ditangkap) dan selanjutnya diosei
secara terbalik seperti pada acara negget. Setelah ditangkap kemudian diarak dan
dilakukan acara menari.

3. Jera la mupus, yaitu upacara nengget yang diadakan pada acara memasuki rumah
baru (mbengket rumah mbaru atau sumalin jabu). Nengget ini dilakukan ketika yang
empunya rumah mau memasuki rumah barunya, kemudian di depan pintu masuknya
mereka dihalangi oleh rebunya sambil berkata "Ma jera kam la mupus?" Maka oleh yang
empunya rumah dijawab "Jera!". Hal ini dilakukan sebanyak empat kali. Bilangan empat
ini juga tentunya mempunyai makna, yaitu selpat (putus hubungan) dengan hal-hal yang
tidak baik. Setelah empat kali ditanya, maka mereka diperbolehkan memasuki rumah
barunya.

4. Sengget, yaitu terkejut. Terkejut ini mempunyai beberapa proses yang mempunyai arti
bagi masyarakat Karo. Misalnya seseorang yang terkejut dapat menjadi sakit karena
ditinggalkan oleh tendi (roh). Tendinya ini bisa jadi kicat (terjepit) disebuah batu, di
sebuah tempat yang angker dan sebagainya. Untuk melepaskan tendi ini maka biasanya
juga dilakukan upacara melepas tendi ini seperti raleng tendi, ngkiap tendi, ngkicik tendi,
ngkirep tendi dan sebagainya. Sebagai upah kepada roh yang menahan tendi ini
biasanya adalah manuk kahul (ayam persembahan) yang dilepas. Sebagai tanda apabila
kahul tersebut diterima, yaitu ayam tersebut dimakan oleh elang. Terkadang bisa juga
dilakukan dengan acara ngarkari.

Sengget juga bisa merupakan sebuah proses sesuatu roh yang mau bergabung dengan
diri seseorang. Roh ini biasa juga disebut sebagai begu jabu, jinujung, silengguri.
Sebelum roh tersebut ditabalkan atau ditahbiskan dengan seseorang maka biasanya
diawali dengan sengget dan dilanjuktna dengan adanya penyakit. Upacara yang
dilakukan adalah upacara ngampeken jinujung.

Copyright © 2001 Liem Beng and www.berastagi.co.nz. All rights reserved.

30 August 2006

Drama Rohani Karo

S I - C A K A P - K E N
Karya :
Pt. Julianus P Limbeng


Sinopsis :

Drama enda nggambarken uga sada sidang si kaku ras la ngidah urgensi penyelesaian masalah erpalasken prirotas. Drama enda amin gia ikemas dalam bentuk humor, tapi kritiken-kritiken uga gerejanta ersidang guna mbahas sada-sada masalah sangat kental, janah enda merupaken pertentangen antara ideal ras aktual guna nehken kekelengen sapih-sapih manusia, terlebih sisada kiniteken ibas Tuhan. Drama enda sifatna fiksi saja, janah entah lit pernah terjadi, gelar si seri ras sidebanna, hanya bersifat kebetulen saja.Erkiteken formatna rapat, emaka drama enda sada babak saja ngenca.


Casting :

Pa Nderkem : Sekalak Pertua, sebagai Ketua Runggun ibas gereja. Jelmana tenang.

Pa Lepot : Sekalak Pertua, Sekretaris Runggun, lincah, tapi pengeranana bagi diberu.

Pdt. Bujur : PKPW Runggun, sekalak Diberu, tapi la kai pe ban Runggun jabatenna.

Pa Botoh : Seksi PWG. Nggit rusur nuriken masalah ras ngantuk-ngantuki.

Pa Bakut : Pertua. Terpilih erkiteken melala serpina. Agak sombong sitik.

Nd. Gantang : Diaken. Seksi Diakonia, sekalak janda, janah pengeranana pe medate.

Nd. Pirak : Diaken. Seksi Musik ras Budaya, bekas perkolong-kolong.

Nd. Kulu : Diaken. Sie Lembaga-lembaga (Moria KAKR, Permata)

Pa Mbetong : Pertua. Bendahara Runggun. Mbur, mbestang, ngerana telpus-telpus.

Pa Leto : Diaken, seksi pembangunen, lit usaha materialna.

Pa Golom : Pertua. Sie Permata. Ia sekalak pebisnis si sukses.

Pa Barti : Panitia Pembangunen Gereja.

Raynold : Ketua Permata Runggun

Nd. Belanja : Diaken. Belanja atena rusur.

* * * * * * * *
Scene 1
Pa Nderkem :
Iak, adi enggo me piga-piga kita si pulung, emeka sibenaken saja me rapatta enda. Pudin ndapetti.

Pa Leto :
Langa kap kita quorum Pertua ?

Pa Nderkem :
Timai kari quorumna tah la kari quorum-quorum ..
Sebab bulan si lewat pe labo kita quorum

Pa Leto :
Adi bage ula siban keputusen. Adi quorum kari e banci.

Pa Nderkem :
Adi bage, sibuka dage rapatta enda (nuktuk meja telu kali).
Jadi kerna notulen rapatta silewat gelah banci bacaken sekretaris, entah lit perbaiken-perbaiken gelah sisyahken. Persilaken Sekretaris !!

Pa Lepot :
Bujur. Jadi erkiteken notulen enggo she kerina man banta, emaka la pedah kubacaken, kecuali adi lit perbaiken siman pekenan saja.
Uga, lit si man pekenan ?

Pdt. Bujur
Kerna laporen pembangunen lakuidah lit bas notulen enda.

Pa Lepot :
Kerna pembangunen laporenna tersendiri Pandita.
Adi bage, notulen si lewat sisyahken. (nuktuk meja telu kali).

Emaka gundari bengket kita ku laporen seksi-seksi.
Seksi PWG lebe, persilaken.

Pa Botoh :
Bujur. Ijenda ilaporken kami, maka ibas sector jauh enterem gundari lanai ku gereja.

Pa Lepot :
Kai sebabna Pertua ?

Pa Botoh :
Gelarna pe sector jauh, ndauhsa ku gereja nina, adi naik angkuten empat kali nyambung-nyambung langa termasuk naik ojek ndarat komplek nari, langa denga ka kolekte, jadi adi perkiraken biaya ku gereja pp lebih kurang 40 ribu per takal.

Pa Nderkem
Jadi uga ban adi bage ?


Pa Botoh
Adi kuakap perlu situkur sada motor guna ngangkutsa, sebab adi la bage, gereja sideban setiap minggu reh ngangkut anggotata ku gereja sideban. Daripada la ku gereja, ku gereja sideban pe labo dalih nina. Sebab galang kel biayana ndahi Dibata saja pe, nina.

Pa Bakut
Interupsi ! Aku la setuju. Adi situkur kari motor, lanai bo kari ratur. Ise pe kari makesa nge.

Nd. Gantang
Aku setuju itukur adi lit nge kas ta. Sebab ma saying kel e adi latih nai akap seksi PI, kenca enggo bengket ku berita si meriah e, kalak peranisa.

Pa Bakut
Labo masalah rani Nande Gantang. Lang kin pe adi ateta tutus er-Dibata e, perlu biaya.
Gundari kai akapndu bas gereja enda la erbiaya, adi la erbiaya ise akapndu singgalari gaji panditata kerina ?

Nd. Pirak
Payo nge Pa Bakut, tapi la kap seri kerina buatenta. Si megegeh nampati si la megegeh.

Pa Botoh
Sebagai tambahen, tedeh kel ate kalak e pe nina man Pandita

Pdt. Bujur
Sentabi. Labo aku la kujah, tapi ganti-ganti rusur banna jadwal PJJ na

Pa Golom
Kuakap payo nge bagi sini kataken pandita ena.

Pa Lepot
Iakh, kuakap kerna sada enda, sicakapken ka pagi selanjutna. Perlu lebe ipikirken ras iendapken, gelah kita ula mbuat keputusen si la payo.

Pa Botoh
Adi bage kin ninta bagelah, tapi kita biasana adi mperidiken luar biasa, tapi pembinaan enda aku ngidah kurang denga kel.
(Tiba-tiba erdering handphone-na)
Hallo…, ue…, kam e Silih….? Kai ndai…. O…. Ue yah.. mis aku reh.

Pa Lepot
Kai Pertua ?

Pa Botoh
Jadi sentabi kel aku nake, aku terpaksa mulih erkiteken nabrak angkotta. Lang pe bidangku enggo me dung. Sentabi ya… (ndarat ia).

Pa Lepot
Yah, to dage yah…
Gundari she kita ku seksi seni budaya, uga laporenndu.


Nd. Pirak
Bujur. Kami arah seksi seni budaya labo lit kai pe laporken kami sendah. Tapi perlu sieteh maka tiap wari minggu rende denga nge kerina perpulungen e. bujur.

Pa Nderkem
Tapi sitik kuakap Nd. Pirak, pemain organta lit langa kuakap pas kel banna not lagu e.
Ate-atena saja. Adi ate-atena saja man kai bahanen notna ?

Nd. Pirak
Ise katandue Ketua ?

Pa Nderkem
Enggo me lit. Kuakap sieteh nge ise ningku e, ma bage ?

Nd. Pirak
O… Pa Kese katandu. Wajar nge, lakin sekolahna musik, ngurut nge nai dahinna, deh kam hampir seri nge. Mecek nge duana, sada adi empet pecek, andiih… mesui nina, sada nari salah pecek, tureteteeeet… nina. E bedana.

Pa Bakut
Kuakap kursus kam ningen. Adi oraganna pe ate-atena banci kin perende perpulungen e pe bagi perende perkolong-kolong ?

Nd. Pirak
Perkolong-kolong kai kin katandue Pa Bakut ? Aku perkolong-kolong ya..
Gelah tehndu, labo kerina kel beluh rende bagi perendeku e. Nendu ya… (rende ia)

(Emaka bengket ku rapat e Pa Mbetong, Bendahara Runggun)

Pa Lepot
E.. mari, ena kap go reh Bendaharata.

Pa Bakut
Adi bage aku ngerana ateku sitik.
Man kam bendahara kami, kuakap banci nge sambarindu snackta. Tiap rapat adi la risol bakwan, adi la bakwan risol. Payo, adi entabeh, enda lang, pecek ndarat minakna.
Danci kin akapndu sehat pertua diaken e adi e rusur banndu…

Pa Mbetong
Iiii…, langa pe aku kundul Pa Bakut.

Pa Lepot
Sentabi Pa bakut, seksi seni budaya ndai pe langa dung….

Pa Bakut
Labo dalih, banci nge kari dungina, sebab seksi seni budaya e labo penting kel, rende ngenca urusenna, lape lit seksina tiap minggu rende nge perpulungen e, ma bage ? Sipenting adi nggit pemain organta ndai kursus, pindo man aku serpina. E, Uga akapndu ?
Jadi, kam bendahara, uga kin maka melawen reh, ma idahndu nge, kerah kerina biber kami e la minem. Banci kin akapndu risol e saja bendut…?

Pa Mbetong
Kam kerah nindu, bulan si reh adi labo sipegalang kolektenta, risol pe lanai tertukur.

Pa Lepot
Ena kari saja kuakap si bahas.
Gundari she kita ku seksi Diakonia.

Nd. Gantang
Bujur. Ijenda ilaporken kami maka, erkiteken virus flu burung si mbaru denga e, maka lit anggotanta dua dilo Dibata. Emaka demam berdarah 12 kalak. Janah lit sada keluarga man berenken bantuan, erkiteken manukna mate kerina.

Pa Lepot
Ise anggotata mate ?

Nd. Gantang
Ooo kam la kepe tehndu. E mindo maaf aku bandu. Bp. Kurak ras Nd. Rukrak.

Pa Lepot
Andikoo ale…, berarti pas sanga aku ku Amerika sange matena.
Aturna si bage mis kin laporken kena man bangku. Iakh, terusken labo dalih.

Nd. Gantang
Emaka kas diakonia gundari defisit, janah utangta 2 peti mati lit denga bas Bp. Bojot.

Pa Nderkem
Tapi bas momota minggu si lewat lit kuidah persembahen pengataken bujur ibas Bapa Bojot nari. Dua kali kuidah bulan enda.

Pa Mbetong
Bage kin, melala kap kalak mate bulan enda. Emaka cukup larislah peti matina.

Pa Nderkem
Adi bage cuba sisungkun lebe bendahara, tah uga kin posisi keuangenta pe.

Pa Mbetong
Tading ka pe laporenku rumah, tapi kuhafal denga nge.
Jadi siperlu kuakap kulaporken maka posisi keuangenta gundari defisit sekitar pitu juta setengah. Sementara utangta pe lit denga pekena sound sistemta.

Pa lepot
Adi bage, uga dage siban.

Pa Mbetong
Adi ningku, bas Pa Bojot, jem lebe. Saja ngenca man anggota jemaatta adi banci min ula lebe sakit nindu. Bagepe entah lit si atena mate, timai lebe lit kas ta ningen. Lang deh kam…
Lanai ka bo kari bere bapa Bojot ah ngutang…, enam kuakap ia.


Pa Leto
Main-mainsa kuakap kita rapat enda pe.
Kita e ibas kata Dibata e. Ise kin atena sakit ras mate…?

Pa Mbetong
Maka sakit ia, kai kin ukurken kerina doni enda ?
Omong ngenca kita rusur, adi tuhu kin kita nerahken geluhta man Dibata,
ma labo kai pe kebiarenta ? Aku terus terang nge. Labo aku nggit adoon.

Pa Leto
Solusina lah si ban. Adi lit si sakit uga si ban ?

Pa Mbetong
Adi bagena rupana perlu cakapken lebe.

Pdt. Bujur
Sentabi Ketua, ngerana ateku sitik.
Kuakap kita labo perlu kel kakusa. Adi lit siman sampaten, sampatilah.
Labo kuakap perlu man timan rapat, adi enggo bas biber kesahna.

Pa Mbetong
Payo nge katandue Pandita, tapi senna e kap man ukurenken.
Lang pe adi kerina mis sampati, kuakap kas ta pedas nge keri.
Gundari saja kita enggo defisit…

Pdt. Bujur
Adi masalah dana kuakap masalah carana nge si ban uga ndatkenca.

Pa Mbetong
Payo, tapi perlu nge lit kriteriana ise si man sampaten.
Ula kari man sampaten ngenca ia, persembahen tahunenna, persepuluhen, ras pengataken bujurna pe labo pernah berekenna. Arus lit timbal balikna bas Dibata gia.

Nd. Kulu
Sentabi pimpinen rapat ! Aku lebe la sependapat ras Bendaharata.
Adi bage naringe kai bedana kita ras kalak si lanandai Dibata ?
La kin man kalak sibutuh nge situduhken kekelengenta ?

Pa Mbetong
Gelah enggo itehndu ya Nande Kulu, biaya untuk Pandita saja pe bulan enda galang. Biaya telponna galang, PAM-na galang. Emaka usulku man banta, periode si reh enda ula nai siterima pandita jenda adi anakna enterem.

Pa Nderkem
Kuakap kerna si ena sicakapken kari termbagesen,
gelah ratur kuakap ku topik sideban saja kita lebe, ena sicakapken ka pagi.

(Bengket ku ruang rapat Nd. Belanjareh terlambat, erkiteken kunjungen rumah sakit nari)


Nd. Belanja
Sentabi nake, aku terlambat erkiteken rumah sakit ndari ndai. Lit anggota si sakit, janah arus operasi sendah. Kuakap perlu ia sisampati masalah perbelitenna.

Pa Mbetong
E…, dehkam.. terlambat kin kita rusur. Edenga kel cakapken kami ena.

Nd. Kulu
Kam pe ndai terlambat nge Pa Mbetong…

Nd. Belanja
Enggo dage cakapken kena, adi bage enggo teng-teng sebab butuh kel ia.

Pa Mbetong
Eee. Dehkam… cakapken denga nge, keputusen langa lit, sebab la kita quorum

Pa Lepot
Adi bage bengket kita ku permata, laporenndu..

Raynold
Permata aman-aman saja Pa.., kuakap kami la pedah cakapkenndu. Cakapkenndu pe kari labo lit kesimpulenna erbahan megara pinggel ka nge ngenca. Em laporen kami, bujur.

Pa Golom
Jadi payo nge bagi sini kataken anakta e. Aku sebage seksi mendukung.

Pa Lepot
Bujur. Ma bage maka laporen anak singuda. La memberatken. Aturna bana.
Adi bage ku Seksi Pembangunen.

Pa Golom
Langa kap reh panitiana. Tapi biasana ia pasti reh. Macet nge…

Pa Bakut
Sitik kel Ketua kerna pembangunen. Aku dehkam, ula min sia-sia sen sikubereken e ateku, sebab kuidah la terencana mehuli pembangunenta. Semen arah jenda, kah-kahi arah jah.
Ma lalap nge la dung… Kami pe labo si bayak ndai kel.

(Pa Barti, Seksi Pembangunen bengket ku ruang rapat)

Nd. Gantang
Ena kap engo reh turangku ndai ena…

Pa Barti
Selamat malam, sentabi nake terlambat.

Pa Lepot
Labo dalih. Pas kel gundari gilirenndu. Emaka langsung saja laporenndu.


Pa Barti
Bujur. Jadi perlu kuakap ku laporken biaya pengeluarenta she paksa enda.

Pa Leto
Interupsi Ketua…! Sitik kel man kam panitia, adi kupergermetken laporenndu man kami seksi, kuakap biaya sini banndu la realistis, lit ije indikasina mark-up.

Pa Barti
E…, kam ula min bage Diaken. La lit sitik pe je aku cari untung ya…

Pa Leto
Lang nindu, aku permaterial banci kin la kueteh

Pa Barti
Uala kari erkiteken la bas kam buat materialna maka kam sentimen ya…

Pa Leto
Labo sentimen, tapi enggo ubanen bukku e, janah enggo puluhen tahun aku bidang bahan bangunen, danandu e mark-up e. Lang gia nindu…

Pa Barti
Jadi … uga atendu…yak..?

Pa Leto
Uga kin….?

Pa Barti
La gereja enda job-ku, melala job-ku darat. Kam ngena lalit borongenndu…

Pa Leto
La aku kurang page tutun Pa Barti… Sen jelma sienterem kap e…

Pa Barti
Uga dage ya… (tedis mutar tinju-tinjuna)

Pa Leto
Uga atem uga kin yah … (tedis ka janah njemak botol Fanta)

Pdt. Bujur
(tedis, janah ersurak..) Pa Barti…. Pa Leto…turangku… ula bage… ula bage..

Pa Bakut
Lang kin pe perlu nge sekali-sekali….

Pa Leto
Adi bage mundur aku jadi seksi pembangunen (tadingkenna ruangen)

Pa Golom
Pangen bage silih, to lah ndaratken…

Nd. Pirak
Bagenda saja kuakap Ketua. Gelah ula ruk-rak kel rapatta enda, rende saja kita lebe, sipuji Dibatanta rende kita ibas kitab ende-endenta No. 205 ayat sipemena (iendeken)

Raynold
Jam-ta Pertua…, enggo jam sepuluh berngi.

Nd. Belanja
Uga kin maka anak perana denga pe mis atena tunduh..

Raynold
Labo tunduh Mami, tempa laitehndu pe, Malam Minggu kap e…

Pa Leto
Yakh.., adi bage erkiteken jamta pe enggo menda mbages, janah enggo pe melala sicakapken ibas rapatta enda, tentuna sura-suranta kerina lako pehuliken, emaka erkiteken kita pe she dung labo enda quorum, emaka perlu denga akap kami pagi sicakapken ibas sidang runggunta si reh. Gelah ibas kita mbuat keputusen banci lebih mehuli.

Nd. Belanja
Kerna si sakit ndai Pertua ?

Pa Leto
Lit ndai situhuna enggo cakapken ope kam reh, gia la menjadi keputusen, perlu pe iakap kami isingetken mulihi gelah asa bancina ibas bulan-bulan enda ula lebe lit simate-mateta, janah adi banci jaga kesehtatenta, gelah ula kita sisakit-sakit, sebab kas ta defisit.

Pa Nderkem
Dage, senina ras turang. Endam dage rapat runggunta berngi si sendah. Kai siakap perlu denga sicakapken ibas sidangta si reh. Melala memang pertua diakenta si la reh, emaka seksina pe langa sicakapken. Melala si arus icakapken kita, tapi erkiteken kelangasupenta, erkiteken sura-suranta, bagepe kuasa iblis sierdahin si banci naluken hubungenta ras Dibata, emaka kerina banci jadi la mehuli. Emaka, nin kami sebagai BP runggun, enda jadi catataen ras pelajaren man banta, gelah rapat sireh banci reh ulina. Dage ibas gelar BP Runggun itutup kami me sidangta enda. Bujur. Dibata simasu-masu kita kerina. Sekali nari bujur. Malam.

(Kerina alu sisalamen, ras la erkata-kata, tempa rukur ndauh… sada-sada nadingken ingan rapat, sitading ije risol ras bakwan ampar-ampar bas piring babo meja…., melungun).

Karawaci, 26-27 Oktober 2005.



BUBUR SUMSUM

BUBUR SUM-SUM
Pt. Julianus P Limbeng


Mberat kel takalku medak erpagi-pagi ndai. Amin gia tiap pagi aku medak pukul setengah lima, tapi sendah pukul pitu pe mekisat denga kel aku medak. Emaka janahku medem saja aku ertoto ngataken bujur man Tuhan erkiteken enggo temanina aku segedang berngi. Memang enggo seminggu enda mesunah kel aku merawa. Kai saja pe kupersoalken. Ku gereja pe aku, gelah enggo ku gereja saja, gelah idah kalak aku ku gereja saja. Salah sitik pe anakku minter ku sergang. Ngerana pe kalak dua-dua janahna tawa, aku kuakap cakapkenna. Bagepe adi salip kalak kenca aku bas dalan, minter kel melas pinggelku. Sensitif berat….

Dua wari si lewat, sanga aku mulih kantor nari reh ka kel emosiku. Erkiteken lit demo wari buruh ilebe-lebe gedung DPR, dalan tol harus itutup. Emaka ialihken me ku dalan si deban si seh kel macetna. Adi biasana paling lambat dua jam enggo seh rumah, enda empat jam pe langa seh. Enggo ka tedis erkiteken lalit ingan kundul, huana pe tuhu-tuhu melas. Padahal tulisen bas kacana bus e full AC, tapi kerina penumpangna ngkipas-kipas. Emaka enggo campur ije bau kesah e, bagi bau kesah nipe, janah panas pe bagi bau bengkik. Lebih empat jam nusur me aku bas bus e nari. Ku resakme Supra-X ku, erkiteken melala kel tugas-tugas siman ketiken irumah.

Nangdangi sada tikungen, isalip kalak me aku arah pudi nari, emaka pas kel arah lebe-lebeku e banna ikur sepeda motorna ndai. Rempet kel naik ka emosiku, emaka kutancap ka gas sepeda motorku. Emaka arah pudi nari ka pe reh sepeda motor sideban, sigegehen tenaga sepeda motorna asa sepeda motorku. Erkiteken reh mobil arah depan, iputarkenna ka minter ku lebe-lebeku, janah berekenna ka ikurna man bangku. Emaka minter rempet ku rem. Tapi alu la terkendali minter kel aku erbalik. Laptop sikusangketken bas baraku terantuk ku aspal. Bagepe bitesku terantuk entah ku ja, meratah bekasna, mesui kel. Ku nehen seluarku si sebulan denga kutukur bas Uda Aswan Chani penjahit langganenku, enggo keri kel merigat pas bas takal tiwen.

Reh me sekalak anak perana si nalip aku ndai negu aku. “Ada sakit Pak…, Bapak enggak kenapa-kenapa kan ?”, nina. “Enggak, paling lecet-lecet…”, ningku ngaloisa. Kenca teguna aku, minter ka kupehuli pertedisku. Tapi lit kuakap bagi simedanggel bas tiwenku. Kubuka seluarku seh ku paha, kuidah tiwenku enggo mentar ras megara mbelang. Bagepe stang sepeda motorku enggo mbewat. Oh…, labo kai-kai pe e ateku. Emaka kuresak ka sepeda motor ndai mulihi aminna gia enggo nggeduk perdalanna. Adi lit si nalip aku, kukejar denga seh ku salip ka ia maka malem ateku. Edenga pe ndabuh, kuempet denga ka rurus mutur gasna e. Gara-gara sepuluh detik aku salip kalak, tulpak aku empat wari la erdahin. Motor pe ceda, laptop pe cepik, tiwen pe luka.

Enggo telu minggu aku operasi kista duktus thyroglosus bas kerahungku. Kenca seminggu enggo banci ku kantor, sendah enggo ka suin. Emaka sanga rukur aku sisada, nina bas pusuhku, la aku merhat pe jumpa ras pandita. Sebab sanga aku sakit marenda pe labo aku tungkirkenna. Malah erkiteken lit undang kalak ia khotbah mengket rumah mbaru, pangen ia ku mengket rumah e, sebab ijah pasti entabeh man, ras alokenka amplop ibas tuan rumah nari. Adi ngenehen kalak sakit, uang keluar. Emaka la pedah jumpa pe ras pandita e. Jumpa pe erbahansa reh nembehna ka nge ateku ngenehen ia. Bagem lalap sora ibas pusuhku nari, emaka tensiku pe naik lalap.

Lang kin pe ibas gereja enda, kalak simusil kurang kel iperdiateken. Ningen nge nehken kekelengen, tapi nehken kekelengen epe lit nge kriteria-kriteriana ban pandita ah, amin gia la ibelaskenna. Sebab ia pe manusia nge, labo ndauh-ndauhisa kel ras jelma sienterem e, nina ukurku. Minter ka kuinget-inget mulihi piga kali kunjungen diakonia ku kutaku selama kurang lebih lima tahun si lewat. Lit pe rusur masuk momo sakit daerahku, labo reh-reh pandita. Tapi daerah sideban lit ka si lebih sekali ikunjungi. Lit denga tempa rusur rayo-ayo ibas gereja e. E labo terbeneken. Nai-nai nari pe enggo bage. Si Jakup sendiri pe ibas kitab Kejadin, teridah kel beda banna man anak-anakka. Lebih istimewa ibahanna man Si Jusup, amin gia senina-senina, bagi Si Ruben, Juda, ras sidebanna erbenting kibul mpermakani asuh-asuhen orang tuana tengah mbal-mbal si ndauh. Turah pe sipat mecimberu ras kejadin si la mehuli, amin gia akhir cerita banci ikataken happy ending, eme Jusup jadi kalak si penting taneh Mesir.

Kuinget ka asum kami jumpa ras pertua kenca aku mulih rumah sakit nari, “Eh, ula ukurndu kitik ya…, la denga sempat kami reh ndahi kam e, si penting lebe ma enggo kam sehat….?”, nina sekalak sierdahin. “Enggo pertua, bujur yah….si penting enggo sehat”, ningku ka. “Ku rumah ate kami, tapi langa ka jumpa ras bendahara diakonianta, emaka sabar kam ya…Bendahara ningku e, ma enggo angkandu ?”, nina ka pertua ndai. Tawa tempa aku ngerana ras pertua ndai, tapi bas pusuhku lit nge sitik rongketna. Tempa-tempa ‘ula lebe kam sakit ya, sebab langa lit waktu kami ndahi kalak sakit’ nina. Aku kin gia merhaten kin aku sakit. Adi banci ula ngasa ndigan pe reh diakonia ndahi aku ku rumah sakit, adi mate labo kap banci itulak. Tapi adi pinakit ningen e, sijagai kel pe kesehatenta adi reh atena, reh nge ia.

“La kel pandita reh ndahi aku ku rumah sakit, pandita gereja sideban nari ka nge si notoken aku rumah sakit ndai”, ningku man ndeharangku. “Pandita siapai kin si reh notoken kam sanga rumah sakit e ?” nina. “Erpagi-pagi lampas, GKJ nari enggo babana pustaka, totokenna, janah berekenna ka kata penghiburen, ‘cepat sembuh, Tuhan memberkati Bapak’, nina pandita ah ndai, malem kel ateku, amin gia arah gerejata nari lalit sireh erbahan toto”, ningku. “Kam pe lange pernah dahindu kalak sakit, adi pernah dahindu kalak sakit, ugape kam dahi kalak nge…” nina ka ndeharangku. “Erpagi-pagi silampas ah pe kutaruhken kalak ku rumah sakit…, adi lit kalak sakit kunehen nge”, ningku ka mbela diri. “Piga kali dage kam ikut ngapuli kalak sikepaten tahun enda?”, nina ka. “Ia sanga lit waktuku e, kusempatken nge rusur, kecuali kin adi la sempat, Tuhan ah pe maklum nge adi labo siban-ban la sempat”, ningku.

“E…, dehkam … kam pe belandu nge bandu…, bagem kerina manusia. Ningen nge laerpilihen pengenen, tapi pandita ah pe, labo pandita saja, pertua diaken ah pe nehenna ka nge ise si man dahin…”, nina ndeharangku. “Anakta saja pe lit bedana perbahanenta, kam engkai maka Si Ratni rusuren tukurndu bajuna..”, nina ka tole, erbahanca aku mulai rukur. “Ula kin kalak ngenca atendu ndahi kam, kam sekali pe la pernah.. e la adil gelarna”, nina.

Rukur ka aku. Payo kin ndia bage ateku. Memang lit ka nge si laitandai kalak siman apulen. Lino kel gereja. La enterem si reh. Tapi adi kalak si terpandang, terlebih ka pe mbue sumbangenna ku gereja, amin gia la siangka uga rejekina e rehna, enterem kel kalak si reh adi ia kenca sukut. Baik ibas kerja-kerja, bagepe ibas kemalangen. Em doni. Perpulungen jabu-jabu e pe lit denga nge perbagedina. Kuinget ka setahun si lewat sekalak pandita khotbah, nina: “adi enterem atendu reh rumahndu, reh kam perpulungen ku jabu kalak.” Tapi bage kin Kristen ?

Berngi ope tunduh, sebelum aku ngoge pustaka sibadia, kubuka-buka sada buku Marcel Maus, eme judulna “The Gift, Form and Functions of Exchange in Archaic Societies”. Kira-kira bahasa Karona “Pemere, bentuk ras guna pertukaren e ibas kalak si adi”. Ibas buku e nuduhken maka jelma enda lit pemerena maka lit hubungenna ras nilai-nilai tertentu misalna nilai secara materi ras secara emosional. Adi lalit kaitenna ras materi bagepe emosionalta ras jelma sideban, ula morahi lagan, la siat kudin. Jadi dua factor enda ndai nina mbelin kel kaitenna uga hubungenta ibas ‘er-endi-enta” nina kin kalak Karo. Kai siibereken kalak man banta, adi langa kin sigalari alu mere amin gia bentuk sideban man simere man banta ndai, secara moralitas e mberat ras pekitik dirinta adi bas kalak si adi. Emaka secara moralitas situhuna, adi labo pernah sidahi kalak, la ka bo situhuna sipermasalahken adi la idahi kalak kita sakit. Bagepe sada ‘keuntungen’ ka nge man banta, adi la idahi kalak kita amin gia mberat secara psikis man banta, tapi la ka seharusna kita ndahi kalak. Lalit beban moral, kira-kira bagem isina. Bagepe adi sibaca ka artikel Emerson “On Gift and Present” maka nina jadi masalah i Jerman, maka nina jadi melukai mereka yang menerimanya, dan keseluruhan usaha moral kita ditujukan pada menekan malapetaka yang secara tidak disadari berasal dari pola pra orang kaya yang dermawan. Bagi kalak sierbahan mehuli man banta, bagekalah bahan mehuli man bana. Adi bage lakin ise pe ngasup nge ? Bage kin Kristen ateku ka.

Emaka kenca kubaca buku Marcel Maus ndai, si mbue ipake ibas kalangen ilmiah, kubaca ka Alkitab. Sebab buku ndai lebih manusiawi kuakap, emaka perlu ka nehen rohanina ateku. Kupala-palai ndaramisa bas pustaka. Kubuka kita Johanes 13:34-35, nina: “Kubereken man bandu pedah si mbaru, eme: sikeleng-kelengenlah kam. Bagi aku enggo engkelengi kam, kam pe min arus sikeleng-kelengen. Adi sikeleng-kelengen kam, kerina kalak meteh maka kam ajar-ajarKu”. Bagepe lit denga piga-piga ayat sikubaca, eme Epesus 3:18-19, Matius 5:7, Johanes 7:16, si kerinana ngerana kerna kekelengen. Tapi labo denga teraloken aku kel kerinana, mekeng denga rusur ukurku, erkiteken wajar ras payo kuakap aku.

Karaben wari, erdalan-dalan aku ras duana anakku. Ibas sada trotoar, lit sekalak nande-nande perbinaga bubur sum-sum. Ngidah bubur sum-sum e mulihi ngingetken aku mulihi uga marenda pergeluhku. Bubur sum-sum e dua puluh tahun si lewat binaga nande tiap wari Rabu, tupung wari tiga. Lit bubur sum-sum, lit pecal, lit kue kelepon, bugis, dadar, cenil, tahu rebus ras sidebanna. Amin la gia kupan bubur sum-sum e, tapi erkiteken e binaga nande marenda ikuta, rempet kel banna medate ukurku. Rikut tedeh ateku nande, kuinget pe pedahna, janah kuinget uga ia erpagi-pagi erbahan bubur sum-sum e jadi binagana nekolahken aku anakna. Tanggerkenna beras jadi dak-dak, bagepe gula merah tasakkenna jadi lau ka mulihken. Bagepe tualah nggit sontar ikukur, ras ipereh jadi santan. Beras, santan ras gula merah bahan utama bubur sum-sum. Teluna benda e nggit ijadiken medate, tualah isontarken, janah gula jadi lau pe. Teluna icampur jadi bubur sum-sum. Entabeh nanamna, man kalak si lanai ripen pe terpansa, danak-danak pe entabeh akapna. Tapi adi mekeng bagi ban traktor, babi pe kisat engkaratsa, amin gia tongkeh sanggar pe sontar banna.

Rukur aku, kepeken ukurku pe mekeng lalap, aminna gia enggo kuangkai, janah enggo pe ku oge pustaka. Kepeken kita nehken kekelengen e harus lit pengorbanen, bagi tualah,gula merah ras beras si jadi bubur sum-sum ndai. Bubur sum-sum me si ngingetken aku mulihi, ras sipedate ukurku mulihi. Selamat engkelengi.

Bj. Menteng, 8 Mei 2006.

Membina Paduan Suara Gereja

PADUAN SUARA GEREJA (Bagian I)
Pt. Julianus P Limbeng
(Seksi Musik dan Paduan Suara GBKP Klasis Jakarta-Bandung)



Bena Kata

Adi sinen piga-piga paduan suara si lit ibas gereja GBKP, rata-rata lalit sitahan ndekah. Bagepe arah segi jumlah reh dekahna reh sitikna anggotana. Adi menaken lit anggotana 100 kalak, dungna tading 10 kalak, seh pe bubar. Bagepe paduan suara enda teridah tupung wari-wari penting gerejawi saja, misalna wari natal, paskah, pentahbisen gereja, bagepe entah lit festival paduan suara. Lit kecenderungen sifatna temporer. Engkai maka bage ? Enda tentuna lit piga-piga hal si jadi maslahna.

Masalah e la hanya ibas anggota paduan suara e nari, tapi lit kaitenna ras pemimpin paduan suara e sendiri. Erkiteken paduan suara e menyangkut hubungen manusia ras manusia ibas kelompok rende muji Tuhan. Lit ije faktor-faktor sideban sierbahanca megati paduan suara e la ndekah nggeluh entah pe temporer saja sifatna. Faktor-faktor e emekap, (--amin gia enda sebagai asumsi entahpe hipotesa saja sifatna--) pengangkan kerna uga pentingna rende ibas gereja, kurangna tenaga ahli ibas bidang musik, komitmen gereja entah pe perpulungen si kurang ibas mengembangken paduan suara, pemahamen rende sebagai pujin man Tuhan, faktor budaya Karo pe erperan galang, bagepe ‘kebijaken’ ibas gereja nari kerna musik ras sidebanna.

Mulai ibas edisi enda, ate kami maka lit terus ibahan kami tulisen kerna paduan suara, bagepe musik secara umum. Kira-kira kai perlu sieteh, bagepe man pekenan ibas kita mengembangken paduan suara ibas gerejanta. Emaka tulisen enda sifatna bersambung, janah sijadi pembahasen pe lebih terfokus (idiosinkretis) ras lebih mendalam ibas bidang-bidang sini ibahas.

Dirigen

Paduan suara biasana ipimpin sekalak dirigen entahpe rusur ka ikataken conductor, entahpe choirmaster. Biasana ibas gerejanta sekaligus ka nge ia sebagai pelatih. Adi inehen arah hakikatna, maka sekalak dirigen paduaan suara (koor) arus lit standar kualitas musik ras non musikalna gelah paduan suara e banci mehuli. Kualitas musik sifatna, eme kerna penguasaanna kerna teori-teori musik [Barat] bagepe praktekna. Praktek sini imaksudken ijenda lebih dominan kubas teknik vokal ras penguasaan instrumen musik, misalna piano entahpe organ. Amin gia labo mutlak kel, tapi simejilena min bage, entahpe solfegiona mejile.

Isamping kualitas musik si mejile, kualitas non-musik pe situhuna penting kel ikuasai sekalak pemimpin paduan suara. Jadi dua faktor enda arus saling mendukung gelah paduan suara e banci erdalan.

Kualitas Non Musikal

(1) Lit bakat pemimpinna gelahna anggota paduan suara e tek dingen nggit mbegiken rananna. Emaka sekalak pemimpin paduan suara arus beluh bergaul, la kaku, gelah kalak nggit ibas teruh perintahna;
(2) Motivasi ras komitmen, eme salah sada kata kunci ibas mbentuk ras mengembangken paduan suara. David Hill [adi bahasa Karona, Daud Bukit] ngatakenca “kemampuan sekalak dirigen ibas memotivasi paduan suarana tergantung kubas motivasi pribadina jadi sekalak dirigen. Adi motivasina kin pe untuk gelarna sendiri, e biasana kurang jilena.
(3) Taktik “tact”, eme pang ngataken salah kalak, tapi alu cara si payo gelah sierbahan salah e la megelut. Memang enda agak mberat bas kalak Karo. Adi sikataken salahna ilebe jelma sienterem e banci nembeh atena ngenehen kita, janah wari pepagi lanai ia reh latihen pe. Jadi arus kita bujaksana ibas nehken salah na e.
(4) Mengembangken cara latihen si efektif, efisien, menyenangken bagepe la mesunah merawa. Emaka situhuna sense of hunor sekalak dirigen arus lit, tapi arus beluh nempatkenca ija gelah ula lit kesan latihen e main-main. Tole pe nina David Hill, perlu nge sekali-sekali memang pemimpin paduan suara e naikken intonasi sorana, tapi ula alu emosi si berlebihen.
(5) Sekalak dirigen arrs min beluh mbina hubungen mehuli ras kerina anggota paduan suara siibinana. Banci pe luangken waktu ngerana-ngerena ras sekalak-sekalak ibas waktu tertentu. Perlu sungkuni pendapatna kerna paduan suara e sendiri, misalna uga perasaanna, alu bage maka setiap individu merasa lit gunana ia ikut ibas paduan suara e. Contoh si kitik umpamana pujikenlah ia ibas rende mejile, entahpe ucapken ulang tahun man bana, adi kin ia paksana berulang tahun. Lit teori ngatakenca, nina si menjadi daya tarik paduan suara e eme kepribadian dirigen si simpatik.
(6) Perlu kel menjaga wibawa entah pe dolat daging. Sekalak dirigen sierdolat eme adi ia rusaha la ndarami keuntungen guna ngangkatken dirina pribadi, tapi nggit rutang pusuh guna pehuliken paduan suara e secara utuh.
(7) Arus lit optimisme janah la erlatih-latih bagi kai nina Jean Ashworth Bartle : “Segala sesuatunya berasal dari hati, pikiran dan jiwa seorang guru. Harus ada ras keranjingan dan hasrat untuk seni yang mengarah ke rasa fanatik. Haruslah juga terdapat optimisme yang tidak kenal lelah. Harus memiliki karisma yang dengan tulus sungguh menginspirasi orang lain”. Beluh gia kita teori musik, praktek musik, cukup berbakat, bagepe penguasaan teknik rende, adi motivasinta la mejile, maka ugape paduan suara e rontang.

Kualitas Musikal

Adi ngelatih paduan suara, arusna min lebe kita enggo ngkuasai lagu sini iajarken, ula ilebe-lebe anggota e ka kita erlajar. Emaka alu bage tanda-tanda si lit ibas partitur e arus jelas lebe, gelah ula erpengakap-pengakap.
(1) Tandai bagian-bagian sini iakap susah ngendekenca, janah pastiken kita sebagai pelatih enggo beluh ngendekenca alu ‘pas’. Adi lagu e enggo kuasai, maka ibas ngelatih pe la rusur ke lalap ngenehen ku partiturna.
(2) Pelajari lebe kerina lagu e, janah ija kin arus tarik napas, frasering, bagepe artikulasina rikutken bahasa sini ipake lagu e.
(3) Tandai betul-betul dinamikna, amin gia ibas partitur e enggo itulisken, gelah tuhu-tuhu lagu e banci iendeken sue ras sura-sura sierbahanca.
(4) Intepretasiken lagu e sue ras gaya masing-masing, contohna: tempo (pedas entah lambat), dinamik (megang entah la megang), penekanen kata-kata, ras sidebanna.
(5) Arus meteh kualitas paduan suara e sendiri, gelah hasil sini iarapken banci tersehi, janah penampilen si kuga iarapken arah paduan suara e nari.
(6) Memilih tempo si pas. Enda perlu, gelah ibas rende teridah maka la ipaksaken.
(7) Kemampuan mbedaken not seper waluh, seper empat, ras seterusna.
(8) Pembegi arus mejile [mehuli]. Banci minter sibedaken sora salah ras benar. Enggo payo endekenna sue ras notna entah lang.
(9) Kemampuan sight singing, artina banci ngendeken lagu e mulai ibas si mesunahna nari seh si ku paling susah.
(10) Memahami ras mengerti proses harmoni, kadensa (nada siperpudi ibas garis melodi) bagepe alur melodi secara teoritis.
(11) Kemampuan menilai, enggo me payo lagu e iendeken entah langa. Emaka simejilena min sekalak pelatih paduan suara bagepe sekaligus pemimpinna ngkuasa salah sada lah gia min alak musik melodis (ula ritmis).

Enda me lebe si banci ipeseh guna hal-hal siperlu lit ibas sekalak pemimpin paduan suara. Ibas edisi berikutna isambung kami ka topik siterkait denga eme “Kemampuan Praktek Vokal”. Bujur. Karawaci, 28 Juni 2006.


Foto Limbeng




XEANE XIERO ?

XeaneXiero ?
XeaneXiero adalah merupakan nama gabungan dari dua nama panggilan anakku, yaitu Liezsecha Xeane Fhoo br Limbeng (Pr), lahir di Bekasi, 18 januari 2001, dan Yehezkiel Lau Xieronimus Limbeng (Lk), lahir di Bekasi, 23 Maret 2004 dari istri tercintaku Eva Ritha br Bukit. Mereka berdua sekarang lagi manis-manis dan lasak-lasaknya naik sepeda....
Liezsecha Xeane Fhoo dibaca menurut saya Liesesa Seane Fu, yang merupakan singkatan Julianus Limbeng Eva sekula serasi seh er anak erkempu....., demikian juga dengan Yehezkiel Lau Xieronimus adalah harapan dia menjadi nabi seperti Yehezkiel, dan menjadi Lau (air), dimana dibutuhkan semua tanaman, binatang dan manusia sebagai sumber kehidupan, dan Xieronimus adalah pahlawanku.....
Julianus P Limbeng

ERPANGIR KU LAU

ERPANGIR KU LAU
Mandi Ritual Pada Masyarakat Karo

oleh :
Julianus P Limbeng
Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Direktorat Jenderal Nilai Budaya Seni dan Film
Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI

This is an ancient cultural practice that has become a sacred activity for the Karo people. Erpangir Ku Lau is a bathing ceremony in the rivet and there is also a ritual of giving offerings so that the Almighty God will bless them. It is still carried out in some places for wedding ceremonies, naming ceremonies, and ceremonies for preventing evil diseases.
*****

Seorang ibu separuh baya memegang mangkuk berwarna putih. Dengan ikat kepala kain yang berwarna putih dia menggerak-gerakkan badannya seiring dengan irama musik gendang telu sedalanen[1] atau gendang kulcapi yang terbuat dari bahan bambu dan kayu. Sesekali dia menyibakkan rambutnya yang terurai panjang yang mulai lusuh, sesekali dia juga menyibakkan kain putih sebagai ikat kepalanya yang terurai mengikuti gerek-gerak langkahnya, bagai menari. Pandangannya jauh, seakan-akan tak mempedulikan orang-orang yang ada disekitarnya. Tatapan matanya tajam. Kelihatannya dia sangat menikmati sekali alunan musik yang dimainkan oleh sierjabaten.[2] Dia berusaha mengkonsentrasikan diri dengan mimik muka yang sangat serius sekali. Sesekali dia melompat-lompat kecil dan melakukan gerakan tangan meliuk-liuk dan pandangannya ke langit. Demikian juga dengan para pemusik memperhatikan gerakan-gerakan wanita tersebut.
Musik itu diawali dengan tempo perlahan-lahan sekali. Kemudian mereka memainkan lagu mari-mari, yang artinya “kemari”. Lagu ini biasa dimainkan untuk memanggl roh-roh yang ada di sekitar tempat tersebut. Lagu ini juga dimainkan untuk memanggil roh moyang mereka agar hadir berbicara melalui medium guru yang akan kesurupan (intrance). Semakin lama semakin cepat. Yaitu lagu odak-odak beralih ke patam-patam dan selanjutnya musik dengan tempo yang sangat cepat sekali, yaitu gendang guru atau disebut juga dengan silengguri. Wanita tua itu pun bertambah semangat. Petikan kulcapi (alat musik berdawai dua) pun semakin lama semakin cepat, sehingga melodi yang dimainkan ada kecenderungan monoton dan konstan, namun temponya semakin cepat. Demikian juga dengan pemain keteng-keteng (alat musik perkusi dari bambu) dimainkan dengan penuh semangat dan diikuti oleh pukulan mangkuk mbentar sebagai pembawa tempo.
Gambar 1
Erpangir (hairwashing or bathing ceremmony)

Mata semua yang hadir di tempat itu tertuju pada wanita separuh baya tersebut, yaitu wanita sebagai mediator manusia dengan begu, yaitu roh. Wanita tersebut dikenal dengan sebutan guru, yaitu orang seseorang yang mempunyai keahlian khusus. Peserta yang hadir dalam upacara tersebut juga memahami kapan waktunya ketika roh yang diundang masuk ke dalam tubuh sang guru sebagai mediator. Ketika sang guru berjingkrak-jingkrak dengan semangat, gerekan-gerekan tarinyapun berubah yang menggambarkan roh yang masuk ke dalam tubuhnya, maka oleh peserta upacara dipahami bahwa sang guru sudah seluk (kesurupan). Jika yang masuk ke dalam tubuhnya harimau, maka sang guru akan berlaku seperti harimau. Jika roh yang masuk ular, maka sang guru akan melata. Demikian juga biasanya jika yang masuk ke dalam tubuhnya keramat dari Gunung Sibayak, yang biasa disebut dengan Beru Kertah Ernala, [yang artinya kira-kira perempuan dari belerang yang menyala-nyala] maka sang guru pun akan berlaku seperti keramat yang sangat disegani tersebut.
Kemudian melalui guru tersebutlah peserta upacara dapat berkomunikasi dengan keramat-keramat tersebut dengan memohon, meminta kesembuhan, pembersihan diri dengan melakukan keramas dengan air yang ditaruh dalam mangkuk putih. Maka sang guru akan membasuh rambut peserta yang mau ipangiri (berkeramas). Erpangir ini sendiri mempunyai arrti bermacam-macam, tergantung maksud dan tujuan pelaksana erpangir melakukan upacar tersebut. Upacara ini biasa disebut dengan upacara erpangir ku lau, yang dapat diartikan upacara berkeramas ritual.

Fenomena Lau Debuk-Debuk

Lau Debuk-Debuk (hot spring) merupakan salah satu tempat yang paling banyak dikunjungi oleh orang Karo untuk melakukan ritual erpangir ku lau. Lau Debuk-Debuk ini sendiri terdapat di Desa Daulu, Tanah Karo. Untuk mencapai tempat ini dapat menumpang kendaraan umum jurusan Medan – Kabanjahe, namun bus hingga sampai ke tempat upacara hanya sampai di persimpangan (pos polisi Desa Doulu). Dari situ berjalan kaki sejauh lebih kurang 1 km. Namun bagi yang memiliki kendaraan pribadi dapat terus sampai ke lokasi, hanya perlu jalan kaki lebih kurang 300 m.
Gambar 2
Desa Daulu (Darat)[3]

Secara harafiah Lau Debuk-Debuk berasal dari dua kata, yaitu Lau yang berarti air, dan Debuk merupakan kata gelembung air panas. Sedangkan Debuk-Debuk merupakan kata ulang yang artinya letusan gelembung air panas yang berulang-ulang. Dapat difahami bahwa tempat ini memang terdapat air panas dengan bau belerang (sulfur) sangat kuat sekali, yang merupakan aliran dari kawah Gunung Sibayak (2.094 meter di atas permukaan laut). Oleh sebab itu tempat tersebut dinamakan sebagai Lau Debuk-Debuk..
Secara administratif pemerintahan, Taman Wisata Lau Debuk-Debuk terletak di Desa Doulu Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Tanah Karo. Kawasan ini sebelumnya berstatus sebagai Cagar Alam, berdasarkan Keputusan Raja Deli tanggal 30 Desember 1924. Kemudian oleh Menteri Pertanian berdasarkan Surat Keputusannya No. 320/Kpts/Um/5/1980 tanggal 9 Mei 1980 statusnya dialihkan menjadi Taman Wisata dengan luas 7 Ha.[4]


Gambar 3
Lau Debuk-Debuk

Pada kawasan ini terjadi perambahan oleh masyarakat sekitar untuk dijadikan lahan pertanian sayur mayur seperti kol, wortel, sawi dan lain-lain, serta tanaman buah-buahan. Jenis satwa tidak banyak terdapat, kebanyakan adalah terdiri dari jenis mamalia kecil seperti tikus sawah, bajing, musang, monyet, uylar sawah, kodok merupakan jenis reptelia dan berbagai jenis burung antara lain kutilang, jalak, murai dan sebagainya.
Daya tarik utama kawasan ini yaitu adanya kolam yang sekaligus tempat permandian alam dengan sumber air panas yang mengandung belerang. Dekat dengan kolam tersebut terdapat juga sumur serta kotak-kotak kecil sebagai pemujaan/sesajen. Lokasi Lau Debuk-Debuk merupakan salah satu tempat suci dan keramat terbesar bagi penganut aliran kepercayaan orang Karo. Penganutnya disebut "Kalak Pemena" (Perbegu = animisme). Pada hari-hari tertentu, menurut hari-hari Karo, para penganut aliran kepercayaan "Pemena" ini melakukan acara "erpangir" (mandi bersihkan diri dengan air bunga) di Lau Debuk-Debuk.
Air bunga disebut lau pangiren yang terdiri dari jeruk purut, rimo malem (jeruk biasa) dan bunga rampai. Sebelum erpangir mereka terlebih dahulu menyerahkan sesajen berupa makanan. Kegiatan erpangir ini bagi para penganutnya dianggap sebagai acara sakral. Acara erpangir serta tempat keramat di Lau Debuk-Debuk ini bisa dijadikan sebagai komoditi wisata religi.


Gambar 4.
Kawah Gunung Sibayak

Lau Debuk-Debuk ini sendiri terdapat di lereng Gunung Sibayak. Dan di Gunung tersebutlah diyakini tempat beru kertah ernala sebagai roh atau keramat berdiam. Roh ini disembah dengan memberikan sesajen. Roh tersebut dianggap mampu mengobati penyakit, tempat meminta, dan membuang segala macam yang tidak baik pada manusia. Oleh sebab itu para penganutnya melakukan upacara erpangir ku lau pada air yang mengalir dari kawah gunung tersebut. Gunung Sibayak (2094 mdpl) secara administratif terletak di Desa Raja Berneh atau lebih dikenal dengan sebutan Desa Semangat Gunung, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Tanah Karo (60 KM dari Kota Medan).
Sebenarnya Lau Debuk-Debuk ini merupakan pemandian air panas yang mata airnya bersumber dari perut bumi dan mengandung unsur belerang. Selain terasa hangat, air panas tersebut juga dapat mengobati penyakit gatal-gatal bagi pengunjung yang datang. Sehingga tidak salah kalau berendam dengan air hangat belerang bisa dijadikan sebagai pengganti mandi sauna. Air panas (hot spring) Lau Debuk-debuk memiliki kekhasan tersendiri dengan yang lainnya. Walau terlihat sederhana, lokasi yang memiliki 5 kolam besar yang dibatasi dengan tembok semen banyak dikunjungi orang. Bukan hanya dari Medan, Langkat atau Deliserdang, pengunjung yang datang berasal dari luar daerah bahkan dari Jawa dan Kalimantan.
Di sekitar pemandian air panas Lau Debuk-debuk, jangan merasa heran jika Anda menemukan banyak tempat untuk meletakkan sajian atau pemujaan. Tidak jauh dari sumber air panas utama akan ditemukan sumur yang dijadikan sebagai tempat pemujaan dan meletakkan sajian. Selain itu pengunjung yang datang juga sering melepaskan ayam putih sebagai bentuk kepercayaan dan niat karena satu permintaan atau permintaan yang telah dikabulkan. Sedangkan air berada di sumur tersebut sering dibawa pulang dengan jerigen sebagai oleh-oleh sekaligus dipercayai untuk obat. Sedangkan pada waktu-waktu tertentu akan dilaksanakan kegiatan ritual seperti Erpangir Ku Lau (bathing ceremony atau ada juga yang menyebut dengan hairwashing ceremony[5] atau mandi ritual). Kegiatan ritual dilaksanakan biasanya bertujuan membersihkan diri dari roh-roh jahat dan niat-niat yang tidak baik.
Selain Lau Debuk-Debuk, sebenarnya tempat untuk melakukan upacara erpangir ku lau dilakukan oleh masyarakat Karo di banyak tempat, tetapi biasanya di sungai, yaitu airnya mengalir. Namun tempat upacara erpangir ku lau yang paling banyak dilakukan oleh masyarakat Karo adalah di Lau Debuk-Debuk. Biasanya guru, yaitu orang yang mempunyai keahlian untuk melakukan upacara ritual tersebut mengetahui tempat-tempat mana saja yang dapat dilakukan upacara tersebut, dan tergantung jenis upacara erpangir yang bagaimana yang hendak dilakukan. Sebagai contoh, jika upacara erpangir yang akan dilakukan untuk menyembuhkan satu penyakit yang diyakini sebagai perbuatan orang lain terhadap seseorang, maka biasanya tempat upacara erpangir yang dilakukan adalah di sebuah sungai yang disebut lau persirang-sirangen, yaitu sungai yang pada suatu tempat membentuk dua buah anak sungai. Kedua aliran sungai tersebut sebagai perlambang memisahkan penyakit dari manusianya.
Jika sungai yang sperti itu sukar ditemukan, maka biasanya di pengaturan air di sebuah irigasi mudah sekali kita menemukan pemisahan air seperti itu. Oleh sebab itu biasanya di tempat-tempat seperti itu juga sangat memungkinkan sekali untuk melakukan upacara erpangir ku lau tersebut. Namun unsur dasar erpangir itu sendiri harus ada, yaitu lau (sungai), pangir (air keramas ritual), guru (pembimbing atau pemimpin ritual), gendang (musik), si man pangiren (orang yang diupacarakan). Dan masalah tempat, meskipun Lau Debuk-Debuk dapat dianggap sebagai sebuah fenomena terkait dengan upacara erpangir ku lau, karena di tempat ini sering sekali ditemukan upacara tersebut, namun di tempat-tempat yang lain juga upacara ini kerap sekali dilaksanakan. Lau Debuk-Debuk sebagai salah satu tempat wisata, karena di daerah ini terdapat air panah (hot spring), maka kegiatan ini lebih terekspos ke masyarakat luas. Namun sebenarnya, di tempat-tempat lain juga amat banyak dilakukan upacar serupa.
Agama dan Kepercayaan
Pada saat sekarang ini masyarakat Karo telah menganut berbagai macam agama, seperti Kristen Protestan, Katholik, Islam, Hindu, dan sebagainya. Menurut data sensus penduduk tahun 1990, penduduk Kabupaten Karo yang berjumlah 257.981 jiwa, terdiri dari 126.848 memeluk agama Kristen Protestan, 42.830 jiwa memeluk agama Islam, 5853 memeluk agama Hindu, 5729 memeluk agama Budha, dan 5.030 memeluk agama lain.[6]
Sebenarnya agama Islam pada sensus penduduk tahun 1983 hanya sekitar 19,03% saja, demikian juga dengan agama Kristen, meskipun agama tersebut telah dibawa oleh missionaries Belanda H. C. Kruyt dari Netherland Zendeling Genoschalf (NZG) dan pembantunya Nicolas Pontoh dari Tomohon, suilawesi Utara pada tahun 1890, namun sampai tahun 1965 orang Karo yang memeluk agama Kristen masihlah sangat sedikit. Data pada tahun 1950 jumlah orang Karo yang memeuk agama Kristen lebih kurang 5.000 jiwa saja. Namun setelah tahun 1965, angkanya relative cepat naik menjadi lebih kurang 25.000 jiwa.
Gambar 5.
Batang Beringin, pohon kayu besar diyakini sebagai tempat roh tinggal

Seiring dengan pertumbuhan penduduk maka keberagaman agama di Tanah Karo meningkat cukup pesat, namun demikian juga dengan kepercayaan pemena juga masih banyak ditemukan di desa-desa. Meskipun pada prinsipnya mereka telah menganut agam besar, namun kepercayaan-kepercayaan lama, yang disebut sebagai pemena masih dijalankan oleh penganutnya. Dan hal ini difahami sebagai adat. Menanggapi hal ini P. Tambun berpendapat, karena orang Karo sangat memegang teguh adat istiadatnya, dan banyak ajaran-ajaran agama yang bertentangan dengan adat.[7] Oleh sebab itu ada semacam situasi yang ambigu dalam masyarakat antara memeluk agama dan mempertahankan adat [kebudayaan].
Masuknya agama Kristen, Islam dan sebagainya ke Tanah Karo membawa dampak bagi orang Karo. Namun di satu sisi masih banak juga pemeluk-pemeluk agama tersebut melakukan kepercayaan lama. Orang Karo tidak dapat dengan cepat melepaskan diri dari kepercayaan lamanya. Oleh sebab itu kegiatan-kegiatan ritual masih sering kita jumpai di perkampungan-perkampungan orang Karo. Hal ini tidak hanya di Kabupaten Karo saja, tetapi juga bagi orang Karo yang tinggal di Kabupaten lainnya, seperti di Deli Serdang, Langkat, Simalungun dan Dairi. Tahun-tahun 1980-an di perkapungan Karo, meskipun sudah berdiri gereja atau mesjid, namun dalam masyarakat masih sering kita lihat upacara-upacara ritual, misalnya erpangir ku lau, muncang atau ngeluncang, persilihi, dan sebagainya.

Kepercayaan dan Kosmologi
Kepercayaan lama orang Karo disebut dengan perbegu yang terdiri dari kata dasar begu yang berarti roh orang yang sudah meninggal. Namun kata begu tersebut sering juga diartikan sebagai hantu (kerajaan maut). Dalam Kamus Karo Indonesia (Ginting, 1995) begu diartikan sebagai bayangan orang mati, rohnya atau setannya, keadaan sesudah mati, akhirat, gelap. Kata awalan ‘per’ dalam kata begu tersebut menyatakan orang [seseorang] yang terkait dengan kata begu itu sendiri. Jadi perbegu dapat diartikan sebagai orang yang masih terkait dengan begu, atau yang mempercayai, menyembah begu. Inilah yang dianggap sebagai kepercayaan lama orang Karo dengan menyebut kebenaran, yaitu penguasa langit dan bumi dengan sebutan Dibata.
Kepercayaan perbegu pada masyarakat Karo sebenarnya tidak monoteisme, meskipun dikenal istilah Dibata. Jika dilihat dalam fungsi dan perannya, maka sebenarnya orang Karo menganut kepercayaan yang bersifat politeisme, yaitu Thei yang lebih dari satu. Sebenarnya sebelum kedatangan agama Kristen dan Islam masuk dalam kehidupan masyarakat Karo, peradapan masyarakat Karo telah mencapai tingkatan transendental yaitu percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang menciptakan segala yang ada di bumi dan di alam jagat raya ini. Bukti adanya kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa ini adalah dilakukannya pemujaan di tempat-tempat tertentu seperti di bawah pohon kayu yang besar, pada batu-batu yang besar. Tingkat kebudayaan yang transdental ini ditandai dengan adanya tiga perwujudan Tuhan (Dibata), yaitu
Dibata Kaci-Kaci (Dibata Datas = Tuhan yang berkuasa di langit). Tuhan yang menguasai alam yang di atas;
Dibata Padukah Ni Aji (Dibata Tengah = Tuhan yang berkuasa di bumi). Tuhan yang menguasai alam bagian tengah yaitu Bumi;
Dibata Banua Koling (Dibata Teruh = Tuhan yang berkuasa di bawah bumi). Tuhan yang menguasai bawah tanah.
Tiga perwujudan Dibata (Tuhan) tersebut yang biasa disebut dengan tri-tunggal, merupakan pembagian kosmos secara vertikal, yaitu garis tegak lurus. Bagi orang Karo [khususnya para guru] penguasa-penguasa tersebut disebut juga dengan Dibata sinurihi buk mecur yang artinya Tuhan yang mampu menghitung rambut, atau sering juga disebut dengan Dibata si mada tinuang, yang artinya Tuhan maha pencipta, yang biasa dipakai untuk menyebutkan pencipta manusia selagi berada di rahim ibu.
Manusia yang mengembangkan kebudayaannya selalu berorientasi kepada alam lingkungan dimana mereka berada. Oleh sebab itu muncul berbagai hal tentang konsep-konsep dan orientasi manusia itu memaknai sesuatu terkait dengan alam dan lingkungannya. Orang Karo meyakini bahwa alam dan lingkungan ini selain sebagai tempat hunian manusia, juga sebagai tempat hunian bagi makhluk-makhluk lain yang hidup bebas tanpa terikat aturan-aturan yang dikembangkan manusia. Oleh sebab itu dibutuhkan aktivitas-aktivitas tertentu untuk menjaga keseimbangan alam, khususnya keseimbangan antara makhluk manusia dengan makhluk-makhluk lain tersebut.
Segala kegiatan yang berhubungan dengan roh-roh gaib dan upacara ritual, suatu kompleks penyembuhan, guna-guna dan ilmu gaib, merupakan sebagian aspek penting dalam kepercayaan tradisional Karo, yang pelaksanaannya terpusat pada Guru[8] yang akan dijelaskan kemudian. Suatu peranan yang mencakup luas dan mempunyain kaitan yang erat sekali dengan konsepsi tentang kosmos dari guru sebagai pelaksana utama, sebab mengingat bahwa titik sentral dan tujuan utama segala aktivitas peranan guru adalah untuk mencapai kembali ‘equilibrium’ atau keseimbangan.[9] Baik itu keseimbangan di antara manusia itu sendir, maupun keseimbangan dengan lingkungannya, yaitu makro kosmos dalam arti yang lebih luas. Oleh sebab itu khusus dalam upacara-upacara ritual peran guru sangat dominant, karena guru dianggap memiliki pengetahuan yang cukup luas dan mendetail tentang berbagai hubungan dengan kehidupan dan kejadian.
Secara horizontal alam juga dikenal dengan sebutan desa si waluh, yaitu tempat-tempat berdasarkan pembagian ke dalam delapan pengelompokan dasar, yaitu arah mata angina. Desa si waluh tersebut adalah purba (timur), aguni (tenggara), daksina (selatan), nariti (barat daya), pustima (barat), mangabia (barat laut), butara (utara), dan irisen (timur laut). Delapan penjuru angina ini dapat lagi dibedakan atas dua pengolongan besar, yaitu dua sifat yang berbeda. Penggolongan ini adalah desa nggeluh dan desa mate. Desa nggeluh berarti arah hidup, yaitu untuk arah mata angin tmur, selatan, barat dan utara, sedangkan desa mate adalah selain arah mata angina yang dikategorikan desa nggeluh. Pengolongan kepada arah hidup dan arah mati ini didasarkan karena desa-desa timur, selatan, barat dan utara dikuasai oleh roh-roh penolong yang memberikan kebahagiaan kepada manusia. Sementara desa mate diyakini sebagai tempat makhluk-makhluk gaib yang dapat mencelakan manusia.
Pada masyarkat Karo ada beberapa peranan yang cukup penting dalam masyarakat, misalnya (1) pande, yaitu tukang yang bisa mengerjakan pekerjaan pertukangan, misalnya membuat rumah adat, perkakas atau peralatan pertanian, pisau dan sebagainya; (2) sierjabaten, yaitu pemusik tradisional dimana kehadirannya sangat dibutuhkan dalam upacara-upacara adat yang dilakiukan oleh masyarakat; (3) guru, yaitu tabib atau dapat juga disebut sebagai orang yang mempunyai keahlian di bidang pengobatan[10]. Guru ini juga mempunyai spesialisasi dengan bidang-bidang keahlian. Ketiga peranan ini bagi masyarakat Karo disebut sebagai ginemgem atau yang disayangi atau dilindungi. Hal ini menyangkut kahlian mereka yang sangat dibutuhkan dalam masyarakat.
Berkaitan dengan guru, pada masyarakat Karo umumnya dianggap sebagai tabib ataupun sering juga diartikan sebagai dukun. Guru ini berperan besar dalam upacara-upacara ritual dan upacara-upacara tradisional[11] yang diadakan oleh masyarakat. Tidak hanya dalam upacara, tetapi juga menentukan hari baik dan hari buruk. Oleh sebab itu ada juga guru yang khusus mengetahui hari-hari yang disebut dengan guru si meteh wari telu puluh. Artinya guru yang mengetahui apa yang baik dan boleh dilakukan dalam kurun waktu 30 hari Karo (lihat Lampiran tentang Hari-Hari Karo).
Pada masyarakat Karo ada beberapa macam kategori guru, yaitu :
(1) guru mbelin, yaitu guru (dukun) yang mampu mengobati berbagai macam penyakit dalam tubuh manusia, baik penyakit yang datangnya dari ulah manusia ataupun penyakit yang datangnya akibat guna-guna. Seorang guru mbelin biasanya sakti dan sangat disegani oleh masyarakat. Dan pada masyarakat Karo guru inilah yang dianggap paling banyak tahu tentang pengobatan penyakit dan kosmologi. Guru ini memiliki berbagai macam keahlian sekaligus dari beberapa jenis guru yang ada pada masyarakat;
(2) guru penawar, yaitu guru yang dapat mengobati berbagai penyakit dengan membuat obat-obatan dari bahan ramuan tumbuh-tumbuhan, akar-akaran, biji-bijian, minyak dan sebagainya;
(3) guru pengarkari, yaitu guru yang dapat membuat benteng atau perlindungan dari roh-roh atay makhluk-makhluk halus yang ingin mengganggu manusia atau dari teluh yang dibuat oleh orang lain. Benteng atau perlindungan tersebut terdiri dari berbagai macam bentuk, dan bahan. Misalnya jimat dari batu, kain, tumbuhan dan sebagainya;
(4) guru ngulakken, yaitu guru yang mempunyai keahlian untuk mengobati penyakit yang datangnya dari teluh. Guru ini tidak hanya bisa mengobati penyakit tersebut, tetapi apabila diminta oleh orang yang sedang diobati agar penyakit tersebut ulakken (kembalikan), maka dia juga mampu mengembalikan penyakit tersebut kepada yang mengirimnya, sehingga penyakit tersebut akhirnya menghantam pemiliknya sendiri;
(5) guru persilihi, yaitu guru yang mampu mengobati orang yang sakit dikarenakan birawan, yaitu orang yang sakit karena terkejut, dan diyakini oleh masyarakat karena disapa oleh makhluk halus. Oleh sebab itu agar tidak diganggu oleh makhluk halus tersebut makan diberikan benda-benda sebagai pengganti manusia yang sakit tersebut kepada roh yang menyapanya tersebut. Persilihi artinya memberikan ganti. Dalam upacara persilihi sebagai ganti selain beberapa jenis makanan seperti buah pisang emas, serta beberapa jenis makanan yang disebut dengan cimpa yang diletakkan di sebuah persimpangan yang diyakini sering dilalui oleh makhluk halus tersebut, juga biasanya pohon pisang beserta bonggolnya diukir seperti tubuh manusia, yang disebut dengan gana-gana. Pohon pisang tersebut dengan makanan tersebut diletakkan di persimpangan jalan. Dan benda-benda tersebutlah yang diberikan sebagai pengganti manusia yang diganggu oleh roh atau mahkluk halus tersebut. Namun dalam upacara yang lebih kecil biasanya diberikan cukup manuk sabur bintang (ayam) saja sebagai kahul. Ini biasa digunakan dalam upacara ndilo tendi, yaitu memanggil roh seseorang yang ditahan oleh mahkluk halus di tempat-tempat teertentu. Upacaranya dipimpin oleh guru persilihi ini;
(6) guru siniktik wari, atau disebut juga guru si meteh wari telu puluh, adalah guru yang mempunyai keahlian tentang hari-hari yang baik dan tidak baik. Hari-hari baik dan tidak baik ini menyangkut kepada apa yang baik dilakukan pada hari-hari tertentu dan apa yang tidak baik dilakukan pada hari-hari tertentu. Biasanya untuk melakukan upacara maka terlebih dahulu ditanyakan kepada guru ini kapan sebuah upacara baik diadakan;
(7) guru perdewal-dewal, yaitu guru yang biasa dipakai untuk upacara perumah begu, yaitu upacara untuk memanggil roh orang yang sudah meninggal dunia. Dalam kepercayaan orang Karo, roh orang yang sudah meninggal dapat dipanggil kembali melalui medium sang guru tersebut. Manusia masih dapat melakukan komunikasi dan saling tukar informasi tentang kehidupan orang yang meninggal tersebut. Upacara ini juga biasa dipakai untuk mendamaikan sebuah keluarga yang dilanda konflik. Karena pihak keluarga tidak dapat lagi mendamaikan konflik yang ada maka biasanya dilakukan upacara perumah begu. Maka dipanggil roh orang tua mereka yang yang sudah meninggal dan memberikan nasehat kembali kepada anak-anaknya agar hidup tentram, damai dan jangan bertengkar;
(8) guru si ngoge gerek-gereken, yaitu guru yang mampu meramalkan sipat seseorang, membaca firasat atau apa yang akan terjadi dengan melihat telur ayam atau manuk sangkep, yaitu ayam yang sudah dimasak dicampur dengan kelapa parut. Hal ini biasanya dilakukan pada upacara mukul dalam perkawinan, yaitu ketika pengantin makan daging ayam bersama dan disaksikan oleh sanak famili;
(9) guru si dua lapis pengenen matana, yaitu guru yang mampu melihat mahkluk-makhluk halus;
(10) guru ngeluncang, yaitu guru yang mempunyai keahlian untuk mengusir roh-roh jahat yang sudah sangat mengganggu di sebuah kampung. Hal ini ditandai dengan terlalu sering ada orang yang meninggal di sebuah kampung, penyakit meraja lela, penduduk ketakutan, dan dianggap di kampung tersebut ada roh-roh jahat yang mengganggu. Biasanya dalam upacara ini sang guru akan berlari-lari kesana kemari berperang melawan roh-roh jahat tersebut. Sekali-sekali dia memanjat pohon kelapa dengan cepatnya, demikian juga dia turun dari pohon dengan cepat, sampai pada akhirnya kampung tersebut dinyatakan bebas dari gangguan roh-roh jahat;
(11) guru perjinujung, yaitu guru yang mempunyai roh yang menyertai dirinya, biasanya roh kerabatnya yang sudah meninggal dunia, atau roh di sebuah tempat tertentu yang ingin bersamanya. Secara harafiah jinunjung adalah yang dijunjung, yaitu roh yang menyertai dirinya dan menjadi bagian dari diri seseorang melalui proses penabalan (penntahbisan) oleh guru juga. Orang yang dapat mempunyai jinujung biasanya dikarenakan (a) turun-temurun dari nenek moyangnya, (b) berdasarkan ngguru atau belajar dari pustaka najati atau lak-lak kayu, yaitu tulisan kuno yang terdapat dalam kulit kayu, (c) berdasarkan mimpi, (d) sengget (terkejut), dan (e) begu jabu, yaitu ada roh anggota keluarga yang ingin masuk kepada salah satu saudaranya yang masih hidup. Roh ini biasanya roh orang yang mate sada wari atau mati kontan (satu hari), misalnya karena kecelakaan, bunuh diri dan sebagainya;
(12) guru nendong (tendung), yaitu seseorang yang mempunyai keahlian mengetahui sesuatu, misalnya mengetahui dimana seseorang yang hilang berada dan sebagainya;
(13) guru penggel, yaitu guru yang dapat mengobati orang yang patah tulang;
(14) guru peraji-aji, yaitu guru yang dapat membuat orang lain menjadi sakit;
(15) guru si baso, yaitu guru yang dapat melakukan komunikasi dengan roh-roh atau makhluk halus;
(16) guru purkasih atau percoles-coles, yaitu guru yang dapat menaklukkan seseorang dengan cara-cara tertentu. Misalnya orang akan menjadi sangat kasihan sekali meskipun sebelumnya sangat marah, atau menjadi sangat suka kepada seseorang meskipun tidak ada perasaan cinta sama sekali sebelumnya;
(17) guru kebal, yaitu guru yang mempunyai keahlian tahan daging, misalnya membuat seseorang tidak mempan dibacok dengan benda-benda tajam.


Gambar 6.
Gunung Sibayak, diyakini sebagai tempat keramat

Konsepsi Setelah Kematian
Untuk memahami konsepsi orang Karo tentang kematian maka ada sebuah perkataan yang biasa disebutkan dalam orang mati, yaitu: buk jadi ijuk, dareh jadi lau, kesah jadi angin, daging jadi taneh, tulan jadi batu, tendi jadi begu, yang artinya rambut menjadi ijuk, darah jadi air, napas jadi angin, daging jadi tanah, tulang jadi batu, dan roh menjadi hantu (begu)[12]. Konsepsi ini menyiratkan bahwa tubuh manusia itu setelah mati akan berubah wujud menjadi materi-materi yang ada dalam lingkungan keseharian yang semuanya tergolong benda mati, kecuali tendi jadi begu, yaitu roh jadi hantu. Sebenarnya konsep begu dengan hantu jika ditilik dari beberapa jenis begu yang ada, maka sebenarnya terdapat perbedaan-perbedaan, bentuk, sifat, dan sebagainya. Namun kenyataannya roh orang yang meninggal juga disebut dengan begu.
Dari sifat, proses ukuran dan bentuknya, maka pada masyarakat Karo dikenal berbagai macam begu, yaitu:
(1) begu ganjang
Begu Ganjang begu yang paling tinggi, makhluk berbulu dan berwarna hitam. Begu ini dipercaya sebagai begu suruh-suruhen (yang dapat disuruh) dan pemiliknya adalah manusia. Begu ini dapat disuruh mencelakan orang, membunuh orang dengan mencekik lehernya. Begu ini biasanya apabila ditelantarkan oleh yang empunya, maka dia akan menyakiti atau mebunuh yang empunya itu sendiri;
(2) begu jabu
Begu jabu adalah adalah roh orang yang meninggal dunia yang menjadi pelindung bagi seseorang atau sebuah keluarga. Yang menjadi begu jabu biasanya adalah orang yang meninggal mendadak atau meninggal kontan, misalnya karena kecelakaan, dibunuh dan sebagainya. Begu ini dipercaya sebagai begu yang baik dan melindungi. Roh orang yang meninggal dunia ini biasanya dating dan ingin bersama dengan anggota kerabatnya yang masih hidup. Proses penyatuan roh ini dengan kerabatnya yang masih hidup dilakukan dengan upacara juga yang disebut dengan ngampeken jinujung atau begu jabu yang dipimpin oleh seorang guru.
(3) mandilam
Mandilam, adalah juga begu ganjang, tetapi mandilam diyakini sebagai begu ganjang yang berkelamin perempuan.
(4) begu butara guru
Begu Butara Guru juga merupakan begu yang baik. Begu ini berasal dari roh seseorang yang meninggal ketika usianya masih sangat muda, langa ripen (belum tumbuh giginya). Begu ini juga menjadi pelindung bagi sebuah keluarga.
(5) begu menggep
Sesuai dengan namanya, begu ini adalah begu yang suka bersembunyi dan menakut-nakuti orang yang lewat di suatu tempat. Begu ini suka dating di tempat-tempat dimana manusia sering beraktivitas dan menganggu;
(6) begu naga lumayang
Adalah begu yang tinggal di tempat-tempat tertentu, misalnya di sungai, tempat pemandian umum dan sebagainya;
(7) begu sidang bela
Begu sidang bela adalah roh seseorang yang meninggal dunia karena melahirkan. Begu ini biasa ditakuti karena biasanya sering datang ke kampong. Bagi orang Karo roh orang yang mati satu hari biasa menganggap dirinya belum meninggal;
(8) begu gendek
Begu gendek adalah begu yang bentuk tubuhnya pendek.
(9) Puntianak
Puntianak adalah juga begu perempuan, dimana diyakini mempunyai lobang seukuran paku di lehernya. Jika seorang lelaki bertemu dengan begu ini dan memasukkan paku ke dalam lobang yang terdapat di lehernya, maka begu tersebut dapat menjadi manusia dan dapat dijadikan sebagai istri yang cantik.
(10) begu mentas
Begu mentas adalah begu yang suka lewat pada siang hari. Orang Karo biasanya melarang anak-anaknya mandi pada siang hari ke pemandian umum, biasanya di sungai atau di pancuran. Hal ini dkarenakan jam-jam linge seperti itu diyakini begu berada di tempat tersebut.
(11) Umang
Umang adalah diyakini sebagai mahkluk halus yang suka membawa seseorang atau menyembunyikan seseorang. Bentuknya persis sama dengan manusia, tetapi telapak kakinya terbalik. Biasanya manusia yang disembunyikan oleh umang jika dilepas akan diberi ilmu atau dapat menjadi kaya raya.
(12) dan lain-lain.

Roh orang yang sudah meninggal atau begu ini diyakini sebagai begu yang baik dan begu yang jahat. ADa yang dapat menyakiti manusia dan ada juga yang dapat sebagai pelindung bagi manusia yang memeliharanya. Begu ini juga masih dapat berkomunikasi dengan manusia melalui perantaraan guru atau kadang-kadang lewat orang-orang tertentu yang kesurupan. Demikian dalam upacara erpangir ku lau, kegiatan ini erat kaitannya dengan roh-roh tersebut, yaitu dengan berbagai macam latar belakang, sehingga manusia ingin melakukan upacara ritual dengan tujuan-tujuan tertentu yang terkait dengan berbagai macam konsep kosmologi dan kepercayaan.

Erpangir Ku Lau
1. Latar Belakang Upacara
Erpangir ku lau dilakukan dikarenakan oleh beberapa hal, misalnya :
(1) Buang sial, yaitu untuk membuang hal-hal yang dianggap membawa dampak tidak baik dalam diri seseorang. Untuk membuang hakl-hal yang dianggap sebagai ‘sial’ tersebut maka harus dibersihkan dengan upacara;
(2) Meminta kesembuhan penyakit, seseorang yang dihinggapi satu penyakit diyakini sebagai penyakit yang dibuat oleh manusia lain lewat perantaraan makhluk-makhluk halus, atau bias jadi karena makhlus halus itu sendiri (begu). Untuk penyembuhan salah satu cara pengobatan adalah dengan melakukan ritual erpangir ku lau;
(3) Menabalkan seseorang menjadi guru. Proses menjadi seorang guru juga harus melalui proses erpangir. Oleh sebab itu seseorang menjadi guru harus ditabalkan atau ditahbiskan dengan cara ipangiri oleh seorang guru juga.
(4) Permintaan begu singarak-ngarak seseorang. Seseorang yang mempunyai begu jabu biasa akan diurasi atau dibersihkan dari hal-hal yang tidak baik, caranya adalah dengan erpangir.
(5) Pembersihkan diri dari yang kotor
(6) Perkawinan, dalam upacara perkawinan sebelum perkawinan dilangsungkan biasa juga didahului dengan upacara erpangir ku lau. Hal ini untuk meminta persentabin atau ijin kepada semua makhluk-makhluk agar perkawinan tersebut dapat berlangsung dengan baik, sekaligus membersihkan diri dari hal-hal yang kotor.
(7) Menabalkan nama atau memberikan nama kepada seseorang
(8) Rutin silengguri, adalah berkeramas ke sungai dikarenakan mempunyai jinujung (begu jabu) sebagai salah satu modal kekuatan bagi diri seseorang.
(9) dll.
Biasanya pihak keluarga yang inin melakukan erpangir ku lau adalah karena ada pirasat (gerek) dari seseorang bahwa ada yang tidak beres dalam tubuhnya.

Gambar 7.
Guru Si Baso seluk, kesurupan (posession)[13]

2. Jenis Upacara
Upacara erpangir ku lau dapat dibedakan tiga jenis berdasarkan besar kecilnya upacara tersebut dilakukan. Besar kecilnya jenis upacara ini terkait dengan jumlah peserta upacara atau kerabat yang terlibat dalam upacara tersebut dan jenis hewan yang disembelih. Disamping itu juga berpengaruh kepada tempat pelaksanaan upacara. Meskipun sebenarnya kategori ini tidak sepenuhnya dipakai khusus untuk upacara erpangir ku lau, tetapi biasa kegiatan erpangir ku lau merupakan suatu runtutan dari upacara utama, misalnya kegiatan erpangir ku lau diadakan karena akan dilaksanakan upacara perkawinan, dan sebagainya. Jadi sebenarnya pengelompokan jenis yang dimaksud adalah pengelompokan berdasarkan upacara perkawinan tersebut. Namun khusus untuk upacara erpangir ku lau bisa saja dilakukan dalam bentuk besar sampai bentuk yang paling kecil, yaitu ritual erpangir yang dilakukan oleh pribadi-pribadi. Adapun jenis upacara tersebut adalah:

(1) Kerja Sintua
Kerja (Pesta) sintua merupakan pesta yang paling besar yang ada pada masyarakat Karo. Pada pesta ini harus melibatkan seluruh sangkep nggeluh, yaitu orang-orang yang masih mempunyai hubungan kekerabatan dengan yang empunya hajatan serta seluruh anak kampung dimana pesta tersebut dilaksanakan. Pada upacara ini biasanya hewan yang disembelih adalah sapi (lembu).

Gambar 8.
Anak Beru sedang mempersiapkan makanan
untuk seluruh kerabat yang ikut dalam sebuah kegiatan adat

Dalam kerja sintua ini seluruh kerabat yang dikenal dengan sangkep nggeluh, yang terdiri dari tiga unsur yaitu kalimbubu (pihak pemberi wanita), senina (saudara-saudara yang melakukan hajatan), dan anak beru (pihak penerima wanita). Masing-masing pihak dalam tiga status sosial tersebut mempunyai peranan masing-masing serta bagaimana mereka berlaku dalam upacara tersebut. Misalnya anak beru biasanya mempersiapkan segala sesuatunya seperti memasak makanan untuk seluruh peserta upacara tersebut, dan mengatur segala sesuatunya untuk keberhasilan upacara pihak kalimbubunya. Demikian juga dengan pihak senina dan kalimbubu mempunyai fungsi dan peranan masing-masing.
Meskipun pelaksanaan upacara adat yang terkait dengan erpangir ku lau dilangsungkan di Jambur, namun upacara erpangirnya sendiri tetap diadakan di sungai. Dalam kegiatan ini biasanya tidak hanya menggunakan alat musik yang relatif kecil, yaitu gendang telu sedalanen saja, tetapi juga menggunakan gendang yang lebih besar yang disebut dengan gendang lima sedalanen. Dalam upacara ini juga diadakan landek (menari) sesuai dengan peranannya masing-masing dalam upacara tersebut.
Gambar 9
Sukut atau yang mempunyai hajatan sedang menari

(2) Kerja Sintengah
Kerja sintengah adalah sebutan untuk pesta atau upacara yang sifatnya menengah. Upacara ini merupakan satu tingkat dibawah upacara yang termasuk dalam kategori kerja sintua. Pada upacara jenis ini meskipun juga melibatkan unsur-unsur sangkep nggeluh kerabat, namun tidak selengkap anggota kerabat yang terlibat dalam upacara kerja sintua. Dalam kerja sintua hampir melibatkan seluruh kerabat yang jauh dan dekat, serta penduduk kampung. Namun dalam kerja sintengah unsur-unsur kerabat yang diundang pada umumnya kerabat yang harus memang terlibat dalam kegiatan adat dalam sebuah keluarga tertentu. Oleh sebab itu upacara ini dinamakan kerja sintengah atau pesta/upacara tingkat menengah dalam ukuran adat Karo.
Hewan yang disembelih dalam upacara ini biasanya masih hewan yang berkaki empat, yaitu babi.

Gambar 10.
Upacara Erpangir Ku Lau yang lebih kecil biasanya melibatkan kerabat dekat saja

(3) Kerja Singuda
Kerja singuda adalah jenis upacara yang lebih kecil lagi dari kerja sintengah. Upoacara ini biasanya cukup dihadiri oleh sangkep nggeluh dari unsur-unsur anggota keluarga yang paling dekat saja, dimana peranan masing-masing individu tersebut dangat penting dalam proses adat yang berlaku bagi masyarakat Karo. Unsur-unsur telu sedalanen seperti kalimbubu, anak beru dan senina, tidak semuanya terlibat. Tetapi menjadi sebuah keharusan dalam setiap upacara adat yang ada ke tiga unsur tersebut memang mutlak harus ada.
Selain ketiga jenis upacara tersebut sebenarnya masih ada dikenal beberapa jenis upacara yang lain yang relatif lebih kecil. Namun istilah tersebut kurang popular dan kurang dikenal dalam upacara erpangir ku lau. Jenis-jenis uipacara tersebut dikenal dalam upacara perkawinan, misalnya jenis upacara jumpa gebuk, yang artinya upacara yang sangat sederhana sekali. Jumpa gebuk berarti ketemu asap, yang melambangkan ketemu sirih dan rokok, karena upacara orang Karo identik dengan belo (sirih) dan rokok. Sirih dan rokok merupakan sarana bagi orang Karo untuk memulai pembicaraan atau disebut dengan ranan adat. Dalam upacara yang peling kecil ini, demikian juga untuk upacara kerja singuda, biasanya hewan yang disembelih cukup hanya binatang yang berkaki dua saja, yaitu ayam.
Selain jenis-jenis upacara tersebut dilakukan dengan melibatkan anggota masyarakat, dalam masyarakat Karo juga biasa juga dikenal erpangir secara pribadi-pribadi. Erpangir jenis ini biasanya karena seseorang mempunyai keahlian khusus dalam berbagai bidang, misalnya sebagai sierjabaten (pemusik tradisional), lit pemetehna (ahli dalam bidang pengobatan, meramal, dan sebagainya). Jenis erpangir seperti ini tidak melibatkan unsur orang banyak, tetapi tergantung kepada hubungan individu-individu dengan roh yang menyatu dengan dirinya. Biasanya ditandai dengan gerek atau pertanda, bahwa roh yang melekat dalam diri seseorang memintanya untuk melakukan mandi ritual tersebut. Lokasi dan tempatnya biasanya sudah dipahami oleh masing-masing individu yang mempunyai kecakapan khusus tentang itu. Hal seperti ini biasanya disampaikan juga lewat nipi (mimpi).

Gambar 11.
Upacara Singuda biasanya makan hanya dilakukan di tempat upacara saja,
yaitu di sungai tempat upacara tersebut dilaksanakan

Orang yang erpangir seperti ini biasa juga mandi ketika wari belah purnama raya, yaitu pada hari-hari ketika bulan purnama. Waktunya biasa dilakukan pada malam hari dan sendirian di sebuah sungai atau di tempat pemandian umum pada malam hari. Hal ini untuk menghindari proses erpangir tersebut agar tidak diganggu oleh orang lain.
Upacara-upacara jenis ini juga tidak terlalu membutuhkan perangkat perlengl\kapan upacara yang rumit dan banyak, karena biasanya jenis erpangir seperti ini lebih membina hubungan individu yang mempunyai keahlian tertentu tersebut dengan roh yang ada bersamanya sebagai pembimbing atau sebagai penjaga. Biasanya dilakukan erpangir dan ‘berdoa’ secara pribadi. Perlengkapan yang dibutuhkan adalah pangir berupa jeruk nipis, air dan minyak wangi. Erpangir jenis ini maknanya membersihkan diri dari hal-hal yang kotor yang dianggap tidak berkenan bagi roh pengikutnya yang dilakukan oleh individu tersebut selama ini. Jika tidak dilakukan pembersihan atau erpangir, maka diyakini roh-roh tersebut akan semakin jauh dan meninggalkan individu tersebut. Oleh sebab itu selalu perlu dilakukan upacara erpangir demikian agar roh tersebut dapat tetap hadir dalam dirinya.


Gambar 12
Makan setelah upacara berlangsung

3. Perlengkapan Upacara
Perlengkapan yang dibutuhkan untuk melakukan upacara ku lau adalah :
(1) lau (sungai)
Untuk melakukan upacara erpangir ku lau mutlak membutuhkan lau (sungai), karena bagi orang Karo pelaksanaan upacara ini harus di air yang mengalir. Air mengalir ini juga mempunyai makna membawa hal-hal yang tidak baik dalam tubuh seseorang. Sungai ini sendiri berbagai macam bentuknya, ada di sungai yang mengalir tunggal, ada di sungai yang membentuk beberapa anak sungai, dan ada juga yang dilakukan di sungai yang sudah dibangun menjadi tempat khusus sebagai tempat erpangir. Jenis sungai ini juga berdasarkan jenis erpangir yang akan dilakukan.
(2) pangir (air keramas ritual)
Bahan utama pangir ini biasanya adalah rimo mukur (jeruk purut) dan lau (air), dan bahan-bahan dedaunan khusus yang diambil dari hutan, serta minyak wangi. Minyak wangi yang digunakan biasanya adalah minyak wangi cap air mata duyung. Banyaknya air pangir ini tergantung berapa banyak yang hendak ipangiri atau yang mau dikeramasi secara ritual. Biasanya pangir ini ditaruh dalam mangkuk mbentar atau mangkok putih yang terbuat dari bahan porselen dengan ukurannya relative kecil saja. Kira-kira seukuran dengan mangkok bakso. Namun apabila yang hendak erpangir berjumlah banyak, maka jumlah jeruk purut dan air yang dibutuhkan juga cukup banyak, maka tempat pangir ini juga biasa ditaruh dalam ember atau sembong (sejenis tong).
(3) guru (pembimbing atau pemimpin ritual)
Dalam upacara ritual erpangir dalam ketegori jenis upacara yang besar sampaii kecil (kerja sintua, kerja sintengah dan kerja singuda) peran guru sangat penting hadir dalam upacara tersebut sebagai mediator sekaligus pembimbing jalannya upacara erpangir tersebut. Guru atau kadang juga disebut orang sebagai dukun atau tabib adalah orang yang mempunyai keahlian khusus untuk melakukan berbagai macam upacara ritual. Guru inilah yang kemudian berperan sebagai juru pangir atau yang memandikan atau mengkeramasi individu-individu yang terlibat dalam upacara tersebut. Guru diyakini dapat mengobati, menghilangkan hal-hal yang tidak berkenan (kotor), penyakit yang ada pada manusia, atau juga menabalkan seseorang menjadi guru juga. Guru seperti telah dijelaskan berbagai macam keahliannya, maka guru dalam upacara ini bias mempunyai beberapa keahlian sekaligus. Seorang guru sibaso, bias saja sekaligus mempunyai keahlian sebagai guru perdiwel-diwel dan sebagainya.
Dalam erpangir yang relative kecil, misalnya yang hanya dilakukan individu-individu saja, misalnya acara erpangir untuk membersihkan tubuh karena ada roh-roh tertentu yang berdiam dalam dirinya sebagai pelindung, misalnya begu jabu, maka kehadiran guru dalam acara erpangir tidaklah terlalu penting. Acara erpangir cukup dilakukan sendiri saja, karena dia sendiri telah mengerti apa permintaan roh-roh atau spirit yang ada dalam tubuhnya itu. Hal ini juga karena sebelumnya juga dia sudah melalui proses ipangiri oleh guru, sehingga dia juga dapat melakukan erpangir bagi dirinya sendiri.

Gambar 13.
Seorang Guru dengan pakaian lengkap beserta Tongkat Baka.

(4) Gendang Karo (musik)
Gendang Karo yang dimaksud disini adalah perangkat ensambel[14] musik yang dibutuhkan sebagai musik pengiring dalam pelaksanaan upacara tersebut. Orang Karo selalu menyebut yang terkait dengan musik dengan kata gendang. Oleh sebab itu pada masyarakat Karo kata gendang tersebut mempunyai makna jamak. Setidaknya ada lima pengertian gendang tersebut sesuai dengan konteksnya, yaitu: (1) gendang sebagai nama lagu: (2) gendang sebagai ensambel musik; (3) gendang sebagai instrument musik; (4) gendang sebagai repertoar; dan (5) gendang sebagai upacara. Gendang yang dimaksud dalam upacara erpangir ku lau adalah gendang sebagai ensambel musik. Ensambel musik yang digunakan dalam erpangir ku lau adalah gendang telu sedalanen, yaitu sering juga disebut dengan gendang kulcapi. Ensambel musik ini dimainkan oleh tiga orang pemain yang diberi gelar si erjabaten. Ensambel ini terdiri dari tiga buah instrument musik, yaitu (1) kulcapi (long neck lute) sebagai pembawa melodi, yaitu gitar tradisional Karo dengan senar dua buah dengan interval kwint; (2) keteng-keteng (idiokordofon: tube-zhyter), yaitu alat musik bersenar yang dipukul. Alat musik ini terbuat dari satu ruas bamboo betung, dan dari badan bamboo itu sendiri dibuat senar dua buah sebagai pengganti suara penganak (small gong) dan gung (gong); (3) mangkuk mbentar, yaitu mangkok putih yang dipukul sebagai pembawa tempo utama.
Disamping ensambel musik gendang telu sedalanen tersebut, sering juga digunakan gendang blobat. Prinsipnya sebenarnya sama saja dengan gendang kulcapi, hanya saja instrument sebagai pembawa melodi dalam ensambel ini adalah alat musik tiup berbentuk recorder yang disebut dengan balobat (end blown flute). Ensambel musik tersebutlah yang biasanya digunakan sebagai pengiring upacara erpangir ku lau.
Gambar 14.
Gendang Telu Sedalanen sebagai ensambel musik utama sebagai pengiring guru.[15]

(5) si man pangiren (orang yang diupacarakan).
Siman pangiren adalah orang yang hendak dikeramasi. Orang yang hendak dikeramasi ini adalah individu-individu atau kelompok-kelompok masyarakat yang ingin melakukan upcara ritual karena berbagai latar belakang. Namun tujuannya adalah pembersihan dari hal-hal yang kotor atau yang tidak diinginkan, supaya mendapat kemalemen ate.
(6) Belo cawir
Belo cawir adalah sebutan untuk sirih yang sempurna, dalam arti daun sirih yang paling bagus. Sirih yang disebut cawir adalah tidak mempunyai robekan di daunnya, tidak berwarna bintik-bintik hitam, tidak daun sirih muda, tetapi cukup ‘tua’. Sirih yang bagus juga, serat sisi belakang daunnya biasanya berwarna ke merah-merahan, apabila warnanya hijau, maka itu tidak dikategorikan sebagai sirih, tetapi disebut gatap. Selain itu daun sirih ini juga dilengkapi dengan perlengkapan lainnya yang merupakan satu kesatuan, yaitu mbako tabeh (tembakau), mayang (pinang yang sudah dibelah), kapur dan gamber (gambir). Kadang-kadang juga dibutuhkan rokok, rokok ini biasa sebagai persembahan kepada roh-roh yang diyakini dating di tempat upacara. Biasanya rokok tersebut dihisap oleh sang medium atau guru. Dan ini pertanda bahwa roh tersebut telah datang di tempat upacara. Sirih dan rokok seperti inilah yang dibutuhkan sebagai salah satu perlengkapan upacara erpangir ku lau. Orang yang mau dipangiri atau anggota kerabatnya juga biasanya memberikan belo cawir tersebut kepada sang guru untuk meminta tolong agar dibantu dan melaksanakan upacara erpangir tersebut.
(7) Cimpa
Cimpa adalah kue tradisional khas karo yang terbuat dari tepung ketan di campur dengan gula. Cimpa ini biasa sebagai makanan, namun juga dapat dijadikan sebagai persembahan kepada roh-roh tertentu.


4. Waktu dan Tempat Upacara
Untuk melakukan upacara erpangir ku lau, terlebih dahulu harus dirembukkan dengan guru si meteh wari telu puluh, yaitu dukun yang mengetahui hari yang baik dan buruk, yang mengetehaui kapan pelaksanaan upacara tersebut yang paling baik dilaksanakan sehingga hasilnya juga diharapkan baik. Pada masyarakat Karo hari yang baik untuk melakukan upacara erpangir dapat dilihat berdasarkan sistem penanggalan orang Karo sendiri (lihat lampiran). Tidak semua hari dapat dijadikan sebagai hari untuk melakukan upacara erpangir. Namun ada hari-hari tertentu yang diyakini sebagai hari yang baik untuk melakukan upacara erpangir (berkeramas). Masyarakat Karo mempunyai sistem penanggalan sendiri yang disebut wari-wari Karo. Dalam Sistem penanggalan ini satu tahun dibagi menjadi dua belas bulan, satu bulan (paka) dibagi tiga puluh hari, satu hari dikelompokkan lagi menjadi bagian-bagian terkecil lagi yang tidak hanya mengenal malam, pagi, siang, sore dan malam, namun lebih rinci dari jam per jam. Berdasarkan hari-hari yang ada, maka yang baik untuk melakukan upacara erpangir adalah :
(1) nggara si mbelin
(2) aditia turun
(3) beras pati tangkep
(4) cukera dudu (lau)
(5) belah purnama raya
(6) nggara enggo tula
(7) aditia turun
Ketujuh hari tersebutlah merupakan hari yang baik menurut kepercayaan sidekah sebagai hari yang baik untuk melakukan upacara erpangir ku lau.
Tempat upacara erpangir ku lau tergantung kepada jenis upacara itu sendiri. Jika upacara ini merupakan upacara kerja sintua, maka kegiatan erpangir sendiri biasanya dilaksanakan di sebuah sungai atau di sebuah tempat di luar kampung yang telah ditentukan, tetapi upacara selanjutnua biasanya diadakan di jambur (balai pertemuan) atau loosd yang berada di pemukiman penduduk.

Gambar 15
Loosd atau Jambur
sebagai tempat pelaksanaan upacara dalam skala besar (kerja sintua dan sintengah)[16]
Biasanya di setiap kampung atau desa di Tanah Karo mempunyai loosd atau jambur sebagai tempat pelaksanaan upacara adat. Jarang sekali upacara adat diadakan di rumah-rumah pribadi, tetapi ada kecenderungan diadakan di jambur atau gedung pertemuan.

Gambar 16.
Upacara diadakan di Jambur (Balai Pertemuan)[17]

Gambar 17.
Pakaian dalam upacara erpangir ku lau[18]


Gambar 18.
Bersiap untuk erpangir[19]
4. Peserta Upacara

Yang dimaksud peserta dalam kegiatan ini adalah orang-orang yang terlibat dalam upacara erpangir ku lau tersebut. Yang menjadi peserta tentunya adalah tergantung kepada jenis upacara yang dilakukan, besar kecilnya. Ini berdampak kepada siapa-siapa saja yang akan terlibat di dalamnya selain orang yang akan dipangiri. Jika upacara erpangir ku lau upacara kerja sintua maka seluruh kerabat dan orang-orang kampong biasanya akan ikut terlibat dalam kegiatan tersebut. Namun jika erpangir ku lau dalam skala yang relative kecil, misalnya kerja singuda maka biasanya yang terlibat hanya kerabat-kerabat dekat saja. Demikian juga jika erpangir dilakukan oleh individu-individu karena mempunyai silengguri, yaitu jinujung yang hubungannya lebih bersifat pribadi, maka pesertanya cukup individu yang mempunyai jinujung itu sendiri. Dan pelaksanaannya juga cukup singkat saja, bahkan lebih rahasia, dan tidak diketahui oleh masyarakat luas. Pelaksanaannya pun biasanya malam hari pada saat bulan purnama dan sebagainya.


Gambar 19
Kelihatan peserta upacara berjalan kaki menuju tempat upacara
Dilakukan dengan latar belakang gunung sibayak
yang diyakini sebagai tempat berdiamnya Beru Kertah Ernala.


6. Upah Guru

Dulu upah bagi guru yang memimpin upacara erpangir ini diberikan dalam bentuk barang, yaitu ayam kampung dan garam. Namun sekarang terjadi perubahan pengupahan dalam arti penghargaan yang diberikan kepada guru sebagai pemimpin, mediator, dalam pelaksanaan upacara tersebut. Pengupahan yang diberikan saat ini mengalami perubahan yaitu dalamn bentuk uang.

Erpangir Ku Lau dan Perubahan Sosial
Sejak masuknya agama Kristen ke Tanah Karo, yang dimulai pada 18 April 1890 oleh Misionaris NZG dari Belanda, yaitu Pdt. H. C. Kruyth dan pembantunya Nicolas Pontoh dari Tomohon, Sulawesi, maka lambat-laun orang Karo banyak yang memeluk agama Kristen. Upacara-upacara ritual tersebut lambat laun dilarang oleh pihak gereja, karena hal tersebut tidak sesuai dengan dogma atau ajaran Kristen. Meskipun demikian, upacara tersebut masih dapat terus bertahan hingga saat ini meskipun yang melaksanakan relative kecil.
Erpangir ku lau di Lau Debuk-Debuk misalnya sampai saat ini masih kerap kita temukan dilakukan. Yang melakukan upacara tersebut tidak hanya berasal dari desa-desa di sekitar tempat tersebut, tetapi juga dari desa-desa yang relative cukup ‘jauh’. Tidak hanya berasal dari orang-orang Karo yang tinggal di dataran tinggi Karo, tetapi juga dilakukan oleh orang-orang Karo yang tinggal di daerah dataran rendah seperti dari Medan, Kabupaten Deli Serdang dan Langkat. Saya tidak tahu apakah Lau Debuk-Debuk tersebut dapat dikatakan sebagai pusat kegiatan ritual upacara erpangir ku lau. Namun tahun 90-an, beberapa puluh guru Karo pernah melakukan upacara ritual besar di tempat ini.
Perkembangan teknologi juga membuat perubahan tidak hanya berpengaruh dalam pola pikir manusianya, tetapi dalam upacara erpangir ku lau juga berpengaruh dalam tindakan ekonomis dan manipulatif. Hal ini khususnya terjadi dalam ensambel musik pengiring. Jika sebuah upacara erpangir ku lau membutuhkan kehadiran pemain musik sebagai pengiring upacara, maka ada kalanya erpangir ku lau cukup hanya memutar kaset atau cd rekaman saja, dimana musik-musik yang dimainkan di kaset tersebut dapat dipilih sesuai dengan repertoar-repertoar[20] yang biasanya dipakai dalam upacara erpangir ku lau. Hal ini tentunya lebih mengirit biaya pelaksanaan upacara. Faktor-faktor lain yang mendorong hal ini terjadi, adalah juga disebabkan karena minimnya pemusik tradisional Karo. Menurut data dari sebuah majalah local di Karo menyebutkan jumlah seniman tradisional Karo pada tahun 2005 tidak lebih dari 100 orang.[21] Pengunaan rekaman tersebut sebenarnya memang tidak hanya semata-mata karena alas an ekonomis, tetapi juga karena tidak banyak lagi orang Karo yang berprofesi sebagai sierjabaten.
Fenomena lain lagi, penggunaan alat musik modern seperti organ tunggal juga sangat berpengaruh dalam upacara ini, khususnya setelah alat musik kibot (kibor, organ tunggal) masuk dalam pertunjukan kesenian Karo pada tahun 1988. Meskipun pada awalnya alat musik tersebut terjadi pertentangan dalam masyarakat Karo, namun sampai saat ini keberadaannya malah semakin mengukuhkan diri. Dan alat musik tersebut malah dikenal sebagai kibot Karo. Nama ini tidak diberikan oleh orang Karo sendiri, tetapi oleh suku-suku di luar Karo din sumatera Utara yang juga tertarik dengan keberadaan alat musik tersebut. Alat musik ini dapat deprogram sedemikian rupa, sehingga bunyi yang dihasilkan dapat mirip sekali dengan bunyi alat musik tradisional, yaitu gendang telu sedalanen.
Dalam upacara mere suan sinta pada sub-klen Sembiring Kembaren, misalnya alat musik ini sudah pernah digunakan dalam sebuah upacara pada tahun 1995 di daerah Tiga Juhar, Deli Serdang. Perubahan-perubahan yang terjadi dapat kita lihat dalam bentuk fisik. Misalnya penggunaan instrument, pengupahan (honour) bagi guru, pemusik, dan sebagainya. Namun dalam bentuk pola pikir tentang konsep erpangir pada penganutnya tidak ada perubahan yang progresif. Erpangir masih tetap dilakukan dalam konteks dan makna yang tidak jauh berubah dari ‘aslinya’.
















Bahan Bacaan


Biro Pusat Statistik
1990 Hasil Sensus Penduduk 1990

Foster, Anderson
1986 Antropologi Kesehatan, Jakarta: UI Press.

Geertz, Clifford
1983 Abangan, Santri dan Priyayi, dalam Masyarakat Jawa, Jakarta: Pustaka Jaya.

Ginting, Juara R.
1986 Pandangan Tentang Gangguan Jiwa dan Penanggulangannya Secara Tradisional
pada Masyarakat Karo, Medan: Skripsi Sarjana FISIP USU.

Limbeng, Julianus
2001 “Sengget dan Fungsinya pada Masyarakat Karo” dalam Harian Pelita, Jakarta.

Mawardi, R dan Iman K.S.,
1999 Laporan Kegiatan Inventarisasi Potensi Wisata Gunungapi Sibayak
Tanah Karo, Sumatera Utara.

Moderamen GBKP
2006 Bimbingen Perpulungen Jabu-Jabu, Kabanjahe: Moderamen GBKP.

Sembiring, Sri Alem
2002 Guru (Tabib) dalam Masyarakat Karo: Kajian Antropologi mengenai Konsep Orang
Karo tentang Guru dan Kosmos (Alam Semesta), Medan: FISIP
USU.

Sinuraya, R,
1983Laporan Monitoring G.Sibayak, Kab. Karo, Kantor Wilayah Pertambangan dan
Energi, Prop. Sumatera Utara.

Steedly, Mary Margaret,
1993. Hanging Without a Rope: Narrative Experience in Colonial and
postcolonial Karoland, USA: Princeton Studies in Culture.

Takari, Muhammad.
2004 “Masyarakat Karo dan Seni Pertunjukannya”, dalam Harian Waspada, 24 Pebruari
2004.

http://www.bps.go.id/
http://www.takasima.web.com/
http://www.tanahkaro.com/
http://www.lalitpal.org/
http://www.sinarharapan.co.id/
http://www.rri-online.com/
http://www.sitopsi.net/
http://www.kotamedan.com/






























LAMPIRAN 1

WARI SI TELU PULUH

Orang Karo mempunyai nama-nama penanggalan hari dan bulan serta pembagian waktu, demikian juga nama-nama dari mata-angin Satu tahun dihitung 12 bulan, dan 1 bulan dihitung 30 hari

Adapun nama-nama bulan dan binatang atau benda apa yang bersamaan dengan bulan bersangkutan adalah sebagai berikut:
Bulan Sipaka sada
merupakan bulan kambing
Bulan Sipaka dua
merupakan bulan lampu
Bulan Sipaka telu
merupakan bulan gaya (cacing)
Bulan Sipaka empat
merupakan bulan katak
Bulan Sipaka lima
merupakan bulan arimo (harimau)
Bulan Sipaka enem
merupakan bulan kuliki (elang)
Bulan Sipaka pitu
merupakan bulan kayu
Bulan Sipaka waluh
merupakan bulan tambak (kolam)
Bulan Sipaka siwah
merupakan bulan gayo (kepiting)
Bulan Sipaka sepuluh
merupakan bulan belobat (baluat)
Bulan Sipaka sepuluh sada
merupakan bulan batu
Bulan Sipaka sepuluh dua
merupakan bulan nurung (ikan)


Nama-nama hari pada suku Karo apabila diperhatikan banyak miripnya dengan kata-kata Sansekerta. Setiap hari dari penanggalan itu mempunyai makna atau pengerian tertentu. Oleh karena itu apabila seseorang hendak merencanakan sesuatu, misalnya keberangkatan ke tempat jauh, berperang ke medan laga, memasuki rumah baru dan berbagai kegiatan lainnya. selalu dilihat harinya yang dianggap paling cocok. Disinilah besarnya peranan "guru sibeloh niktik wari" (datu yang pintar melihat hari dan bulan yang baik dan serasi), yang dengan perhitungannya secara seksama, ia menyarankan agar suatu acara yang direncanakan dilakukan pada hari X.
Adapun nama yang 30 dalam satu bulan adalah sebagai berikut :
1
ADITIA
Wari medalit, baik untuk memulai sesuati, rapat adat (runggu) dan sebagainya.
2
SUMA
Wari sidua nahe, yaitu hari dua kaki, hari manusia dan ayam (manuk). Hari ini kurang baik untuk menggali lobang, tetapi baik untuk melakukan kegiatan berburu, memancing, menjala, dan memikat binatang.
3
NGGARA
Wari merawa/merampek, yaitu hari baik untuk perang, membalikkan guna-guna (ngulak), membuang sial, membuat obat-obatan, berburu, merambah hutan.
4
BUDAHA
Wari si empat nahe, hari bagi yang berkaki empat. Hari ini adalah hari padi, baik untuk menanam padi di ladang dan sawah, memasukkan padi ke lumbung, memulai musim tanam, juga baik untuk melakukan pesta.
5
BERAS PATI
Wari medalit, yaitu hari licin. Hari ini baik untuk pesta, memulai membangun rumah, meresmikan rumah, memulai usaha baru (berdagang), melamar pekerjaan, dan pantang bersitegang.
6
CUKRA ENEM BERNGI
Wari pembukui, wari salang sai, yaitu hari yang baik untuk berangkat merantau (erlajang), menyebrang lautan (berkat ngepar lawit), melamar pekerjaan (ngelamar dahin), menghadap orang penting (ngadap man simbelin), memulai usaha baru (mulai erbinaga). Upacara perkawinan, pesta musik, melamar gadis.
7
BELAH NAIK
Wari pengguntur, wari Raja, adil berkat usur jumpa teman, hari yang baik menikah (nangkih), melamar pekerjaan (ngelamar dahin), mukul, upacara ngaleng tendi, erpangir karena terpenuhi seperti yang dicita-citakan (enggo seh sura-sura), semua pesta baik jika menggunakan alat musik.
8
ADITIA NAIK
Wari mehuli, yaitu hari baik. Semua baik untuk pesta, rapat adat, pesta musik, berkeramas ke sungai (ritual), pesta perkawinan, meresmikan rumah baru, membuka usaha baru, warung, melamar perempuan, rekonsiliasi (purpur sage), membeli barang upah tendi.
9
SUMANA SIWAH
Wari kurang ulina, yaitu hari yang kurang baik. Harus hati-hati dalam bertindak. Baik hanya berburu.
10
NGGARA SEPULUH
Wari melas, yaitu hari panas. Hati-hati berbicara, jangan bersitegang, hati-hati dengan api, baik membuat obat-obatan, perang, membalikkan guna-guna orang, memulai pekerjaan baru, buang sial, pesta kawin, main musik, meresmikan rumah baru, hari panas baik untuk mengambil tulang belulang nenek moyang.
11
BUDAHA NGADEP
Wari salang sai, wari mehuli, yaitu baik untuk pesta, rapat adat, menjenguk kerabat, melamar pekerjaan, perkawinan, pesta dengan musik.
12
BERAS PATI TANGKEP
Wari simehuli, mehuli njumpai simbelin/sierpangkat, ngelamar pendahin, perumah-rumahken,erpangir rimo, kerja-kerja mindo rejeki, nereh-empo, ersembah man Dibata.
13
CUKERA DUDU (LAU)
Wari mehuli, nereh-empo, nuan galuh lape-lape tendi, ngeluncang, ndahi orang tua/kalimbubu, mengket rumah,erpangir ku lau.
14
BELAH PURNAMA RAYA
Wari Raja, kerja-kerja mbelin, kerja kalak si erjabaten, erpangir ku lau /nguras, ngeluncang, guro-guro aron, nunggahken lau meciho, naruhken anak ku kalimbubu.
15
TULA
Wari sial, mekisat kalak kerja-kerja ibas wari si e, simehuli ngerabi, nuan tualah.
16
SUMA CEPIK
Wari la mehuli, adi lit urak bilangan man bahanen bulung-bulung simalem-malem, simehuli: erburu, nogeng siding, ngkawil, njala.
17
NGGARA ENGGO TULA
Mehuli buang sial, erbahan tambar, muro kengalen, erpangir selamsam.
18
BUDAHA GOK
Wari page mbuah, mulai mutik, mere page, mena nuan, nama page ku keben, mulai muat page i keben, ngerik, numbun page, wari kurang ulina.
19
BERAS PATI
Menaken rabin, nabah kayu rumah, ngkawil, erbahan sapo juma.
20
CUKRA SI 20
Mehuli erbahan tambar, mengket rumah, nampeken tulan-tulan erkata ghendang, mehuli berkat gawah, perumah-rumahken.
21
BELAH TURUN
Buang sial, ncibali siding, ngekawil, erburu, ngaci.
22
ADITIA TURUN
Erbahan tambar, erpangir kengalen, buang sial, erburu, ngkawil, ngulakken pinakit, turun ku lawit.
23
SUMANA MATE
Mehuli erbahan togeng-togengen darat tah i lau, ncibali siding, erburu rubia-rubia.
24
NGGARA SIMBELIN
Mehuli erbahan tambar, erpangir buang sial/pinakit, ertoto man Dibata kerna si mehuli.
25
BUDAHA MEDEM
Wari sinuan-nuan, nuan-nuan, kujuma, mere page, muti, muat page ku keben, ngerik, berkat erdalan.
26
BERAS PATI MEDEM
Wari si malem-malem, mere nakan man orang tua, ndahi kalimbubu, kerja nereh empo, erbahan tambar.
27
CUKRANA MATE
Buang sial, erbahan tambar, erburu, engkawil, ngerabi.
28
MATE BULAN
Ngulak, buang sial, nubus semangat, erburu, ngkawil turun ku lawit.
29
DALAN BULAN
Wari kurang ulina, simehuli tupuk.
30
SAMI SARA
Nutup Kerja, numbuki aron, pupursage, ertoto man Dibata, man nini-nini, nendungi guru.


[1] Gendang telu sedalanen adalah salah satu ensambel musik yang terdapat pada masyarakat Karo. alat musik ini terdiri dari tiga buah alat musik yang dimainkan secara bersamaan, yaitu kulcapi (long neck lute) sebagai pembawa melodi, keteng-keteng (tube zhyter) yang terbuat dari bambu, merupakan alat musik perkuci yang mempunyai senar dua buah, serta mangkuk mbentar, yaitu mangkuk berwarna putih yang biasa digunakan sebagai tempat air untuk berkeramas dalam upacara ritual.

[2] Sierjabaten adalah sebutan untuk pemusik profesional Karo.
[3] dokumentasi J. Limbeng, Juli 2006.
[4] Sumber: http://www.sinarharapan.co.id/, diakses tgl. 19 Juli 2006.
[5] Lihat: Steedly (1993:72).
[6] Hasil Sensus Penduduk 1990 (Jakarta: Biro Pusat Statistik 1990).
[7] P. Tambun (1952), Adat Istiadat Karo, Jakarta: Balai Pustaka, hal. 136.
[8][8] Lihat : Sri Alem Sembiring (2005:2).
[9] Penegasan mengenai ritual yang ditujukan untuk mencapai ‘equiliobrium’ dalam masyarakat dapat dilihat dalam tulisan Geertz (1983).
[10] Guru adalah terminologi umum bagi orang Karo untuk menyebut seseorang yang berperan sebagai tabib. Beberapa orang Karo lainnya mensinonimkan kata guru dengan kata dukun (Sri Alem, 2002).
[11] Upacara tradisional dapat didefenisikan sebagaiupacara yang diselenggarakan oleh warga masyarakat sejak dahulu sampai sekarang dalam bentuk tata cara yang relaif tetap. Pendukungan terhadap upacara itu dilakukan masyarkat karena dirasakan dapat memenuhi suatu kebutuhan, baik secara individual maupun kelompok bagi kehidupan mereka (Dept.P&K RI (1985:1).
[12] Konsep Begu sendiri tidak persis sama dengan hantu, karena begu itu sendiri dimaknai sebagai roh orang yang sudah meninggal dunia. Disini menyiratkan perbedaan jika orangnya masih hidup disebut tendi tetapi jika sudah meninggal maka disebut dengan begu. Perwujudan lengkapnya seperti apa, bagaimana hubungannya dengan mahkluk hidup lain setelah meninggal dunia kita tidak tahu.
[13] Sumber: Steedly (1993:9).
[14] Ensambel musik adalah, perangkat alat musik yang terdiri dari beberapa buah instrument musik yang dimainkan bersama dalam waktu bersama dengan pola-pola hubungan masing-masing mempunyai peran tertentu.
[15] Dokumentasi Ropong Tarigan Sibero, Berastagi Tanah Karo.
[16] Dokumentasi J. Limbeng, Tanah Karo, Juli 2006.
[17] Dokumentasi J. Limbeng, Tanah Karo, Juli 2006.
[18] Sumber: Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Kabupaten Karo, Jl. Gundaling No. 1 Berastagi.

[19] Dokumentasi Bpk. Ropong Tarigan Sibero, Berastagi, Tanah Karo.
[20] Repertoar adalah kumpulan beberapa buah lagu yang berangkai atau dimainkan secara berurutan.
[21] Laporan Maja Bukit dalam Malah Sibayak, 2005.

About Me

My Photo
Bekasi, Jawa Barat, Indonesia
Etnomusikolog